Jalan Menuju Cahaya 724
Surat ar-Rum ayat 9-13.
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (9) ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى أَنْ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ (10)
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (30: 9)
Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya. (30: 10)
Pada kajian sebelumnya, kita ketahui bersama bahwa Allah Swt menegur orang-orang tidak memikirkan masalah penciptaan langit dan bumi serta meminta mereka untuk berpikir dalam penciptaan alam semesta, sehingga mereka mengerti bahwa sistem penciptaan memiliki tujuan dan ia dibangung atas kebenaran.
Dua ayat tersebut berfirman, “Mengapa manusia tidak mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu? Mereka ketika sedang traveling ke berbagai destinasi wisata, mereka tidak merenungkan sisa-sisa reruntuhan umat-umat terdahulu dan mengambil pelajaran darinya? Mereka adalah kaum yang memiliki lahan pertanian yang besar dan subur serta kaya raya, tetapi mereka binasa karena mengingkari kebenaran dan melakukan perbuatan kotor dan hanya sisa-sisa kehancuran yang tersisa dari mereka.”
Kebinasaan ini merupakan dampak dari kezaliman terhadap diri mereka sendiri. Karena dalam budaya Islam, kezaliman terhadap orang lain dan kezaliman terhadap diri sendiri, sama-sama tidak dibenarkan.
Berbeda dengan paham Humanisme yang mengatakan, manusia dibenarkan untuk berbuat apa saja selama tidak mengganggu orang lain, sementara dalam budaya Islam, manusia tidak berhak untuk menyakiti dirinya sendiri apalagi orang lain. Tentu saja, kezaliman terbesar terhadap diri sendiri adalah menyingkirkan akal sehat dan naluri serta mengingkari kebenaran, dimana manusia bisa memahaminya lewat akal sehat dan nalurinya.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Traveling ke situs-situs kuno untuk mempelajari sejarah bangsa terdahulu dan mengambil pelajaran dari masa lalu mereka adalah sesuatu yang ditekankan oleh al-Quran.
2. Perkembangan sejarah memiliki kaidah dan prinsip-prinsip yang jelas dan kia biasa memanfaatkan pengalaman masa lalu untuk masa depan serta mengambil pelajaran darinya.
3. Kebahagiaan bangsa-bangsa tidak diperoleh hanya melalui kekuatan dan pembangunan lahiriah, tetapi landasan kebahagiaan hakiki adalah iman kepada Allah Swt dan mengikuti para nabi.
4. Bersikeras dan mengulangi dosa akan mencelakakan manusia serta menyeretnya untuk mendustakan dan mengolok-olok kebenaran.
اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (11) وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ (12) وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ مِنْ شُرَكَائِهِمْ شُفَعَاءُ وَكَانُوا بِشُرَكَائِهِمْ كَافِرِينَ (13)
Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (30: 11)
Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. (30: 12)
Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka dari berhala-berhala mereka dan adalah mereka mengingkari berhala mereka itu. (30: 13)
Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, kematian adalah akhir dari kehidupan manusia di dunia ini, dan alam kubur adalah sarana untuk menuju dunia lain. Seperti persalinan seorang ibu, yang merupakan akhir dari kehidupan bayi di alam rahim dan kemudian hadir di dunia ini.
Ayat-ayat tersebut berkata, “Kehidupan dan kematian manusia di dunia ini adalah sesuatu yang keluar dari ikhtiar mereka. Mereka hadir di dunia ini atas kehendak Allah Swt dan juga akan meninggalkan dunia ini atas kehendak-Nya. Kehidupan manusia di Hari Kiamat juga merupakan perkara yang keluar dari keinginannya, ingin atau tidak mereka akan dibangkitkan di Hari Kiamat. Oleh karena itu, manusia diminta berbuat sesuatu sehingga tidak kembali dengan tangan kosong dan menyesal kemudian.”
Manusia diminta untuk tidak terlalu bergantung pada individu dan materi, dimana para Hari Kiamat mereka tidak bisa membantu orang lain. Orang-orang yang berpikir bahwa mereka bisa memberi syafaat kepada Anda di Hari Kiamat, Anda akan memahami ketidakmampuan mereka pada Hari Kiamat, dimana mereka tidak memiliki peran apapun untuk keselamatan anda.
Kaum Musyrik yang menganggap berhala sebagai pemberi syafaat, di sana mereka akan mengerti bahwa benda mati itu tidak punya peran sama sekali dan benar-benar tidak berguna. Orang-orang Musyrik akan berputus asa dari syafaat berhala dan diliputi kegundahan, mareka juga tidak menaruh harapan pada rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Karena mereka memerangi para nabi selama di dunia dan telah menutup pintu rahmat untuk dirinya sendiri pada hari kebangkitan.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Alam semesta dimulai dari Allah Swt dan kembali kepada-Nya. Dengan kata lain, permulaan dan kebangkitan adalah satu sumber. Kelalaian dari perkara ini akan menyebabkan penyesalan dan keputusasaan manusia di masa mendatang.
2. Kita tidak boleh terpengaruh dengan kesenangan para pendosa di dunia ini. Karena mereka akan didera kesedihan besar di Hari Kiamat kelak.
3. Pada Hari Kiamat, cinta palsu duniawi akan berubah menjadi kebencian dan kedengkian dan para pemberi syafaat ilusif (berhala) akan diingkari.