Jalan Menuju Cahaya 729
Surat ar-Rum ayat 30-34
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (30)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (30: 30)
Pada pelajaran sebelumnya, al-Quran menyinggung tanda-tanda keberadaan Allah Swt, ilmu dan kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi. Selain menyaksikan keteraturan alam, manusia juga bisa sampai pada pengenalan Tuhan dengan memperhatikan dirinya sendiri. Sebab batin semua manusia bersaksi atas keberadaan Sang Pencipta.
Pada ayat tersebut, Allah Swt meminta Rasulullah Saw dan semua orang beriman tidak hanya dengan lisan dan lahiriah saja, namun dengan lubuk hati dan batin menyambut ajaran yang benar serta menjauhi segala bentuk penyimpangan dan kesesatan. Jelas bahwa semua agama langit datang dari sisi Allah Swt, namun sayangnya banyak dari mereka telah menyimpang dari misinya yaitu, mengantarkan umat manusia kepada kebahagiaan.
Ayat itu mengatakan bahwa satu-satunya agama yang tetap dan tidak menyimpang adalah Islam; sebuah agama yang juga selaras dengan fitrah ilahi dalam penciptaan manusia. Begitu juga dengan fitrah manusia yang tidak berubah sepanjang masa dan semua orang memiliki fitrah insaniyah yang sama di semua waktu dan tempat. Sesuatu yang diturunkan Allah Swt untuk kebahagiaan manusia juga tetap dan lurus dan hal ini termanifestasi dalam Islam sebagai agama samawi yang terakhir.
Banyak orang tentu saja lalai akan kebenaran ini. Mereka bukannya memperhatikan Islam, tetapi malah mencari paham-paham kreasi manusia, dimana penuh dengan kekurangan dan kontradiksi atau mengikuti agama-agama yang sudah menyimpang dan tidak mengantarkannya pada tujuan hakiki.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Allah Swt menciptakan fitrah manusia yang condong pada kebenaran dan berpaling dari kebatilan. Agama langit juga dibanung atas kebenaran dan mencintainya adalah sebuah perkara fitrah.
2. Meski agama perkara fitrah, ia tetap perlu diasah dan membutuhkan aksi nyata sehingga ia tidak tumpul. Dasar agama adalah perkara fitrah, namun ajaran-ajarannya perlu diamalkan sehingga ia mengakar dalam diri kira.
3. Sistem takwini manusia selaran dengan sistem tasyri’i ilahi, karena keduanya berasal dari satu sumber dan sama sekali tidak ada kontradiksi di antara mereka.
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32)
Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (30: 31)
Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (30: 32)
Meskipun agama bersifat fitrah, namun kadang ia dilalaikan atau dilupakan oleh manusia. Oleh karena itu, ayat tersebut mengatakan bahwa setiap kali manusia terjebak dalam kelalaian dan kesesatan, mereka diminta untuk kembali ke jalan Allah Swt, yaitu kembali kapada fitrah tauhid. Allah Swt kemudian memberikan beberapa perintah untuk menjaga agama, pertama; memelihara takwa dan meninggalkan dosa, dan kedua; membangun kontak kontinyu dengan Allah Swt dalam bentuk shalat dan doa. Jika kedua perkara ini diamalkan, maka manusia dalam keyakinan dan amalnya tidak akan terjatuh ke lembah syirik.
Ayat selanjutnya menyinggung dampak-dampak mempersekutukan Allah Swt dan mencatat bahwa syirik dapat mencerai-berai masyarakat dan orang-orang musyrik akan mencari kebahagiaan dari “sekutu-sekutu Tuhan”. Padahal, jika semua individu berkeyakinan dan beramal atas dasar tauhid, maka tidak ditemukan perpecahan dan kontradiksi di tengah masyarakat. Persatuan dan kesolidan akan tegak di tengah mereka.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Seseorang akan menjadi alim dan taat beribadah ketika fitrah beragama telah tumbuh dan berkembang dalam dirinya.
2. Tauhid adalah faktor persatuan masyarakat, sementara syirik adalah pemicu perpecahan dan konflik di tengah mereka.
3. Munculnya perpecahan di masyarakat membuktikan jauhnya mereka dari garis tauhid dan terjebak dalam kesyirikan.
وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (33) لِيَكْفُرُوا بِمَا آَتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (34)
Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya. (30: 33)
Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). (30: 34)
Ayat tersebut menyinggung salah satu penampakan fitrah dalam kehidupan manusia. Setiap kali ia ditimpa kesulitan dan orang lain juga tidak mampu membantunya dan semua pintu harapan tertutup, maka ia akan menghadapkan wajahnya kepada Tuhan dan meminta Dia untuk mengatasi kesulitannya. Dalam situasi ini, manusia akan mengingat hal-hal yang mereka lupakan karena lalai. Manusia kemudia bertaubat dari kelalaiannya dan juga memohon kepada Allah Swt untuk menghilangkan deritanya.
Namun ketika rahmat Tuhan kembali mewarnai kehidupannya, manusia kembali melupakan Sang Pemberi Rahmat dan menganggap kesulitannya hilang karena faktor-faktor lain. Jika mental tidak bersyukur ini terus menyertai kehidupan manusia, maka ia akan sengsara di kemudian hari. Meskipun ia sekarang bisa bersenang-senang, namun akhir yang manis tidak akan menyapanya.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Sekelompok orang hanya mengingat Allah Swt saat kesulitan dan musibah. Tuhan diseru hanya untuk menyelesaikan masalah mereka dan jika urusan selesai, mereka tidak lagi membutuhkan Tuhan.
2. Dalam kondisi sulit dan tertekan, tirai kelalaian akan tersingkap dan manusia akan kembali kepada fitrahnya.
3. Kenikmatan duniawi berpotensi membuat manusia lalai untuk mengingat Allah Swt dan menjadikannya tidak mensyukuri nikmat.