Feb 14, 2018 13:55 Asia/Jakarta

Surat al-Ankabut ayat 67-69

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آَمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ (67)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah? (29: 67)

Pada saat aksi perampokan dan penjarahan marak di tengah masyarakat Arab dan para anggota sebuah kabilah menyerang kabilah lain, serta saling membunuh dan menyandera, Allah Swt menjadikan kota Mekah sebagai tanah yang aman sehingga penduduknya dimuliakan dan tidak ada lagi pihak yang berani menyerang Makkah. Allah Swt telah menghancurkan pasukan Abrahah yang ingin menyerang Ka'bah sebelum mereka dapat mewujudkan niat jahatnya itu.

Ayat tersebut ditujukan kepada kaum Musyrik Mekah dan mengingatkan mereka bahwa Allah Swt telah memberikan nikmat yang besar kepada mereka serta hidup dalam keamanan dan kesejahteraan, tetapi mereka tetap menyembah berhala dan mengingkari nikmat Tuhan.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Keamanan merupakan salah satu nikmat besar Tuhan dan cara mensyukurinya adalah menjauhi segala bentuk kesyirikan dan kekufuran.

2. Menyebut-nyebut nikmat Allah Swt akan membuka ruang untuk mengajak masyarakat kepada tauhid.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ (68)

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? (29: 68)

Dalam budaya masyarakat, kezaliman ditafsirkan dalam urusan interaksi sosial dan orang zalim adalah mereka yang merampas hak-hak orang lain. Namun dalam budaya agama, meskipun agama sangat mencela bentuk kezaliman seperti itu, tetapi juga menyinggung jenis kezaliman yang lebih penting di mana ia menjadi sumber bagi banyak penindasan. Jika manusia menjadikan berhala atau benda lain sebagai sekutu Tuhan, maka mereka telah menzalimi Sang Pencipta, karena sesuatu yang tidak setara dengan Tuhan telah disejajarkan dengan-Nya.

Begitu juga dengan orang yang menyebut para nabi sebagai pendusta dan mengingkari risalah mereka, maka ia telah menzalimi para nabi, sebab ia telah mengabaikan pengorbanan tak kenal lelah mereka dalam membimbing umat manusia dan mengingkari nikmat besar ini.

Ketika kezaliman terhadap orang biasa akan mendatangkan azab yang pedih di Hari Kiamat, maka tentu saja kezaliman terhadap Tuhan dan para nabi akan mengundang siksaan yang amat pedih.

Syirik bisa muncul dalam berbagai bentuk seperti dalam bentuk penyembahan berhala atau dalam tampilan-tampilan lain seperti, menyembah kedudukan, hawa nafsu, harta benda, dan lain-lain. Kaum Mukmin tidak luput dari bahaya syirik jenis ini dan mereka harus membersihkan hatinya dari kecintaan kepada faktor-faktor yang menjauhkan manusia dari Allah Swt.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kezaliman terbesar adalah kezaliman dalam perkara agama, di mana landasannya adalah mengingkari kebenaran dan menyebarluaskan kebatilan. Manusia zalim yang mendustakan kebenaran, tentu ia tidak akan pernah tunduk pada kebenaran.

2. Menambah sesuatu pada agama atau memaksakan seleranya merupakan salah satu dari jenis bidah dan mengada-adakan kedustaan terhadap Allah Swt. Manusia harus mengikuti ajaran agama, bukan memaksa agama untuk mengikuti pemikiran dan seleranya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (29: 69)

Ayat ini sebagai ayat terakhir dari surat al-Ankabut, berbicara tentang jihad dan kesungguhan di jalan Allah Swt, dimana mencakup jihad melawan musuh dan juga kerja keras untuk menyebarluaskan agama Allah Swt.

Dalam budaya Islam, jihad mencakup jihad dengan musuh eksternal dan jihad dengan musuh internal. Kaum mukmin harus melawan musuh-musuh agama dan siap mengorbankan jiwanya di jalan ini. Mereka juga harus melawan hawa nafsu dan keinginan yang melenceng sehingga tidak terpenjara oleh nafsunya.

Ayat tersebut menekankan jihad di jalan Allah Swt untuk Allah. Betapa banyak orang yang berperang dengan musuh agama, tetapi tujuan mereka mencari popularitas dan pujian atau memperoleh keuntungan duniawi dan harta rampasan perang. Oleh karena itu, jihad dan perjuangan yang lebih penting adalah bersikap ikhlas dalam pekerjaan, dimana jika ketulusan tidak ada, maka pengorbanan dalam perang juga tidak bernilai dan hanya sia-sia belaka.

Jika jihad dan perjuangan dilakukan di jalan Allah Swt, maka Dia berjanji akan memberi bimbingan dan dukungan. Jelas bahwa manusia akan menghadapi banyak rintangan dan cobaan untuk mencapai tujuan, namun Allah Swt berjanji akan memberi arahan dan bantuan untuk mengatasi semua masalah.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Allah Swt selain memberi petunjuk umum yang meliputi seluruh manusia, juga menawarkan bimbingan khusus kepada mereka yang bersungguh-sungguh dan ikhlas. Tentu saja langkah pertama harus dimulai dari individu itu sendiri.

2. Dalam melaksanakan pekerjaan, jika kita memulai dengan niat dan motivasi yang tulus, Allah Swt akan memberi petunjuk kepada kita untuk meraih kesuksesan dan tidak membiarkan kita sendirian.

3. Jika seseorang melangkah di jalan Tuhan dan berjuang mati-matian di jalan ini, maka Allah Swt akan menuntun dan membantunya untuk mencapai tujuan.