Jalan Menuju Cahaya 737
Surat Luqman ayat 7-11.
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آَيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (7)
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (31: 7)
Pada ayat sebelumnya, sebagian orang ingin menyibukkan masyarakat dengan ucapan batil dan sia-sia sehingga mereka tidak mengikuti perkataan yang benar dan menolak kebenaran. Mereka bahkan tidak bersedia mendengarkan ayat-ayat al-Quran, apalagi untuk merenungkan pesan langit ini dan kemudia beriman kepadanya jika mendapatinya masuk akal. Tentu saja alasan mereka berpaling dari kebenaran adalah kecongkakan dan kesombongan. Mereka memandang dirinya lebih tinggi dari Rasul Saw dan orang-orang Mukmin dan tidak bersedia mendengarkan perkataan mereka.
Jelas bahwa mental seperti ini akan menyebabkan manusia terjatuh dan mereka akan terjebak dalam azab ilahi. Sebab, kekufurannya bersumber dari kecongkakan dan kesombongan, bukan karena kebodohan dan ketidaktahuannya tentang ayat-ayat ilahi.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kesombongan akan menghalangi seseorang untuk menerima kebenaran dan realitas. Sifat ini akan membuat ia tersesat dan terjatuh.
2. Mendengarkan ucapan yang batil dan sia-sia akan menyebabkan manusia kehilangan kesiapan untuk menerima dan menyimak perkataan yang benar.
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ (8) خَالِدِينَ فِيهَا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan. (31: 8)
Kekal mereka di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (31: 9)
Sudah kita sebutkan bahwa sebagian orang justru mengikuti ucapan yang batil ketimbang mendengarkan perkataan yang benar. Orang-orang seperti ini menyebarluaskan kekufuran dan pada akhirnya mereka akan merasakan azab ilahi. Namun sebaliknya, ada orang-orang yang memperoleh pahala yang besar dari Allah Swt karena mereka beriman kepada awal penciptaan dan hari akhir serta melakukan amal saleh.
Orang-orang yang membaca dan merenungkan ayat-ayat al-Quran, dan kemudian mengimaninya atas dasar pemahaman, mereka adalah golongan yang tunduk kepada Sang Pencipta dan meninggalkan kesombongan, mereka menerima semua perintah Tuhan dan berinteraksi dengan sesama atas dasar tawadhu. Allah Swt menjanjikan balasan surga untuk orang-orang seperti itu dan tentu saja janji ini akan benar-benar terwujud, karena Dia adalah Maha Bijaksana dan Maka Kuasa. Dia tidak lemah dalam memenuhi janjinya dan juga tidak memberi janji tanpa pertimbangan.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Iman dengan sendirinya atau amal saleh dengan sendirinya, tidak akan mengantarkan seseorang menuju surga. Iman beserta amal saleh akan membawa kesuksesan dan mengantarkan manusia pada kebahagiaan abadi.
2. Surga adalah sebuah tempat untuk berbagai kenikmatan ilahi baik itu material maupun spiritual. Jadi, kejenuhan dan kebosanan sudah tidak ada artinya di sana.
3. Kita harus yakin pada janji dan balasan Tuhan serta tidak membandingkannya dengan janji-janji orang lain, yang biasanya hanya dusta atau tidak berdaya untuk memenuhinya.
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ (10) هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (11
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (31: 10)
Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata. (31: 11)
Ayat ini menyebut lima tanda-tanda kekuasaan Allah Swt dalam penciptaan yaitu; tegaknya langit tanpa tiang, keberadaan gunung-gunung sebagai pasak bumi, penciptaan berbagai jenis binayang dan makhluk hidup, turunnya hujan dari langit dan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan dan tanaman. Semua ini menunjukkan sebuah hal yaitu kekuasaan mutlak Sang Pencipta, dimana sama sekali tidak ada unsur lain yang menjadi sekutunya.
Ayat tersebut menyinggung tiang yang tidak terlihat yang menopang langit dan benda-benda langit serta menjaga keseimbangan di antara mereka. Ayat itu juga berbicara tentang peran penting gunung-gunung dalam menjaga bumi dari gempat. Ini adalah beberapa contoh dari aspek ilmiah al-Quran. Menariknya, persoalan ilmiah ini dikemukakan ketika manusia sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang tema-tema itu.
Meskipun tanda-tanda kebesaran Tuhan tampak nyata di alam semesta, namun sayangnya sekelompok orang atas dasar kebodohan atau kesalahan informasi, menyamakan individu atau benda tertentu sejajar dengan Tuhan, dan mengira bahwa sekutu-sekutu ini turut menentukan nasib mereka. Seakan-akan pengaturan sebagianurusan semesta berada di tangan sekutu-sekutu itu dan Tuhan telah menyerahkan pekerjaannya kepada mereka.
Al-Quran kemudian menantang orang-orang yang menyekutukan Allah Swt dan meminta mereka untuk menunjukkan contoh karya yang diciptakan oleh sekutu Tuhan. Apakah mereka mampu menciptakan seekor nyamuk atau lalat yang kecil? Jika tidak, bagaimana mereka akan menciptakan langit dan tumbuh-tumbuhan.
Di bagian akhir, al-Quran menganggap pemikiran dan keyakinan seperti itu sebagai bentuk perilaku zalim terhadap diri sendiri dan Tuhan. Dengan kata lain, menyekutukan Allah Swt adalah sebuah perbuatan zalim terhadap diri sendiri dan Sang Pencipta.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Miliaran bintang dan planet yang bergantungan di langit adalah salah satu dari tanda kekuasaan Allah Swt dan juga bukti dari aspek ilmiah al-Quran. Kitab suci ini menyebut perkara ilmiah ini dengan istilah tiang yang tidak terlihat atau yang dikenal sekarang dengan gaya gravitasi.
2. Air, tanah, tumbuhan dan alam adalah sesuatu yang sangat bernilai di sisi Tuhan. Oleh karena itu, manusia harus menghormati lingkungan hidup dan menjaga amanah-Nya dengan baik.
3. Salah satu jalan untuk mengenal Tuhan adalah membandingkan antara kekuasaan Dia dengan kekuasaan zat lain.
4. Orang-orang yang mencari selain Tuhan, mereka relah berlaku zalim; sebuah kezaliman yang menyeret mereka pada kesesatan.