Feb 21, 2018 11:46 Asia/Jakarta

Surat Luqman ayat 12-13.

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (31: 12)

Ayat ini dan beberapa ayat setelahnya menjelaskan tentang Luqman dan nasehat-nasehatnya kepada putranya. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan berbagai riwayat, Luqman bukan nabi, akan tetapi dia adalah seorang mulia sehingga Allah swt mengajarkan hikmah kepadanya. Hikmah adalah pandangan dan kesadaran yang muncul di bawah naungan makrifat dan pengaruhnya akan disaksikan dalam perilaku dan sikap manusia.

Menjaga lisan, mengontrol perut dan syahwat, amanah, kerendahan hati, dan menghindari pekerjaan yang sia-sia, adalah termasuk di antara masalah-masalah yang akan mempersiapkan munculnya hikmah dalam diri manusia. Tentunya mencapai derajat hikmah tidak hanya khusus bagi Luqman saja, karena dalam riwayat disebutkan bahwa setiap mukmin yang menunjukkan kejujuran dan keikhlasan dalam perilaku dan ucapannya, maka Allah Swt akan melimpahkan nikmat besar tersebut kepadanya.

Meski peringatan dan nasehat-nasehat Luqman itu adalah masalah yang dapat disampaikan Allah Swt secara langsung dalam al-Quran, akan tetapi penjelasannya melalui lisan Luqman untuk putranya adalah agar makna faktual hikmah itu jelas bagi kita serta menekankan tugas para pemilik hikmah dalam membimbing dan menasehati orang lain.

Nasehat Luqman kepada putranya dapat disimpulkan dalam dua hal; pertama, ucapan dan perilaku terpuji dalam hubungan kekeluargaan dan sosial, sementara kedua adalah pelaksanaan perintah Allah Swt dalam kehidupan. Pada hakikatnya dua pembagian tersebut adalah makna hikmah dan seorang pemilik hikmah pasti memiliki dua kriteria tersebut.

Jelas pula bahwa pencapaian derajat tinggi dan nikmat besar ini menuntut pensyukuran yang luar biasa besar. Adapun pensyukuran nikmat yang sejati adalah penggunaan nikmat secara tepat sehingga manfaatnya akan kembali pada diri manusia dan membantunya berkembang. Pemanfaatan nikmat tidak pada tempatnya adalah bentuk kekufuran nikmat, meskipun mengucapkan syukur dari lisannya. Karena pensyukuran nikmat secara verbal saja tidak akan berguna bila dibarengi dengan kekuguran atas nikmat pada praktiknya. Bentuk pensyukuran nikmat seperti itu akan merugikan manusia sendiri.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Bila manusia biasa mampu menjaga ucapan dan perilakunya, maka dia akan mendapatkan rahmat dan hikmah dari Allah Swt, meski dia bukan tergolong orang yang berilmu.

2. Manfaat dan kerugian perilaku manusia akan kembali pada dirinya sendiri. Sebagaimana pensyukuran atau kekufuran atas nikmat Allah Swt juga akan memiliki dampak yang akan kembali pada diri manusia sendiri.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (31: 13)

Nasehat dan wejangan pertama Luqman kepada putranya adalah menjauhi kesyirikan, baik dalam keyakinan atau dalam perilaku. Kesyirikan adalah fenomena durjana yang selalu ada di setiap masa. Banyak masyarakat yang karena kebodohan dan ketidaksadaran mereka menganggap benda atau sesuatu yang bernyawa berperan sangat menentukan dalam kehidupan mereka, dan oleh karena itu mereka menyembahnya.

Namun banyak orang-orang Mukmin yang meyakini Keesaan Allah Swt, tanpa mereka sadar telah melakukan kemusyrikan dengan bersujud di hadapan selain Allah. Mereka adalah hamba-hamba kekayaan dan kekuasaan. Dan untuk mencapainya mereka siap melakukan segala kejahatan dan pelanggaran.

Luqman yang mengetahui dampak buruk kesyirikan, sebelum menyampaikan nasehat akhlaknya, terlebih dahulu memperingatkan putranya untuk menjauhi kesyirikan. Luqman menilai kesyirikan sebagai sebuah kejahatan yagn pada tahap awal akan merugikan manusia itu sendiri dan kemudian akan merugikan para nabi dan agama Allah Swt.

Menariknya adalah bahwa ayat ini secara tidak langsung menjelaskan tugas orang tua dalam mendidik dan membimbing akidah putra mereka. Meski demikian, cara penjelasannya juga penting. Menasehati dengan cara-cara perintah dan instruksi sebaiknya dihindari, serta menggunakan kata-kata lembut dan penuh kasih sayang.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Semua manusia memerlukan nasehat. Berdasarkan banyak ayat dan riwayat, terkadang Imam Ali as berkata kepada para sahabatnya, “Nasehatilah aku, karena ada pengaruh dalam mendengar yang tidak terdapat dalam mengetahui”.

2. Hendaknya kita mempelajari metode bimbingan anak dari para pemimpin agama sehingga kita jangan sampai melakukan kekeliruan. Sebagai orang tua, kita harus berhati-hati agar tidak melupakan anak-anak kita. Anak-anak memerlukan nasehat dan bimbingan orang tua.

3. Salah satu cara terbaik membimbing anak adalah menghormatinya, menyikapinya dengan penuh kasih sayang serta mengajaknya berbicara dengan penuh keakraban.