Lintasan Sejarah 26 Januari 2017
Hari ini, Kamis tanggal 26 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 27 Rabiul Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 7 Bahman 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Attila The Hun Lahir
1612 tahun yang lalu, tanggal 26 Januari tahun 405, Attila, pemimpin bangsa Hun terlahir ke dunia.
Raja Attila adalah salah satu raja kaum Barbar yang paling ditakuti sepanjang sejarah. Kerajaan Hun berpusat di Hungaria saat ini. Attila mewarisi mahkota kerajaan Hun pada tahun 434 dan dia berhasil menyatukan bangsa-bangsa Barbar yang hidup di sekitar Laut Kaspia. Attila kemudian menyerbu berbagai kawasan di Eropa selama abad ke-5 dan memperluas kekuasaannya dari sungai Rhine hingga ke Laut Hitam.
Dalam setiap penyerbuan yang dilakukannya, Attila bertindak sangat kejam dan melakukan pembunuhan massal. Attila meninggal dunia pada tahun 454 akibat terlalu banyak minum minuman keras dan kerajaannya pun dengan segera ikut terpecah-pecah.
Brazil Ditemukan
517 tahun yang lalu, tanggal 26 Januari 1500, seorang pelaut Spanyol, Vicente Yanez Pinzon, mencapai pantai timur laut Brazil.
Pinzon adalah pelaut yang pernah menahkodai kapal Nina yang membawa ekspedisi pertama Christopher Columbus ke Dunia Baru. Pada tahun yang sama, pelaut Portugis, Pedro Cabral mengklaim Brazil sebagai koloni Portugis dengan alasan bahwa Brazil termasuk daerah yang jatuh ke dalam kekuasaan Portugis berdasarkan perjanjian Tordessilas tahun 1494. Tahun 1530, pemukiman Eropa pertama di Brazil dibangun di Sao Paulo oleh Portugis.
Gerakan Revolusi Konstitusional Disepakati
111 tahun yang lalu, tanggal 27 Rabiul Tsani 1327 HQ, Muhammad Ali Shah, Raja Iran dari dinasti Qajar menyetujui pemberlakuan Konstitusional baru yang membatasi kekuasaan raja dan keluarganya.
Keputusan ini menandai kekalahan raja dalam menghadapi gerakan rakyat yang menuntut pembatasan wewenang raja yang lazim disebut gerakan Revolusi Konstitusional.
Ayatullah Sayid Mohammad Bagher Hojjati Barforoushi Wafat
84 tahun yang lalu, tanggal 7 Bahman 1311 HS, Ayatullah Hojjati meninggal dunia dalam usia 63 tahun.
Ayatullah Sayid Mohammad Bagher Barfroroushi yang lebih dikenal dengan Ayatullah Hojjati lahir di kota Babol, provinsi Mazandaran sekitar tahun 1248 Hs. Sebelum ia lahir, ayahnya terlebih dahulu meninggal dunia.
Setelah menyelesaikan pendidikan agama tingkat dasar dan menengah, Ayatullah Hojjati pergi ke Najaf al-Asyraf untuk melanjutkan pendidikannya. Selama di sana, ia belajar kepada ulama besar seperti Akhond Molla Mohammad Kazem Khorasani, Allamah Sayid Mohammad Kazem Yazdi, dan Mulla Abdollah Mazandarani.
Ayatullah Hojjati kemudian kembali ke tanah kelahirannya dan menyibukkan dirinya dengan menulis, meneliti, mengajar dan membimbing masyarakat. Ia menjadi ulama besar Mazandaran di masanya dan aktif dalam urusan sosial dan politik.
Ia dikenal serius memerangi pemikiran sessat seperti ajaran Bahai, sehingga meninggalnya diisukan akibat suntikan seorang dokter Bahai.
Selama hidupnya, ia banyak menulis karya ilmiah seperti Taqrir pelajaran Ushul gurunya Akhond Khorasani dan Allamah Yazdi serta sebuah komentar terhadap buku Urwah al-Wutsqa.
Ayatullah Al-Udzma Haj Sayid Ahmad Khansari Wafat
33 tahun yang lalu, tanggal Akhirnya, 27 Rabiul Tsani 1405 HQ, Ayatullah al-Udzma Haj Sayid Ahmad Khansari meninggal dunia pada dalam usia 96 tahun. Jenazah beliau dibawa dari Tehran dan dimakamkan di kota Qom di lokasi makam suci Sayidah Maksumah.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ahmad Khansari lahir di kota Khansar pada 1309 HQ. Pada usia tiga tahun ia telah kehilangan ayahnya dan saudaranya yang menggantikan tanggung jawab ayahnya. Setelah mempelajari ilmu-ilmu pengantar agama di tempat kelahirannya, ia pergi ke Isfahan untuk melanjutkan pendidikannya dan setelah itu pergi ke Najaf al-Asyraf, Irak.
Selama di hauzah ilmiah Najaf, ia belajar kepada guru-guru besar di sana seperti Ayatullah Akhond Khorasani, Sayid Mohammad Kazem Yazdi, Mirza Naini dan Agha Dhiya ad-Din al-Iraqi. Bertahun-tahun menimba ilmu membuatnya mencapai derajat ijtihad.
Ayatullah Khansari pada 1330 HQ kembali ke Iran dan ikut belajar kepada Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi di kota Arak. Setelah dibangunnya hauzah ilmiah Qom, Ayatullah Khansari mengajar di sana, tapi atas perintah Ayatullah Boroujerdi, ia akhirnya pergi ke Tehran dan di mengajar di masjid Sayid Azizollah, mengimami shalat jamaah di sana dan melakukan aktivitas politik.
Ayatullah Khansari begitu dikenal akan zuhud dan ketakwaannya. Kehadirannya bersama Imam Khomeini ra mampu memperkokoh kebangkitan rakyat Iran.