Lintasan Sejarah 14 Januari 2017
Hari ini, Sabtu tanggal 14 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 15 Rabiul Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 25 Dey 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Bagdadi Meninggal Dunia
1050 tahun yang lalu, tanggal 15 Rabiul Tsani 388 HQ, Abu Ali Muhammad bin Muzhaffar yang terkenal dengan julukan Hatimi atau Bagdadi, seorang ahli bahasa, sastrawan, dan cendikiawan Islam, meninggal dunia.
Hatimi mempelajari ilmu sastra dan bahasa dari Ibnu Duraid dan Abu Amar. Setelah menguasai ilmu-ilmu tersebut, Hatimi kemudian mengajar di kota Bagdad. Kelas Hatimi banyak didatangi murid-mudrid, di antaranya Hakim Tanukhi dan ulama-ulama besar lainnya pada zaman itu.
Hatimi meninggalkan banyak karya penulisan, di antaranya buku berjudul "Hatimiyah" yang berisi kritik dan pembahasan atas kesalahan dalam syair-syair penyair pada masa itu.
Aminul Islam Meninggal Dunia
886 tahun yang lalu, tanggal 15 Rabiul Tsani 552 HQ, Fadhl bin Hasan Thabarsi, yang lebih dikenal dengan nama Aminullah, seorang ulama, ahli hadits, dan ahli tafsir besar, meninggal dunia.
Thabarsi memiliki kedudukan tinggi dan dihormati oleh kaum muslimin pada zamannya. Aminullah banyak memiliki murid di antranya, Qutbu-Rawandi, penulis kitab "Syarah Nahjul Balaghah" yang terkenal.
Thabarsi juga merupakan hakim yang adil pada zaman itu. Karya Thabarsi yang terpenting berjudul "Majma'ul Bayan" yang merupakan kitab tafsir Al-Quran yang terdiri dari 10 jilid . Setelah menyusun kitab tersebut, Thabarsi juga menyusun kitab tafsir lainnya berjudul Jawami'ul Jami. Karena ketelitiannya dalam menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat dan penafsiran atasnya, kitab ini sangat diterima luas oleh ulama-ulama Islam.
Albert Scheitzer Lahir
142 tahun yang lalu, tanggal 14 Januari 1875, Albert Schweitzer, seorang teolog, dokter, dan musisi Perancis, terlahir ke dunia.
Schweitzer awalnya mempelajari teologi dan meraih gelar doktor di bidang filsafat. Ia kemudian menjadi pendeta di Gereja St. Nicholas di Strasbourg. Sementara itu, Schweitzer juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menjadi pemusik profesional.
Dari bermain musik, Schweitzer mendapatkan uang untuk meneruskan sekolah di bidang kedokteran dan mendirikan rumah sakit di Afrika. Schweitzer mulai menuntut ilmu di bidang kedokteran pada tahun 1905, ketika ia memutuskan untuk pergi ke Afrika sebagai dokter, bukan sebagai pastor. Pada tahun 1913, Schweitzer mendirikan rumah sakit di Lambarene, Afrika dan menghabiskan usianya untuk menjadi dokter, ahli bedah, pastor, administrator, penulis, dan musisi di rumah sakit itu.
Pada tahun 1952, Schweitzer mendapat hadiah Nobel di bidang perdamaian. Uang hadiah Nobel itu digunakannya untuk membangun rumah sakit khusus penderita lepra di Lambarene.
Ayatullah Mohammad Ali Haqqi Sarabi Wafat
18 tahun yang lalu, tanggal 25 Dey 1377 HS Ayatullah Mohammad Ali Haqqi meninggal dunia di usia 70 tahun di kota Qom dan dikebumikan di pekuburan Sheikan di kota ini.
Ayatullah Haj Sheikh Mohammad Ali Haqqi Sarabi lahir ke dunia dari keluarga ulama sekitar tahun 1307 HS di kota Sarab, Azerbaijan Timur. Beliau mempelajari mukaddimah ilmu-ilmu agama dan tingkat menengah di kota Tabriz dan Qom. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di kota Najaf. Di sana beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Ayatullah Sayid Mahmoud Shahroudi, Sayid Muhsin al-Hakim dan Sayid Abu al-Qasim al-Khu’i.
Ayatullah Haqqi setelah itu kembali ke kota Sarab dan beberapa waktu tinggal di sana, beliau pergi ke Qom dan ikut belajar fiqih dan ushul fiqih untuk tingkat mujtahid dari Ayatullah Boroujerdi dan Imam Khomeini ra. Padahal, beliau telah mendapat ijazah ijtihad dari Ayatullah Muhsin al-Hakim, Sayid Mahmoud Shahroudi, Sayid Abu al-Qasim al-Khu’i dan Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i. Di Qom, beliau mengajar dan sibuk menulis dan setelah itu lebih fokus di salah satu masjid terkenal Tehran.
Di dekat masjid Jami Imam Husein as Tehran, Ayatullah Haqqi membangun hauzah ilmiah. Di tahun-tahun pertama Revolusi Islam, beliau mewakafkan diri dan masjid untuk memajukan tujuan kebangkitan Islam dan memimpin gerakan anti rezim Shah. Pasca kemenangan Revolusi Islam beliau pernah menjadi anggota parlemen Iran dari kota Sarab dan anggota Dewan Ahli Kepimpinan dari provinsi Azerbaijan Timur.
Sebagian karya beliau adalah Risalah fi al-Adalah, Risalah fi I’jaz al-Quran, Syarh Dua al-Iftitah dan tagsir sejumlah surat al-Quran dalam empat jilid.