Jalan Menuju Cahaya 734
Surat ar-Rum ayat 50-54.
فَانْظُرْ إِلَى آَثَارِ رَحْمَةِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (50) وَلَئِنْ أَرْسَلْنَا رِيحًا فَرَأَوْهُ مُصْفَرًّا لَظَلُّوا مِنْ بَعْدِهِ يَكْفُرُونَ (51)
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (30: 50)
Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin (kepada tumbuh-tumbuhan) lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning (kering), benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar. (30: 51)
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai angin dan hujan serta perannya yang membuat bahagia penduduk bumi dan seluruh makhluk hidup di atasnya. Sementara ayat-ayat ini menjelaskan bahwa angin dan hujan bergerak atas perintah dan kehendak Allah Swt dan dampaknya juga berada di bawah kekuasaan-Nya.
Jika Allah Swt menginginkan hujan menjadi sumber rahmat dan bumi yang mati di musin dingin bisa hidup dan hijau kembali, maka Dia mengirim angin dan hujan di musim semi. Dan jika Allah Swt berkehendak, Dia juga bisa mengirim angin yang membakar dan merusak, dimana angin ini membuat semua tumbuh-tumbuhan menjadi kering dan daun-daunnya menjadi kuning serta berjatuhan.
Hujan memiliki berkah yang sangat banyak bagi kehidupan umat manusia dan kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Tumbuh-tumbuhan dan pohon yang menghijau, udaya yang bersih, munculnya sumber-sumber mata air, sungai yang mengalir dan suhu yang seimbang hanyalah sebagian dari dampak rahmat besar tersebut. Namun faktor dan fenomena alam ini tidak seharusnya kita batasi, namun kita harus membawa dunia materi ini ke dunia setelah mati. Artinya, Allah Swt memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati di Hari Kiamat nanti.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Al-Quranul Karim menilai hujan sebagai rahmat ilahi yang menjadi sumber kehidupan bagi bumi dan penduduknya.
2. Turunnya hujan dan bumi yang hidup kembali menunjukkan kekuasaan Allah Swt untuk menetapkan kiamat dan menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.
3. Orang-orang yang lemah dan hanya memiliki kapasitas yang sedikit akan kehilangan imannya dan menjadi kafir ketika mereka menghadapi persoalan dan peristiwa pahit.;
فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ (52) وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآَيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ (53)
Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. (30: 52)
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (30: 53)
Ayat-ayat ini membagi masyarakat menjadi empat kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang secara lahiriah mereka hidup, namun mereka tidak memahami sama sekali tentang kebenaran dan mereka juga tidak beriman. Kelompok kedua adalah mereka yang tidak memiliki kesiapan untuk mendengar seruan Anbiya. Mereka berpaling dari ucapan kebenaran dan menjauhinya.
Sementara kelompok ketiga adalah mereka yang tidak memiliki “mata penglihatan kebenaran” dan mereka tenggelam dalam kesesatan. Dan kelompok keempat adalah orang-orang Mukmin, dimana mereka mencari kebenaran dengan mata dan telinga serta menerima kebenaran itu. Ketika memahami kebenaran, mereka pun tunduk terhadapnya.
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam budaya al-Quran, selain terdapat kehidupan dan kematian fisik, ada pula manusia yang ruhnya hidup atau mati. Terdapat orang-orang yang secara fisik meninggal dunia, namun menurut pandangan al-Qran, mereka hidup. Contohnya adalah para syuhada di jalan kebenaran. Namun ada pula orang-orang yang secara zahir hidup, namun menurut al-Quran mereka mati. Sebab, mereka dalam kesesatan dan mencegah dirinya untuk melihat cahaya pentunjuk ilahi.
Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jika manusia tidak memiliki kesiapan untuk menerima kebenara, maka perkataan kebenaran meskipun dari Nabi suci Muhammad Saw tidak akan berpengaruh terhadapnya.
2. Memiliki telinga, mata dan akal saja tidak cukup. Yang penting adalah semangat untuk menerima kebenaran yang akan membantu manusia untuk mendengar dan melihat kebenaran serta menerimanya.
3. Permusuhan terhadap kebenaran dan berpaling darinya akan menenggelamkan manusia ke dalam kesesatan yang lebih dalam sehingga kecil kemungkinannya untuk bisa kembali.
4. Tugas Anbiya dan para pemimpin agama adalah membimbing masyarakat, bukan memaksa mereka untuk menerima kebenaran.
5. Iman dan keyakinan hati saja tidak cukup, namun perlu pula penyerahan diri dalam perbuatan.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ (54)
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (30: 54)
Ayat ini menyinggung tahap-hatapa umur manusia dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Disebutkan bahwa ketika manusia terlahir dari ibunya hingga beberapa tahun, ialemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah menginjak usia remaja dan pemuda, ia menjadi kuat. Namun setelah tua, ia kembali lemah. Tahap-tahap ini telah ditentukan oleh Allah Swt dan manusia tidak memiliki peran di dalamnya.
Seandainya penciptaan ini diserahkan kepada manusia, maka tidak ada seorangpun yang ingin dirinya menjadi tua dan lemah. Oleh karena itu, kekuatan dan usia muda juga bukan dari manusia.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Awal dan akhir manusia adalah lemah. Orang yang berada di antara lemah tersebut, ia tidak seharusnya bangga dengan kekuatannya. Mengingat masa tersebut hanya singkat, maka ia harus menggunakannya sebaik mungkin.
2. Tahap-tahap lemah dan kuat manusia telah dirancang dengan program bijak Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.