Jalan Menuju Cahaya 730
Surat ar-Rum ayat 35-38
أَمْ أَنْزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا فَهُوَ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُوا بِهِ يُشْرِكُونَ (35)
Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan? (30: 35)
Ayat ini membahas topik pada ayat sebelumnya soal penafian syirik dan keyakinan kaum Musyrik. Disebutkan bahwa apakah kaum Musyrik memiliki bukti dalam menyekutukan Tuhan? Apakah dalam alam semesta atau pada diri mereka ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Allah Swt memiliki sesuatu? Atau apakah ada kitab samawi lain yang diturunkan kepada mereka dan di dalamnya disebutkan pengakuan tentang sekutu Allah Swt?
Jelas bahwa tidak satu bukti pun dapat diberikan kaum Musyrik untuk membenarkan keyakinan mereka. Oleh karena itu, kaum Musyrik mengikuti keyakinan tersebut atas dasar kebodohan dan fanatisme saja, tanpa bukti-bukti rasional maupun nas.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Islam adalah agama rasional dan argumentatif, dah bahkan Islam menyeru pada penentangnya untuk memberikan bukti-bukti.
2. Berbeda dengan Tauhid yang memiliki bukti-bukti kuat, dalam dan tidak dapat dipungkiri, kesyirikan tidak memiliki pondasi logis apapun.
وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ (36)
Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. (30: 36)
Selanjutnya, ayat ini menjelaskan kriteria kaum Musyrik atau sekelompok manusia yang beriman lemah dimana mereka adalah orang-orang terombang-ambing di antara kesombongan dan keputusasaan. Ketika mereka mendapat nikmat, mereka akan sombong dan ketika mereka dihadapkan pada cobaan, mereka akanputus asa. Sementara orang-orang Mukmin sejati adalah mereka yang berada di antara kesyurukan dan ketabahan. Mereka bersyukur ketika mendapat nikmat dan mereka bersabar dalam menghadapi cobaan.
Menariknya dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa, seluruh nikmat dan rahmat disebutkan hanya datang dari Allah Swt. Akan tetapi, cobaan dan kesulitan adalah hasil dari amal dan perbuatan manusia sendiri. Karena Allah Swt tidak menetapkan keburukan kecuali kasih sayang dan rahmat. Adapun sebagian besar masalah yang dihadapi manusia adalah karena amal dan perbuatannya sendiri. Dengan kata lain, mereka menzalimi diri mereka sendiri.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Manusia tanpa iman atau yang beriman lemah adalah kelompok manusia yang inkompeten. Dengan hanya sedikit nikmat mereka akan merasa sombong dan dengan hanya sedikit cobaan, mereka akan merasa putus asa.
2. Kenikmatan duniawi tidak kekal dan manusia jangan sampai bergantung padanya, karena ketika kehilangannya, dia akan merasa sedih dan putus asa.
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (37) فَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (38)
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (30: 37)
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (30: 38)
Melanjutkan ayat sebelumnya; sekelompok orang yang imannya lemah akan terlena dan sombong dengan sedikit nikmat, dan mereka akan putus asa bila nikmat tersebut terampas dari mereka. Ayat ini menyebutkan bahwa manusia-manusia yang beriman berpendapat bahwa nikmat dan rezeki di tangan Allah Swt.
Hikmah Allah Swt yang menentukan ukuran nikmat dan rezeki setiap manusia. Betapa banyak orang yang berupaya keras mengumpulkan harta dan kekayaan akan tetapi mereka sedikit mendapatkannya. Sebaliknya, banyak manusia yang bekerja dan berusaha secara wajar dan mereka mendapat nikmat dan manfaat yang melimpah.
Yang penting adalah upaya dan kerja keras kita proporsional, tidak berlebihan dan tidak kurang. Adapun manfaat dan nikmat yang kita dapatkan dari upaya dan jerih payah kita, itu bergantung pada banyak faktor yang sebagian besarnya kembali pada diri kita sendiri. Jikat kita terlampau menguras tenaga untuk mendapatkan kekayaan dan ternyata gagal, maka kita akan sedih dan putus asa. Akan tetapi jika menganggap upaya dan kerja keras kita adalah sebuah kewajiban, serta menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt, maka kita akan puas dan bersyukur dari apa yang kita miliki.
Lanjuta penjelasan ayat ini juga menguraikan tanggung jawab manusia kepada orang lain dan menegaskan bahwa orang yang memiliki rezeki lebih banyak memiliki tanggung jawab lebih banyak. Selain keluarganya sendiri, dia juga harus memikirkan orang-orang miskin sekitarnya. Di antara orang-orang miskin sekitarnya, sanak saudaranya merupakan prioritas.
Di akhir aya tadi disebutkan tentang niat dan motivasi dalam infak. Agar amal baik ini berkah bagi penginfak maka niat dan motivasinya adalah demi mendapat keridoan Allah Swt, bukan demi nama, posisi dan ketenaran. Syarat utama dalam infak tidak boleh ada pamrih.
Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jika kita menilai nikmat datangnya dari Allah Swt, maka kita tidak akan berpikir panjang untuk berinfak.
2. Jika infak dilakukan dengan tidak tulus, maka penginfak tidak akan mendapatkan apa-apa di akhirat kelak.
3. Saudara dan keluarga, memiliki hak dalam kekayaan seseorang yang harus diperhatikan.
4. Orang-orang kaya selain diwajibkan membayar khusus dan zakat, juga harus membantu memberantas kemiskinan dalam masyarakat, menginfakkan kekayaannya dan bukan hanya melaksanakan infak wajib saja.
5. Islam sangat memperhatikan masalah pemberantasan kemiskinan dalam masyarakat. Oleh karena itu, Islam memayungi kaum miskin dan papa.