Feb 21, 2018 11:49 Asia/Jakarta

Surat Luqman ayat 14-16.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (31: 14)

Pada pembahasan sebleumnya, telah kita bahas bersama soal nasehat Luqman untuk putranya. Ayat ini dan satu ayat berikutnya, terdapat sisipan kalimat Allah Swt di antara nasehat Luqman kepada putranya. Sebelum menyebutkan nasehat Luqman untuk putranya agar menjauhi kesyirikan, Allah Swt terlebih dahulu memerintahkan perhatian anak pada nilai kedua orang tua serta menjelaskan peran kedua orang tua dalam bimbingan agama anak-anak mereka.

Ayat ini menyebutkan bahwa Allah Swt memberikan penekanan kepada ayah dan ibu karena Allah Swt menciptakan anak-anak melalui keduanya serta kedua orang tua memiliki peran besar dalam proses pembuahan. Setelah proses pembuahan, sembilan bulan masa kehamilan dan dua tahun usia menyusui, semuanya adalah tugas ibu yang semuanya dilalui dengan penuh kasih sayang dan cinta.

Pada tahap berikutnya, Allah Swt menjelaskan betapa besar kesulitan yang telah dihadapi ibu pada masa kehamilan dan menyusui. Orang karena itu, Allah Swt memerintahkan anak-anak untuk memberikan perhatian besar kepada ibu. Selain bersyukur atas nikmat Allah Swt, kita juga harus bersyukur atas wujud kedua orang tua dan seluruh jerih payah mereka.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Penghormatan kepada kedua orang tua adalah kewajiban manusiawi, oleh karena itu anak harus berbakti kepada orang tua mesiki mereka adalah kafir dan tidak berhak menistakan keduanya.

2. Dalam budaya Islam, ibu memiliki posisi yang sangat istimewa, karena pengorbanannya untuk anak dan peran ibu dalam melanjutkan generasi umat.

3. Namun meski demikian, kewajiban di hadapan Allah Swt lebih utama di atas kewajiban kepada orang tua. Perhatian dan bakti kepada orang tua jangan sampai melupakan kita dari Allah Swt.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15)

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (31: 15)

Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini memperingatkan anak-anak untuk menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua, namun para anak juga jangan sampai kehilangan kebebasan berpikir mereka yang berarti kepatuhan mutlak pada kedua orang tua. Apalagi banyak orang tua yang mengikuti pemikiran dan ideologi menyimpang, serta berupaya agar anak-anak mereka mengikuti jejak keduanya. Namun Allah Swt memperingatkan manusia agar tidak mematuhi orang tua dalam hal ketauhidan.

Dijelaskan pula bahwa meski kedua orang tua mengikuti jalan kekufuran, anak harus tetap bersikap hormat dan baik kepada mereka. Anak tidak berhak memutus hubungan apapun dengan kedua orang tua mereka. Selama keduanya hidupa, anak harus menjaga hubungan kekeluargaan dan menghormati mereka. Nasib kedua orang tua dari sisi keyakinan harus diserahkan kepada Allah Swt yang Maha Mengetahui, dan bahwa anak tidak berhak mengambil langkah yang akan merugikan kedua orang tuanya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Ketaatan kepada orang tua bersyarat dan tidak mutlak. Tuntutan dan permintaan mereka harus dipenuhi selama tidak bertentangan dengan kehendak dan perintah Allah Swt.

2. Mengikuti adat istiadat sebagai budaya nasional dengan status lainnya, hanya bernilai bila tidak bertentangan dengan akal dan syaraiat. Karena jika tidak demikian maka termasuk mengikuti secara buta budaya irasional dan terlarang dalam agama.

3. Menurut Islam, kerukunan hidup dengan orang-orang non-Muslim hanya boleh bila atas kerukunan tersebut, umat Islam tidak terpengaruh oleh kepercayaan dan nilai-nilai non-Muslim serta tidak mengikuti budaya mereka.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16)

(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (31: 16)

Ketika memperhitungkan amal baik danburuknya, biasanya manusia hanya memperhatikan pekerjaan besarnya saja dan melupakan pekerjaan-pekerjaan kecilnya. Padahal pengulangan dan berlanjutnya pekerjaan-pekerjaan kecil itu pada akhirnya mengacu pada pekerjaan-pekerjaan besar. Oleh karena itu, disebutkan bahwa hal-hal kecil dalam kehdiupan manusia memiliki pengaruh tidak lebih kecil dari pekerjaan-pekerjaan besarnya.

Ayat ini kembali menyinggung nasehat Luqman kepada putranya bahwa Allah Swt memperhatikan semua hal yang dilakukan manusia. Luqman berkata, “Wahai putraku! Pekerjaanmu baik kecil atau bear, terselubung atau terang-terangan, tidak ada bedanya bagi Allah Swt. Bahkan pekerjaan terkecil dan di tempat paling tersembunyi pun, tidak akan terlewatkan dari pengetahuan Allah Swt. Di Hari Kiamat kelak, Allah Swt akan menetapkan pahala dan hukuman bagi semua amal hamba-Nya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Perhatian anak pada pengadilan di Hari Kiamat dan hisab amalan manusia, merupakan salah satu tugas orang tua untuk memahamkan putra-putri mereka.

2. Allah Swt mencatat seluruh amal manusia baik besar atau kecil.

3. Keimanan manusia pada Hari Kiamat dan perhitungan amal perbuatannya, akanmenjadi modal baginya untuk beramal saleh di dunia. Amal manusia tidak akan hilang dan bahkan dampaknya akan menyertainya hingga Hari Kiamat kelak.