Jan 21, 2017 07:47 Asia/Jakarta

Hari ini, Sabtu tanggal 21 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 22 Rabiul Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 2 Bahman 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Mulla Muhammad Muhsin Faidh Kashani Wafat

 

347 tahun yang lalu, tanggal 22 Rabiul Tsani 1091 HQ, Muhammad bin Shah Murtadha yang biasa dipanggil Muhsin, tapi lebih dikenal dengan nama Mulla Muhsin Faidh Kashani meninggal dunia dalam usia 84 tahun. Beliau dimakamkan di sebuah tempat yang kemudian menjadi pekuburan Faidh.

 

Mulla Muhsin Faidh Kashani lahir pada 1007 HQ di kota Kashan. Beliau mempelajari ilmu-ilmu pengantar keagamaannya di kota kelahirannyan dan sejak remaja ia pergi ke Isfahan untuk menuntut ilmu. Beliau sempat belajar kepada ulama besar di masanya seperti Allamah Muhammad Taqi Majlisi, Sheikh Bahai, Mir Damad, Mir Fandareski dan Mulla Sadra Shirazi.

 

Ketika Mulla Sadra tinggal di desa Kahak, Qom, Mulla Muhsin tinggal bersamanya dan kemudian menikahi anak gadis Mulla Sadra dan kemudia ia dipanggil dengan Faidh. Beberapa tahun kemudian ia kembali ke kampong halamannya Kashan dan sibuk mengajar dan menulis buku. Alamul Huda dan Muin ad-Din, anak saudaranya, Dhiya ad-Din Muhammad dan puluhan ulama lainnya tumbuh dalam didikannya.

 

Selama 65 tahun beliau menyibukkan diri dengan meneliti dan belajar, sehingga menghasilkan sekitar 200 buku dan risalah dalam pelbagai disiplin ilmu. Tafsir Shafi, Asfha dan Mushaffa merupakan buku tafsirnya, sementara al-Wafi, as-Syafi dan al-Mahajjah al-Baidha serta puluhan buku lainnya ditulis terkait irfan, hadis, teologi, sastra dan lain-lain. Semua ini menunjukkan keluasan ilmunya.

 

Agha Najafi Lahir

 

176 tahun yang lalu, tanggal 22 Rabiul Tsani 1262 HQ, Syeikh Muhammad Taqi Razi, yang terkenal dengan nama Agha Najafi, seorang ulama besar Iran, terlahir ke dunia di kota Isfahan.

 

Agha Najafi menuntut ilmu-ilmu pendahuluan dari ayahnya dan kemudian melanjutkan pendidikan ke hauzah ilmiah di kota Najaf, Irak. Di Najaf, Agha Najafi menimba ilmu  dari ulama-ulama besar zaman itu, seperti Mirza Muhammad Hasan Shirazi dan Syaikh Mahdi Kashiful Githa'.

 

Ketika kembali ke tanah kelahirannya, Agha Najafi menajdi ulama yang amat berpengaruh dalam masayarakat. Ia juga aktif dalam menulis di antyaranya Al Ijtihad wat-Taklid dan Anwarul Arifin.

 

Abolqassem Arif Qazvini Penyair Iran Wafat

 

83 tahun yang lalu, tanggal 2 Bahman 1312 HS, Abolqassem Arif Qazvini, penyair Iran meninggal dunia.

 

Abolqassem Qazvini yang lebih dikenal dengan Arif lahir sekitar tahun 1262 Hs di kota Qazvin. Ia menyelesaikan pendidikannya di tempat kelahirannya. Arif sangat perhatian dengan kaligrafi dan musik.

 

Selain itu, Arif juga membuat syair dan membacanya. Sekalipun syair Qazvini memiliki kelemahan dari sisi sastra dan teknik kepenyairan, tapi yang membuatnya popular adalah menggunakan bahasa masyarakat dalam syairnya. Ia tidak menggunakan bahasa syair untuk memuji atau melayani para penguasa, tapi hanya untuk rakyat.

 

Pembacaan puisi lokal di Revolusi Konstitusi merupakan ciri khas puisi Qazvini, sehingga menambah semangat para penuntut keadilan di masa itu. Oleh karenanya, syair-syairnya dikenal secara nasional dan di masa-masa tertentu dibacakan oleh bangsa Iran dan menciptakan solidaritas di antara mereka.

 

Imam Khomeini Tolak Referendum Sandiwara Shah Pahlevi
 

54 tahun yang lalu, tanggal 2 Bahman 1341 HS, Imam Khomeini ra menolak referendum sandiwara Shah Pahlevi.


Setelah diumumkannya enam draf dari Shah Pahlevi sebagai Revolusi Putih dan penentuan tanggal 6 Bahman 1341 HS sebagai hari pelaksanaan referendum, Imam Khomeini ra dalam jawabannya pada 2 Bahman 1341 HS, atas permintaan fatwa oleh sekelompok masyarakat Iran menyatakan penentangannya terhadap referendum dan menyebutnya bertentangan dengan syariat Islam dan Undang Undang Dasar Iran.

Shah pada tanggal 19 Dey 1341 HS mengeluarkan rancangan undang-undang yang berisikan reformasi tanah, nasionalisasi hutan, penjualan saham pabrik-pabrik pemerintah, para buruh mendapat keuntungan yang didapat pabrik-pabrik, perbaikan undang-undang pemilu dan membentuk tentara ilmu dan meminta diadakan referendum terkait draf ini.

Namun Imam Khomeini ra dengan mempertimbangkan bahwa tidak ada referendum dalam UUD, tidak jelasnya draf yang ada dan tidak adanya informasi yang cukup kepada rakyat serta tidak adanya kebebasan dan penggunaan ancaman terhadap masyarakat, maka beliau mengumumkan referendum terhadap enam draf tersebut bertentangan dengan syariat dan UUD.

Pada 2 Bahman 1341 HS, setelah dipublikasikan penyataan Imam Khomeini yang memboikot referendum usulan Shah, rakyat Tehran meliburkan pasar dan turun ke jalan-jalan melakukan demonstrasi. Pada puncak aksi protes itu Hujjatul Islam Mohammad Taqi Falsafi menyampaikan orasi yang berisikan kritikan pedas terhadap pemerintah. Di kota qom, pasar-pasar diliburkan dan para rohaniwan dan masyarakat kota ini juga ikut melakukan protes dan demonstrasi menentang draf ini.