Feb 18, 2018 16:28 Asia/Jakarta

Surat ar-Rum ayat 14-19

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَتَفَرَّقُونَ (14) فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَهُمْ فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُونَ (15) وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآَخِرَةِ فَأُولَئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ (16)

Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan. (30: 14)

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. (30: 15)

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al Quran) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka). (30: 16)

Ayat tersebut mengelompokkan manusia di dunia pada dua golongan; pertama, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan kedua orang-orang yang kafir dan mengingkari kebenaran. Hal yang membedakan manusia satu sama lain di dunia dan terbagi dalam berbagai kategori seperti usia, ras, bahasa, tingkat pendidikan, kepemilikan harta dan jabatan, semua ini tidak berlaku di Hari Kiamat. Satu-satu hal yang membedakan nasib manusia adalah iman dan kufur, dimana akan menghasilkan amal saleh dan perbuatan buruk.

Uniknya iman saja tidak cukup untuk menuju surga, tetapi membutuhkan amal saleh dan perbuatan baik. Namun, kufur dengan sendirinya sudah cukup untuk mengantar manusia ke neraka. Karena, kekufuran merupakan kezaliman terbesar terhadap diri sendiri dan nikmat yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kiamat adalah hari pemisahan antara golongan baik dan golongan jahat.

2. Perbuatan baik adalah hal yang bernilai dan memiliki motivasi ilahi serta bersumber dari iman kepada Allah Swt

3. Mendustakan ayat-ayat Allah Swt dan hari akhirat berakar dari semangat kekufuran dan pembangkangan dalam diri manusia.

4. Nasib manusia di akhirat ditentukan oleh sepak terjangnya selama hidup di dunia ini.

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (17) وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (18)

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh. (30: 17)

Dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. (30: 18)

Sebagian ulama tafsir meyakini bahwa ayat-ayat tersebut berbicara tentang waktu shalat wajib di sepanjang siang dan malam. Ayat ini memerintahkan manusia untuk mengingat Allah di waktu Subuh, malam, Zuhur dan Asar serta memperbanyak tasbih kepada-Nya. Karen seluruh alam semesta bersaksi atas kesucian dan keagungan Sang Pencipta serta bukti dari ilmu dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas.

Jelas bahwa untuk menjauhkan dari syirik, manusia harus mengingat Allah Swt dan bertasbih kepada-Nya di semua keadaan. Kita harus mensucikan Tuhan dengan hati dan lisan dari segala bentuk syirik dan kekurangan.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pujian dan tasbih merupakan sebuah perbuatan baik di semua keadaan dan tempat. Meski demikian, sebagian waktu memiliki keutamaan lebih besar untuk mengingat Allah Swt.

2. Bertasbih dan mensucikan Allah Swt dari segala kekurangan dan aib akan menciptakan peluang untuk bersyukur dan memuji Tuhan.

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ (19)

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (30: 19)

Dalam menjawab keraguan orang-orang tentang Hari Kiamat, ayat tersebut menyinggung kasus-kasus hidupnya kembali orang yang sudah mati di dunia. Mereka ragu bahwa orang yang sudah mati akan dihidupkan kembali di Hari Kiamat, padahal Allah Swt senantiasa menghidupkan atau mematikan makhluk ciptaannya. Ketika musim dingin, pepohonan dan tumbuhan menjadi kering dan mati danketika musim semi tiba, mereka hidup kembali dan fenomena ini terus terulang setiap tahun dan manusia juga menyaksikannya.

Selain itu, setiap tahun berbagai jenis tanaman dan tumbuhan muncul dari dalam tanah yang tak bernyawa dan menghadirkan kehidupan. Di sisi lain, banyak dari makhluk hidup kehilangan nyawanya dan kembali menjadi tanah.

Air dan makanan yang kita konsumsi tidak termasuk makhluk hidup, tetapi ketika mereka sudah menjadi bagian dari tubuh kita, mereka akan berubah menjadi sel-sel yang hidup. Dalam sistem alam, kehidupan selalu lahir dari kematian dan kematian datang dari kehidupan. Ini adalah argumen terbaik yang memperlihatkan kekuasaan Allah Swt untuk menghidupkan orang mati di Hari Kiamat.

Ayat tersebut juga bisa ditafsirkan dari aspek batiniyah. Sebagaimana dalam sebagian riwayat, lahirnya orang mukmin dari kafir dan kafir dari mukmin atau lahirnya orang alim dari jahil dan jahil dari alim, merupakan contoh dari keluarnya kehidupan dari kematian dan kematian dari kehidupan.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Jika manusia mau berpikir dan bijak, maka mereka sama sekali tidak akan meragukan Hari Kiamat. Karena Allah Swt telah menampilkan kekuasaan-Nya dalam menghidupkan dan mematikan makhluk hidup di dunia ini.

2. Di alam ini, siklus perputaran makhluk antara kehidupan dan kematian bisa disaksikan dengan kasat mata dan fenomena ini akan berlanjut sampai Hari Kiamat.