Feb 21, 2018 12:14 Asia/Jakarta

Surat Luqman ayat 17-19.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17)

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (31: 17)

Pada dua pembahasan sebelumnya, telah kita singgung beberapa nasehat Luqman kepada putranya. Setelah penekanan terhadap prinsip-prinsip ideologi, pada ayat ini, Luqman menyinggung masalah ibadah dan sosial dan mengatakan, “Setelah menerima ketauhidan, tugas pertamamu adalah menyembah Allah Swt dan berdoa kepada-Nya dalam bentuk shalat. Shalat akan mengikatkanmu dengan Allah Swt dan menguatkan imanmu.

Sehalat sendiri saja tidak cukup dan tidak bisa seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia harus mendorong banyak orang untuk mendirikan shalat dan memasyarakatkannya. Sebagaimana setiap orang memiliki tugas untuk melawan keburukan dalam masyarakat. Dalam masyarakat, harus ada upaya untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah keburukan, karena orang-orang yang jahat akan terus berupaya melawan kebaikan dan kebenaran. Orang-orang Mukmin tidak boleh berdiam diri dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Mereka harus kokoh dan berkomitmen di jalan kebenaran.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Tekad dan keingingan kuat untuk sampai pada tujuan ilahi merupakan tuntutan penting keimanan kepada Allah Swt dan tanpa itu semua tidak akan ada upaya yang membuahkan hasil.

2. Imbauan untuk menunaikan shalat dan agar berkomitmen dalam melaksanakannya, adalah tugas kedua orang tua kepada putra-putri mereka.

3. Anak-anak harus dididik sedemikian rupa sehingga mereka merasakan tanggung jawab di hadapan berbagai masalah masyarakat, serta peduli akan masalah kebaikan dan keburukan dalam masyarakat.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (31: 18)

Pada ayat ini, Luqman menyinggung sejumlah perilaku buruk dan melarang putranya mendekati perbuatan tersebut. Kesombongan, takabur dan bangga diri, adalah sumber dari banyak perilaku buruk. Pada ayat ini terdapat dua contoh dari sikap tidak terpuji. Satu di antaranya adalah tidak peduli dengan meremehkan orang lain. Penjelasannya, sebagian orang memiliki sifat tersebut karena ingin menggapai ketenaran, kekayaan, harta dan kekuasaan. Mereka menilai diri mereka lebih baik dari orang lain.

Poin laing yang disinggung Luqman adalah cara bersikap dalam masyarakat. Sebagian orang alih-alih berendah diri, mereka sedemikian sombong dan takabur. Seolah-olah mereka adalah pemimpin masyarakat dan oleh karena itu mereka merasa orang lain yang harus tunduk dan merendahkan diri.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Bersikap ramah dan murah senyum adalah salah satu imbauan Luqman kepada putranya.

2. Nasehat Luqman tersebut pada hakikatnya merupakan peringatan dari Allah Swt kepada seluruh umat manusia untuk bersikap luhur.

3. Para orang tua harus mendidik putra-putri mereka sejak usia kecil sehingga ketika dewasa kelak dia terjauhkan dari sikap-sikap buruk.

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (31: 19)

Pada ayat ini Luqman menghimbau putranya untuk melakukan dua pekerjaan mulia dan mengatakan, “Jagalah keseimbangan dalam langkah dan tata krama kehidupan, agar kau tidak menempuh jalan pemborosan dan penyia-nyiaan, jangan terlalu cepat dan jangan lambat berjalan, melainkan bergeraklah dengan seimbang.”

Jagalah keseimbangan bukan hanya dalam sikap melainkan dalam ucapan. Jangan terlalu cepat dan jangan terlalu perlahan berbicara dengan orang lain, jangan berteriak dan jangan terlalu lirih ketika berbicara. Jangan beranggapan bahwa dengan suara keras masyarakat akan menerima ucapanmu. Ketahuilah bahwa masyarakat menilai buruk suara keledai karena telah melebihi batas normal.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Di antara masalah penting yang perlu diajarkan kedua orang tua kepada putra-putri mereka adalah menjaga kesantunan dalam masyarakat baik dalam perilaku maupun ucapan.

2.  Menjauhi segala yang berlebih-lebihan dan menjaga keseimbangan dalam segala urusan adalah yang ditekankan Allah Swt dalam al-Quran. Berbicara dengan suara keras dan berteriak adalah perilaku buruk yang tidak diterima Allah Swt.