Feb 18, 2018 16:21 Asia/Jakarta

Surat ar-Rum ayat 1-8

Setelah berakhirnya kajian tafsir surat al-Ankabut, sekarang kita akan mempelajari tafsir surat ar-Rum dan sebagai pembuka, kita mengawalinya dari ayat 1 sampai 8 surat ar-Rum.

Sekarang mari kita simak bersama bacaan ayat 1-5 surat ar-Rum beserta terjemahannya berikut ini:

الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)

Alif Laam Miim. (30: 1)

Telah dikalahkan bangsa Rumawi. (30: 2)

Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. (30: 3)

Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (30: 4)

Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (30: 5)

Berdasarkan catatan sejarah, Imperium Romawi dan Persia terlibat perang dan konflik yang berkepanjangan. Ketika Rasulullah Saw masih tinggal di Mekah, perang pecah antara Imperium Romawi dan Persia di dekat daerah Hijaz, yang berujung pada kekalahan bangsa Romawi. Allah Swt menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw bahwa meskipun Romawi kalah, tetapi mereka akan menang pada perang selanjutnya.

Setelah ramalan ini terbukti benar, masyarakat Muslim mulai yakin bahwa janji kemenangan mereka atau kaum Musyrik juga akan terwujud, karena semua hal beada di tangan Tuhan, Dia akan membantu siapa saja yang dikehendaki-Nya, mengantarkan orang-orang pada kemuliaan, dan mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Dari lima ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Berita gaib al-Quran dan ramalan-ramalannya merupakan salah satu bukti mukjizat kitab agung ini.

2. Kita tidak tidak boleh berputus asa karena kekalahan. Kita harus selalu berharap pada pertolongan Allah Swt.

3. Perbuatan Allah Swt didasarkan pada hikmah. Kekalahan dan kemenangan orang-orang beriman juga berada dalam lingkaran rahmat Tuhan. Kaum Muslim tentu saja harus menunaikan tugas-tugasnya, namun hasil dari pekerjaan itu bukan di tangan mereka dan kesudahan dari semua perbuatan berada di tangan Allah Swt.

وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6) يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (7)

(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (30: 6)

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (30: 7)

Ayat sebelumnya menerangkan tentang janji kemenangan kaum Muslim atas orang-orang Musyrik, sementara ayat 6 surat ar-Rum ingin menegaskan bahwa manusia tidak boleh meragukan janji Tuhan. Karena janji Dia adalah pasti dan tidak akan mengingkari janji-Nya.

Tentu saja, orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Swt atau iman mereka lemah, tidak percaya pada janji-janji Tuhan. Karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu, kekuasaan dan hikmah ilahi. Mereka hanya menyaksikan faktor-faktor materi dan lahiriyah serta menafsirkan kemenangan dan kekalahan dengan faktor-faktor materi. Mareka karena melalaikan akhirat, memandng semua hal dari kacamata duniawi dan menjauhkan dirinya dari memahami hakikat alam semesta.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pelanggaran janji biasanya bersumber dari kebodohan, kelemahan atau penyesalan. Sementara Allah Swt terbebas dari semua kekurangan itu.

2. Ketergantungan pada dunia dan faktor-faktor materi akan membuat manusia berpandangan sempit dan dangkal.

3. Akar kelalaian dari akhirat adalah karena terlalu fokus pada gemerlap dunia dan kecintaan berlebihan kepadanya.

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ (8)

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (30: 8)

Ayat tersebut sama seperti kebanyakan ayat lain di al-Quran, menyeru manusia untuk berpikir tentang sistem penciptaan dan mengajak mereka untuk kembali kepada akal dan nuraninya. Sesungguhnya siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Apakah penciptaan ini tidak punya tujuan? Apakah alam tidak memiliki awal dan akhir yang jelas?

Bagaimana kita bisa yakini bahwa manusia memiliki akal sehat dan perasaan serta merencanakan pekerjaannya dengan matang, sementara alam semesta yang agung ini, dimana manusia adalah satu produk kecilnya, tidak dikelolan dengan perencanaan? Apakah kita bisa menerima bahwa kehidupan kita akan berakhir di dunia ini dan tidak ada namanya dunia lain?

Tentu saja kebanyakan orang yang cinta dunia, mengingkari hari akhirat dan pengadilan Tuhan sehingga mereka hanya memikirkan kelezatan duniawi. Akan tetapi, orang-orang yang berpikir menganggap sistem penciptaan memiliki sistem yang jelas dan meyakinkan, dimana ia membuktikan keagungan Sang Pencipta.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Islam mengajak manusia untuk berpikir tentang alam semesta, sehingga ima mereka didasarkan pada makrifat dan pengenalan yang benar.

2. Sistem penciptaan memiliki tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan.

3. Pengingkaran Hari Kiamat tidak dilandasari oleh pemikiran dan argumentasi yang rasional, tapi bersumber pada kecintaan kepada dunia dan memandangnya sebagai rumah keabadian.