Feb 18, 2018 16:38 Asia/Jakarta

Surat ar-Rum ayat 27-29

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (27)

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (30: 27)

Pada pelajaran sebelumnya, al-Quran menyinggung sebagianayat dan tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta; ayat-ayat yang menunjukkan ilmu, kekuasaan dan hikmah-Nya yang tidak terbatas. Ayat 27 surat ar-Rum berbicara tentang Hari Kiamat dan menegaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia dari permulaan, Dia mampu menghidupkan kembali mereka di Hari Kiamat nanti.

Sama sekali tidak ada pekerjaan yang lebih mudah atau lebih sulit bagi Tuhan, susah dan mudah berhubungan dengan manusia yang memiliki banyak keterbatasan. Namun, Allah Swt pada ayat tersebut berbicara kepada kita dengan lisan manusia sehingga kita gampang memahaminya. Jadi, ketika kalian menganggap perkara menghidupkan kembali itu lebih mudah dari penciptaan pertama, lalu apakah Tuhan, pemilik semua kesempurnaan dan tidak terbatas, tidak mampu melakukan itu?

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sifat Tuhan lebih tinggi dari gambaran dan penjelasan manusia. Tidak ada seorangpun atau sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Dia lebih tinggi dari makhluk dari semua sisi.

2. Hikmah ilahi menuntut keberadaan sebuah dunia lain setelah kematian dan nasib manusia tidak berakhir dengan kematian.

ضَرَبَ لَكُمْ مَثَلًا مِنْ أَنْفُسِكُمْ هَلْ لَكُمْ مِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ شُرَكَاءَ فِي مَا رَزَقْنَاكُمْ فَأَنْتُمْ فِيهِ سَوَاءٌ تَخَافُونَهُمْ كَخِيفَتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (28)

Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. (30: 28)

Kaum Musyrik menetapkan sekutu bagi Tuhan, dimana ia adalah makhluk Tuhan, tapi kaum Musyrik menganggapnya sebagai pemilik kekuasaan dan pengatur urusan alam. Ayat tersebut ingin menafikan keyakinan keliru kaum Musyrik dengan memberi sebuah perumpamaan dari manusia itu sendiri. Jika kalian pemilik para budak dan hamba sahaya, apakah kalian membebaskan mereka untuk campur tangan dalam harta bendamu? Apakah kalian menganggap para budak itu sebagai sekutu, yang berhak menggunakan harta benda kalian seperti diri kalian sendiri?

Lalu mengapa kalian tidak disejajarkan dengan para budak itu? Sementara kalian menempatkan makhluk-makhluk Tuhan, dimana semua acalah ciptaan-Nya, sejajar dengan-Nya? Kali memberi otoritas kepada mereka untuk mencampuri urusan Tuhan dan menganggap mereka berperan dalam mengatuh berbagai urusan penciptaan.

Jika barang-barang milik kalian adalah sekutu kalian, maka makhluk Tuhan juga dapat menjadi sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, jika kalian tidak menerimba barang-barang milik kalian sebagai sekutu kalian, lalu bagaimana kalian bisa menerima makhluk Tuhan bisa ikut ccampur dalam perkara yang menjadi wewenang Tuhan, dan itupn tanpa izin dari-Nya?

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Hati nurani adalah hakim terbaik. Kita tidak menerima manusia yang sama dengan kita sebagai sekutu karena mereka berstatus sebagai pegawai atau pembantu kita. Lalu bagaimana kita menganggap orang-orang atau sesuatu, yang sama sekali tidak serupa dengan Tuhan dan bahkan menjadi makhluk-Nya, sebagai zat yang sejajar dengan Tuhan dan sekutu-Nya?

2. Al-Quran berdialog dengan manusia atas landasan akal sehat dan logika. Ia selalu mengajak manusia untuk berpikir dan merenung.

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (29)

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (30: 29)

Allah Swt memberikan sebuah perumpamaan yang bisa diterima oleh akal sehat dan logika. Ayat itu berkata bahwa orang-orang yang menganggap sekutu bagi Tuhan, mereka telah meninggalkan akalnya dan terjebak dalam perangkap hawa nafsu. Mereka memiliki sekutu bagi Tuhan tanpa argumentasi ilmiah dan pada akhirnya mereka telah melakukan kezaliman terbesar terhadap dirinya sendiri.

Para individu yang mengesampingkan akal dan ilmu pengetahuan serta mengikuti hawa nafsunya, maka mereka akan tersesat dan tidak ada harapan untuk memperoleh hidayah. Karena keniscayaan memperoleh hidayah adalah menggunakan akal sehat dan logika untuk memahami hakikat, dimana akan mengantarkan manusia kepada ilmu dan wawasan.

Akan tetapi, orang-orang yang tidak ingin memahami hakikat dan hanya mengejar hawa nafsunya, mereka adalah para pengikut godaan hati, bukan akal sehat. Mereka tidak akan menemukan jalan selama masih seperti itu dan juga tidak ada yang bisa membantunya, kecuali mereka ingin membebaskandirinya dari belenggu nafsu dan kembali ke jalan akal.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Segala bentuk penyimpangan dari jalan tauhi sama seperti berbuat zalima terhadap diri sendiri. Dalam ajaran Islam, menzalimi diri sendiri sama tercelanya dengan menzalimi orang lain. Karena kezaliman ini juga akan mendorong seseorang untuk berbuat zalim kepada Tuhan dan para nabi-Nya.

2. Syirik kepada Tuhan yang tampil dalam bentuk penyembahan berhala dan patung dalam ajaran Buddha dan Hindu, mengindikasikan kebodohan manusia di era modern. Manusia modern mencapai kemajuan di semua bidang dengan bantuan akal dan ilmu, namun dalam keyakinannya tentang sumber penciptaan, mereka terjebak dalam kebodohan dan kebatilan.