Lintasan Sejarah 19 Januari 2017
Hari ini, Kamis tanggal 19 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 20 Rabiul Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 30 Dey 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Haji Luthf-ali Beik Lahir
304 tahun yang lalu, tanggal 20 Rabiul Tsani 1134 HQ, Haji Luthf-ali Beik Azar Bigdili, seorang penyair dan sastrawan Iran, terlahir ke dunia di kota Isfahan.
Selama beberapa tahun, Haji Luthf-ali Beik tinggal di kota Qom dan Shiraz, dan akhirnya kembali menetap di Isfahan.
Haji Luthf-ali Beik hidup di saat terjadi peperangan di Iran, namun ia tetap tekun menuntut ilmu-ilmu dari para ulama, penyair, dan orang-orang alim pada zaman itu.
Karya-karya yang ditinggalkan Haji Luthf-ali Beik diantaranya adalah buku kumpulan syair dan buku berjudul Atashkadeh Azar yang berisi biografi para penyair pada zamannya dan zaman sebelumnya.
Federico Felini Lahir
97 tahun yang lalu, tanggal 19 Januari 1920, Federico Felini, seorang sinematografer terkenal Itali, terlahir ke dunia di kota Rimini.
Felini memulai karirnya dengan bermain teater dan mulai terjun ke dunia perfilman pada tahun 1939. Kemajuan besar dalam karirnya dimulai ketika ia membuat naskah film "Roma, Citta Aperta" yang menjadi cikal bakal film beraliran neorealisme di Italia.
Pada tahun 1950, Felini mulai menyutradarai sendiri naskah filmnya yang juga beraliran neorealisme. Karya Felini yang terpenting dan tercatat dalam sejarah perfilman berjudul "La Dolce Vita" yang memenangkan festival film Cannes.
Ayatullah Syaikh Hasyim Qazwini Wafat
57 tahun yang lalu, tanggal 20 Raibiul Tsani 1381 HQ Ayatullah Syaikh Hasyim Qazwini meninggal dunia.
Ayatullah Hasyim Qazwini merupakan ulama dan pemikir yang hidupnya sederhana. Beliau mempelajari ilmu-ilmu pendahuluan hauzah ilmiah di kota kota Qazvin dan melanjutkan pendidikannya di kota Isfahan. Pada usia 30 tahun, beliau belajar kepada ulama besar seperti Agha Hossein Qommi dan Haj Mirza Mohammad Agha Zadeh Khorasani.
Dengan keluasan ilmunya, beliau setiap tahun di hari-hari bulan Ramadhan melakukan dakwah di desa terpencil dan mendidik mereka.
Ayatullah Hasyim Qazwini merupakan ulama besar kota Mashad dan termasuk ulama yang meyakini harus mengangkat senjata melawan rezim Pahlevi. Beliau sendiri terlibat aktif dalam kebangkitan warga Mashad di masji Gouharshad.
Nezam Vafa Kashani, Penyair Iran Wafat
52 tahun yang lalu, tanggal 30 Dey 1343 HS, Nezam Vafa, penyair Iran meninggal dunia di Tehran pada dalam usia 77 tahun akibat stroke yang dideritanya.
Nezam Vafa Kashani lahir sekitar tahun 1266 Hs, dari orang tua penyair dan ahli sastra di Bidgel, Kashan. Ia mempelajari ilmu sastra baik Arab maupun Persia dan filsafat di tempat kelahirannya dan setelah itu belajar di Qom dan kemudian Najaf. Ia mempelajari bahasa Perancis di Tehran.
Peristiwa Revolusi Konstitusi membuat Nezam Vafa mengenal politik dan setelah menanggung siksaan di penjara, ia mengajar di Tehran. Penulis dan penyair kontemporer ini pada 1302 HS dengan bekerjasama dengan teman-temannya menerbitkan majalan bulanan Vafa.
Nezam Vafa banyak meninggalkan karya tulis seperti Hadis-e Del, Gozashteh-ha, Divan dar Nezam, Foroug va Forouz dan prosa berjudul Farzaneh.
Imam Khomeini Memastikan Diri Akan Kembali ke Iran
38 tahun yang lalu, tanggal 30 Dey 1357 HS, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini mengumumkan tekad bulatnya untuk kembali ke Iran dari pengasingannya di Paris.
Berita ini langsung tersebar ke seluruh penjuru Iran dan disambut dengan suka cita oleh rakyat Iran yang sudah lama muak diperintah oleh rezim diktator Shah Pahlevi. Di mana-mana, rakyat sudah mulai membicarakan tata cara penyambutan atas kepulangan pemimpin agung mereka.
Di sisi lain, antek-antek Shah adalah pihak yang paling gelisah dan cemas dengan keputusan kembalinya Imam ke Iran ini. Sebagian memutuskan untuk mengundurkan diri, sebagiannya lagi memutuskan untuk menyingkir ke luar negeri.
Ada pula pihak-pihak tertentu yang tetap meneruskan aksi-aksi represifnya terhadap rakyat Iran. Akan tetapi, apapun tindakan yang diambil oleh antek-antek kerajaan, tidak ada satupun yang mampu menghalangi gelombang dahsyat Revolusi Islam Iran.