Feb 21, 2018 12:23 Asia/Jakarta

Surat Luqman ayat 25-28.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (25) لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (26)

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah;” tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (31: 25)

Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (31: 26)

Ayat ini, termasuk salah satu ayat yang paling jelas mengenai sesuatu yang diterima oleh masyarakat awam, bahkan orang-orang Musyrik sendiri. Ayat ini menjelaskan, ketika manusia ditanya siapakah yang menciptakan langit dan bumi, maka secara spontan mereka akan mengatakan Tuhan. Sebab seluruh manusia secara fitrahnya meyakini dirinya sendiri ada yang menciptakan, apalagi alam semesta beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya.

Menurut penjelasan surat Luqman ayat 25, orang-orang Musyrik sendiri meyakini adanya Tuhan. Mereka juga tidak meyakini berhala yang disembahnya sebagai pencipta alam. Tapi, orang-orang Musyrik meyakini berhala tersebut terlibat dalam pengaturan alam semesta ini.

Di ayat selanjutnya, ditegaskan bahwa seluruh yang dilangit dan yang di bumi merupakan ciptaan Allah Swt. Oleh karena itu, ibadah pun hanya ditujukan kepadanya semata, bukan kepada berhala, orang ataupun sesuatu lainnya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang-orang Musyrik tidak menolak keberadaan Allah Swt sebagai pencipta. Tapi penyelewengan yang mereka lakukan adalah menyembah berhala dan meyakini berhala tersebut akan mengabulkan permohonannya.

2. Ketuhanan adalah masalah fitrah, bahkan orang-orang Musyrik pun menerima Tuhan sebagai pencipta dirinya dan alam semesta.

3. Kebanyakan penyimpangan dan kesesatan akibat kebodohan dan ketidaksadaran manusia. Gerakan kebangkitan para nabi dan Rasul Allah Swt untuk menyadarkan manusia dan mencegah terjadinya kesesatan dan peyimpangan.

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (27)

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (31: 27)

Ayat ini menjelaskan keagungan kalimah Allah Swt, dan keterbatasan manusia dalam mengungkapkannya. Bahkan, jika seluruh pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tintanya, maka manusia tetap tidak akan mampu menuliskan kalimah Allah Swt.

Maksud kalimah di ayat ini menunjukkan berbagai jenis ciptaan Tuhan di alam semesta ini. Semua itu menjelaskan ilmu dan kekuatan Allah Swt yang tidak terbatas.

Kebanyakan para ilmuwan menyampaikan ilmunya melalui pena dan kertas yang terbatas. Tapi ilmu Allah Swt tidak mengenal batas, bahkan jika seluruh pohon digunakan sebagai pena dan air laut menjadi tintanya tetap tidak akan bisa menjelaskan ilmu Tuhan yang tidak terbatas. Manusia tidak akan bisa menghitung keagungan ilmu Tuhan, kebesaran dan limpahan karunia-Nya yang tidak terhitung.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Alam semesta ini sangat besar dibandingkan apa yang bisa diungkapkan oleh manusia. Dunia tidak melihat dengan kacamata yang terbatas dan kecil, sebab akan terjebak berpikir sempit.

2. Seluruh fenomena di alam semesta ini menjadi bukti adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam. Oleh karena itu, manusia jangan menyembah berhala. Sebab, hanya Allah Swt yang berhak disembah sebagai pemilik sejati ilmu, keagungan serta pencipta alam semesta raya.

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (28)

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (31: 28)

Melanjutkan penjelasan ayat sebelumnya, ayat ini kembali mengungkapkan keagungan kekuasaan Allah Swt yang tidak terbatas. Ayat ini menjabarkan bahwa kekuasaan Allah begitu besar, bahkan menciptakan dan membangkitkan semua manusia sama seperti satu orang saja. Semua itu sangat mudah bagi Allah yang Maha Kuasa. Sedikit dan banyak, mudah dan sulit tidak ada maknaya di hadapan kekuasaan Allah Swt yang tidak terbatas.

Di ayat ini juga disinggung mengenai kekuasaan Allah Swt yang tidak hanya mampu menciptakan dan membangkitkan manusia. Bahkan, Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, mengetahui semua perbuatan manusia dengan ilmu-Nya dan memberikan ganjaran yang sesuai kepada hamba-hamba-Nya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Waktu, tempat dan angka memiliki nilai bagi manusia, tapi tidak berarti di hadapan ilmu dan kekuasaan ilahi. Jumlah satu atau seluruh makhluk maupun unsur waktu tidak berpengaruh sama sekali bagi ilmu Tuhan. Misalnya, tidak ada perbedaan antara menciptakan satu miliar orang dan satu orang bagi Allah Swt. Sebab semua itu mudah dalam ilmu Tuhan Yang Maha Kuasa.

2. Jika kita meyakini bahwa Allah Yang Maha Kuasa mengetahui seluruh perbuatan yang di dunia ini, maka akan lebih berhati-hati dan tidak tergelincir di jalan yang menyimpang.