Jalan Menuju Cahaya 736
Surat Luqman ayat 1-6.
Surat ini diturunkan di Mekah dan memiliki 34 ayat. Allah Swt pada surat ini selain menyinggung kebesaran penciptaan langit dan bumi serta seluruh makhluk hidup di dalamnya, juga menjabarkan peringatan penuh hikmah Nabi Luqman dalam hal ini. Oleh karena itu surat ini diberinama Luqman.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الم (1) تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ (2) هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ (3)
Alif Laam Miim. (31: 1)
Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmat. (31: 2)
Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (31: 3)
Sebanyak 29 surat dalam al-Quran dimulai dengan huruf Muqatta’ah, dan surat Luqman adalah salah satu di antaranya. Huruf Muqatta’ah adalah salah satu tanda kebesaran Allah Swt, dimana susunannya merupakan mukjizat dari Allah Swt dan tidak ada seorangpun yang dapat menghadirkan salah satu kita di dalamnya.
Sebuah kita yang ayat-ayatnya mengandung hikmah besar. Karena kita itu diturunkan dari sisi Allah Swt dan memiliki khazanah luar biasa besar. Tidak ada kebatilan di dalamnya, terjauhkan dari khurafat serta tidak ada hal lain kecuali kebenaran serta seruan pada kebenaran.
Meski ayat-ayat al-Quran diturunkan untuk hidayah bagi seluruh umat manusia, akan tetapi hanya orang-orang yang terhidayahkan yang dapat memanfaatkannya. Orang-orang zalim dan munkar tidak akan merasakan manfaatnya karena mereka menolak mendengar atau menerima al-Quran. Mereka adalah manusia-manusia yang hati mereka terselimuti debu kemunkaran sehingga tidak mampu menerima kebenaran.
Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hidayah masyarakat harus berdasarkan hikmah dan argumentasi kokoh. Oleh karena itu al-Quran adalah kitab hidayah.
2. Bimbingan dan hidayah umat manusia harus dibarengi dengan rahmat dan kecintaan sehingga dapat memberikan pengaruh yang maksimal.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (31: 4)
Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (31: 5)
Ayat-ayat ini, menjelaskan kata Muhsinin, orang-orang yang berbuat kebaikan, yang disebutkan pada ayat sebelumnya. Dijelaskan bahwa kebaikan ada di dua hal, kebaikan dalam amal dan kebaikan dalam keyakinan. Bagianpertama mencakup shalat dan zakat, sementara bagian kedua meliputi iman dan akhirat.
Pada prinsipnya dalam budaya agama, ibadah dan penyembahan kepada Allah Swt, tidak terpisah dari pelayanan kepada hamba Allah Swt. Dua hal ini saling terkait. Sayang sekali di dunia dewasa ini, banyak orang yang melupkana keterikatan dua hal tersebut. Mereka menunaikan shalat, berpuasa dan berdoa serta melakukan shalat berjamaah, akan tetapi tidak memperhatikan orang-orang miskin dalam masyarakat. Mereka beranggapan bahwa slahat dan ibadah mereka sudah cukup menjadi bekal mereka.
Di sisi lain, sebagian kelompok masyarakat lebih memperhatikan kondisi masyarakat dan golongan yang tidak mampu, akan tetapi mereka melupakan perintah agama lainnya seperti shalat dan berdoa. Ayat ini menyebutkan bahwa mereka yang masuk dalam hidayah Allah Swt akan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mereka adalah sekelompok manusia yang selain berzakat dan melakukan kebaikan untuk masyarakat, juga menunaikan shalat dan menghamba di hadapan Allah Swt.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam budaya Islam, shalat dan zakat tidak pernah terpisahkan. Penunaian shalat dan pembayaran zakat merupakan sirah bagi orang-orang Mukmin.
2. Orang-orang yang berbuat baik adalah mereka yang memikirkan cara bagaimana menyelesaikan masalah masyarakat dan juga tidak melupakan kewajiban pribadinya di hadapan Allah Swt.
3. Kebahagiaan selalu berhubungan dengan iman kepada Allah Swt dan Hari Kiamat serta tugas-tugas agama seperti shalat dan zakat. Iman tanpa amal atau amal tanpa iman, tidak akan berguna.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (6)
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (31: 6)
Ayat ini menyebutkan salah satu faktor terpenting dalam kesesatan manusia yaitu ucapan batil. Dalam buku-buku sejarah disebutkan sebagian pengusaha Arab berkunjung ke banyak tempat seperti Iran dan mempelajari kisah-kisah legenda seperti Rostam dan Esfandiar serta sejarah para raja terdahulu. Setelah mereka kembali ke Mekah, mereka mengumpulkan masyarakat dan berkata, “Jika Muhammad menceritakan kisah-kisah kaum Aad dan Tsamud, kami juga punya kisah-kisah lebih menarik untuk kalian.” Melalui cara ini mereka ingin mempengaruhi masyarakat dan menjauhkan mereka dari al-Quran.
Sebagian kelompok juga mendatangkan para penyanyi perempuan untuk melantunkan puisi-puisi cinta agar masyarakat tidak memperhatikan ayat-ayat indah dalam al-Quran yang dibawa Rasulullah. Betapa mereka mengolok Rasulullah Saw dan ayat-ayat al-Quran serta menilainya tidak berarti.
Ayat ini menyebutkan, mereka yang dengan segala macam cara berusaha menghalangi masyarakat untuk meniti jalan menuju Allah Swt, tanpa menyebutkan bukti dan argumentasi logis, serta menyebut ayat-ayat Allah Swt tidak berdasar dan tidak berarti, mereka akan merasakan siksa dan murka Allah Swt, serta akan merasakan kehinaan di dunia dan akhirat.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Segala ucapan yang menyimpang, berirama atau tidak, yang menjauhkannya dari jalan kebenaran dan membuatnya tersesat, adalah dilarang dalam agama.
2. Salah satu faktor penyimpangan masyarakat khususnya di kalangan pemuda adalah nyanyian atau musik yang menyesatkan serta syair-syairnya yang batil dan menyebabkan penyimpangan berdasarkan pada hawa nafsu duniawi.
3. Musuh-musuh menggelar perang dalam skala luas dan besar terhadap Islam melalui sarana budaya serta menyajikannya kepada masyarakat dalam berbagai kemasan seperti film, teater dan musik.