Lintasan Sejarah 12 Januari 2017
Hari ini, Kamis tanggal 12 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 13 Rabiul Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 23 Dey 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Hisyam Wafat
1220 tahun yang lalu, tanggal 13 Rabiul Tsani 218 HQ, Abu Muhamad Abdul Malik bin Hisyam, lebih dikenal dengan nama Ibnu Hisyam, seorang sejarawan muslim terkenal meninggal dunia.
Ibnu Hisyam lahir di kota Bashrah, Irak selatan. Sebagian besar usianya dihabiskan untuk mempelajari kehidupan Rasulullah Saw.
Meskipun Ibnu Hisyam memiliki keahlian lain di bidang satra dan bahasa Arab,akan tetapi ia lebih dikenal sebagai seorang sejarawan. Buku paling terkenalnya berjudul "as-Sirah an-Nabawiah". Akan tetapi, kitab itu kemudian lebih dikenal dengan nama "Sirah Ibnu Hisyam". Kitab tersebut hingga kini tercatat sebagai salah satu literatur utama buku-buku sejarah Islam.
Mu'izzud-daulah Meninggal Dunia
1082 tahun yang lalu, tanggal 13 Rabiul Tsani 356 HQ, Abul Hasan Ahmad bin Buyah, terkenal dengan nama Mu'izzud-daulah Dailami meninggal dunia di kota Baghdad.
Mu'izzud-daulah adalah salah seorang diantara tiga bersaudara keluarga Alu Buyah yang berhasil menaklukan kota Baghdad. Al-Mustakfi, khalifah Daulah Abbasiah yang saat itu berkuasa di Irak berhasil ditaklukkan oleh Mu'izzud-daulah.
Warga Baghdad yang sebelumnya berada dalam situasi represif pemerintahan Al-Mustakfi mendapatkan kenyamanan pemerintahan Mu'izzud-daulah selama 2 tahun. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat memperhatikan masalah budaya dan keilmuan. Di bawah pimpinan Mu'izzud-daulah, Baghdad mengalami perkembangan peradaban yang cukup pesat. Bagi para pengikut mazhab Ahlul Bait, pemerintahan Mu'izzud-daulah dikenang sebagai masa pesatnya pertumbuhan keilmuan mazhab keluarga suci Nabi Muhammad Saw ini.
Sultan Hasanudin Lahir di Makasar
386 tahun yang lalu, tanggal 12 Januari 1631 Sultan Hasanuddin lahir di Makasar, Sulawesi Selatan. Ia adalah Raja Gowa ke-16.
Terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja.
Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.
Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.
Dewan Kerajaan Iran Dibentuk
38 tahun yang lalu, tanggal 23 Dey 1357 HS, Raja Iran, Shah Pahlevi, memerintahkan didirikannya Dewan Kerajaan untuk meredam gelombang demontsrasi di Iran.
Dewan Kerajaan ini bertugas untuk memindahkan kekuasaan dari Shah ke anaknya. Dengan cara itu, Shah berharap, perlawanan rakyat terhadap dirinya dapat berhenti. Namun, rakyat Iran menyadari taktik raja mereka yang despotik itu dan tetap menyuarakan dukungan mereka kepada Imam Khomeini.
Pada hari yang sama, Imam Khomeini yang saat itu tengah berada di pengasingannya di Paris, mengumumkan bahwa pemerintahan baru revolusioner akan segera dibentuk.
Menyusul pengumuman Imam Khomeini tersebut, ketua Dewan Kerajaan, Jalaluddin Tehrani berangkat ke Paris untuk menemui Imam Khomeini. Namun, Imam menyatakan hanya bersedia menerima Jalaluddin Tehrani dengan dua syarat, yaitu: Tehrani mundur dari Dewan Kerajaan dan mengeluarkan pernyataan bahwa Dewan tersebut ilegal. Tehrani menerima syarat dari Imam Khomeini dan dengan demikian bubarlah Dewan Kerajaan tersebut.
Seminar Revolusi di Universitas Teheran
38 tahun yang lalu, Tanggal 23 Dey 1357 HS, berlangsung sebuah seminar revolusioner di Universitas Teheran yang diadakan oleh mahasiswa dan warga kota Teheran.
Dari seminar tersebut, tergambar aspirasi generasi muda dan mahasiswa Iran yang menentang pemerintahan diktatoris Shah dan menginginkan dipulangkannya Imam Khomeini dari penggasingannya. Saat berlangsungnya seminar, pasukan keamanan rezim Shah mengepung kampus Universitas. Dalam pesannya menanggapi seminar tersebut, Imam Khomeini dari Paris mengatakan:
"Atas dasar tanggung jawab agama, saya mengingatkan bangsa Iran yang terhormat, serta semua lembaga pemerintahan dan sosial di Iran, agar menjauhi perpecahan dan bersikap waspada dalam menghadapi konspirasi musuh-musuh Revolusi Islam."