Jalan Menuju Cahaya 731
Surat ar-Rum ayat 39-42.
وَمَا آَتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آَتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ (39)
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (30: 39)
Di akhir ayat pada pembahasan sebelumnya, disebutkan tentang pembahasan infak untuk kaum miskin dan papa. Pada ayat ini, disebutkan tentang infak di jalan Allah dan untuk bukan selain Allah. Disebutkan bahwa apa yang kalian berikan kepada orang lain, jika demi keridhoan Allah Swt dan tanpa ada maksud lain, maka pahala yang akan kalian terima dari Allah Swt akan berlipat ganda. Akan tetapi bila bantuan kalian kepada masyarakat bukan demi menggapai keridhoan Allah Swt, dan melibatkan niat lain, maka tidak ada pahala di dalamnya.
Sama pula hukumnya bagi orang yang memberikan pinjaman kepada orang lain, dia mengharapkan tambahan dana ketika pinjaman itu dilunasi. Karena tujuannya dari pemberian bantuan itu adalah menambah hartanya, maka bantuannya tidak mendapat pahala dari Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam memberikan pinjaman atau infak, masalah yang paling penting adalah niat dan motivasinya, bukan jumlah dan jenisnya.
2. Amal yang bernilai adalah yang berlandaskan niat pendekatan diri kepada Allah Swt, dan tanpa niat tersebut, perbuatan itu tidak bernili di hadapan Allah Swt.
3. Kehidupan dunia adalah sebuah pasar tempat masyarakat saling bertansaksi dan mengambil keuntungan, dan ada pula sekelompok manusia yang bertansaksi dengan Allah Swt demi mendapatkan pahala di akhirat kelak.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (40)
Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (30: 40)
Ayat ini memaparkan peran Allah Swt di alam semesta dan disebutkan bahwa penciptaan manusia serta penetapan rezeki, usia dan kematian, kemudian membangkitkan lagi manusia di Hari Kiamat, semuanya adalah urusan Allah Swt. Lalu mengapa manusia menyekutukan Allah Swt dengan sejumlah benda atau dengan orang lain? Apakah sekutu-sekutu Allah Swt tersebut memiliki andil pada diri manusia? Jika kaum Musyrik di masa lalu dan era modern ditanya akan hal ini, tentu jawaban mereka negatif. Karena jelas bahwa semua yang mereka sembah selain Allah Swt, tidak punya peran apapun dalam kehidupan manusia, dan bahwa keyakini ini mereka ikut hanya atas dasar fanatisme.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Masa lalu, sekarang dan masa depan, rezeki, usia dan kematian, semuanya ada di tangan Allah Saw. Maka hendaknya manusia menjadi hamba-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.
2. Sebab dan faktor alam adalah ciptaan Allah Swt. Kekuatan-kekuatan selain Allah Swt tidak memiliki independensi apapun dan mereka tidak akan mampu bahkan menciptakan makhluk paling kecil sekalipun.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ (42)
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (30: 41)
Katakanlah, “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (30: 42)
Menyusul ayat-ayat sebelumnya tentang kekeliruan keyakinan kaum Musyrik, ayat-ayat ini menegaskan bahwa terdapat hubungan langsung antara keyakinan dan perilaku masyarakat dengan kemunculan kefasadan dan kerusakan dalam masyarakat. Akar utama berbagai masalah adalah kekufuran, kesyirikan atau melupakan Allah Swt dengan kata lain, mereka tidak memperhatikan Allah Swt dalam amal perbuatan mereka dan melakukan banyak dosa. Mereka mengakibatkan dampak negatif dari amal perbuatan tersebut pada diri, keluarga dan masyarakat mereka. Sedangkan sebagian dampak lainnya akan dirasakan manusia di akhirat kelak.
Al-Quran menjelaskan kepada umat Muslim untuk menelaah sejarah kaum terdahulu atau menyaksikan dampak dari dosa dan kefasadan dalam kehidupan kaum moderen. Mereka harus mengetahui bahwa Allah Swt akan menunjukkan sebagiandampak dari amal perbuatan mereka di dunia ini agar mereka sadar dan berhenti berbuat dosa.
Dewasa ini, betapa banyak kita saksikan peninggalan peradaban kuno, peradaban yang di masa dulu yang kuat, makmur dan sejahtera. Akan tetapi kemudian runtuh akibat kezaliman dan kefasadan yang melanda masyarakatnya. Dan sekarang yang tersisa hanyalah puing-puing istana dan kemegahan peradaban mereka saja.
Menariknya, al-Quran menilai kesyirikan adalah akar dari semua dosa dan kefasadan dan menegaskan bahwa syirik adalah faktor kehancuran dan kebinasaan, dan apa yang menjadi faktor kebahagiaan dan ketenangan faktual umat manusia adalah ketauhidan dan penghambaan.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Perbuatan buruk dan fasad manusia akan berdampak besar pada alam dan mengakibatkan berbagai fenomena buruk. Kefasadan dalam lingkungan hidup akan menimbulkan bencana alam yang sangat merugikan manusia.
2. Lingkungan hidup, baik itu di darat maupun di laut, adalah amanah yang diserahkan Allah Swt kepada manusia. Namun yang pasti, Allah Swt tidak menetapkan manusia untuk berbuat semaunya pada amanah tersebut.
3. Perjalanan manusia mengelilingi dunia, jika memiliki tujuan yang jelas akan memberikan pelajaran berharga bagi manusia. Islam bahkan menganjurkan Musllim untuk bepergian serta menimba hikmah dan pelajaran.
4. Jika sebagian besar masyarakat terjebak kefasadan dan penyimpangan, maka masyarakat itu akan menjadi murka Allah Swt, dan orang yang beriman hendaknya berhijrah meninggalkan masyarakat tersebut.