Jalan Menuju Cahaya 741
Surat Luqman ayat 20-24
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ (20)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (31: 20)
Pada pertemuan sebelumnya, telah disinggung nasehat dan bimbingan Luqman untuk putranya di bidang akidah, akhlak dan sosial. Ayat ini kembali menyinggung topik sebelumnya tentang ketauhidan namun kali ini ditujukan kepada seluruh umat manusia. Luqman berkata, Allah Swt menciptakan langit dan bumi sedemikian rupa dan mengaturnya demi kepentingan umat Islam. Berbagai fenomena alam termasuk matahari dan bulan serta rotasi bumi mengelilingi matahari, menciptakan kondisi yang ideal bagi kehidupan manusia.
Lautan, benua, berbagai jenis tambang, segala macam spesis hewan dan tumbuh-tumbuhan di darat dan laut, serta hasil pertanian dan lain-lain, semuanya adalah demi memudahkan hidup manusia. Sebagiannya berada di bawah pengawasan manusia dan urusan sebagian lainnya hanya berada di tangan Allah Swt.
Selain itu, Allah Swt telah menyediakan semua nikmat materi yang diperlukan tubuh manusia, dan juga nikmat batin yang disampaikan melalui para nabi dan rasul-Nya serta kitab-kitab langit. Akan tetapi sayang sekali umat manusia sepanjang sejarah alih-alih mensyukuri nikmat tersebut, justru melawan dan menentang Allah Swt tanpa alasan rasional dan ilmiah.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Manusia adalah makhluk terbaik di alam semesta ini. Langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya, seluruhnya diciptakan agar manusia dapat memanfaatkannya.
2. Nikmat Allah Swt untuk manusia bukan hanya melimpah melainkan juga beragam, baik dari sisi materi maupun maknawi atau lahiriah dan batin. Lalu mengapa manusia tidak mensyukurinya?
3. Berdebat dan berargumentasi hanya akan memberikan manfaat bila disandarkan pada ilmu dan rasionalitas atau berdasarkan hidayah dan kitab samawi.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ (21)
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (31: 21)
Pada ayat sebelumnya disebutkan mereka meragukan keberadaan Allah Swt sementara mereka tidak memiliki rasional dan ilmiah untuk membuktikannya. Ayat ini menegaskan, bahwa satu-satunya alasan mereka adalah demi melestarikan tradisi dan budaya nenek moyang mereka. Mereka enggan melepas tradisi dan budaya nenek moyang mereka serta bersikeras menjalangkan perilaku dan keyakinan batil para pendahulu mereka. Sementara perspektif seperti ini tidak benar, batil dan merupakan hasutan setan.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Fanatisme pada keyakinan batil merupakan penghalang utama penerimaan kebenaran. Akal dan kemampuan analisa manusia akan terhalang mencerna hakikat.
2. Mempertahankan budaya dan tradisi nasional hanya akan bernilai jika tidak bertentangan dengan agama dan akal. Karena jika bertentangan maka akan menjadi faktor dekandensi dan kehancuran.
3. Setan secara langsung menyeru manusia menuju jalan kebatilan dan penyimpangan.
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ (22) وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (23) نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ (24)
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (31: 22)
Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (31: 23)
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (31: 24)
Tiga ayat tersebut membagi umat manusia menjadi dua kelompok; kelompok pertama adalah mereka yang menerima dan menyerahkan diri mereka di hadapan perintah Allah Swt, sementara kelompok kedua adalah mereka yang mengingkari dan melawan perintah Allah Swt. Kelompok pertama memegang teguh tali hidayah Allah dan menempuh jalan benar. Mereka adalah orang-orang yang saleh. Adapun kelompok kedua, meski mereka memiliki seluruh kelezatan dan kenikmatan dunia, namun pada akhirnya mereka akan merasakan kepahitan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Nasib buruk mereka di dunia dan di akhirat tidak akan sama.
Namun perlu diperhatikan bahwa Rasulullah Saw tidak merasa senang melihat orang-orang Kafir yang mengganggu beliau karena mereka akan merasakan azab atas perbuatan mereka. Beliau merasa kesedihan mendalam karena penyimpangan mereka. Akan tetapi mereka sendiri yang memilih jalan kekufuran, namun meski demikian, Rasulullah Saw tidak pernah lelah menyeru mereka kepada hidayah.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jika seluruh alam semesta berserah diri pada perintah Sang Pencipta dan Allah Swt menetapkan semuanya sebagai manfaat bagi manusia, lalu mengapa umat manusia tidak berserah diri kepada Allah Swt?
2. Di dunia, manusia memilih tempat-tempat bersandar kepada selain Allah Swt. Akan tetapi sandaran bagi orang-orang Mukmin hanya Allah Swt dan mereka memegang teguh tali hidayah-Nya, beramal saleh dan mencari jalan keselamatan. Berdasarkan riwayat, para nabi dan imam adalah tali hidayah Allah Swt yang kokoh.
3. Dalam kehidupan duniawi, manusia hendaknya memilih jalannya dengan melihat pada masa depan manusia dan merenungkannya sehingga dia tidak terjebabk nasib buruk di penghujung jalan.