Jalan Menuju Cahaya 743
Surat Luqman ayat 29-34.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (29) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (30)
Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (31: 29)
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (31: 30)
Pada pembahasan sebelumnya, kita sudah mengupas tentang ilmu dan kekuasaan Allah Swt yang terbentang di alam semesta. Semua ini menunjukkan kekuasaan ilahi yang tidak terbatas. Selain itu, telah dijelaskan mengenai kekuasaan Allah Swt yang menciptakan dan membangkitkan manusia di Hari Kiamat kelak.
Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya tentang kekuasaan Allah Swt mengenai perputaran siang dan malam. Allah Swt berfirman kepada Rasul-Nya dan juga orang-orang Mukmin, untuk memperhatikan pergantian siang dan malam, perubahan hari, bulan dan tahun, juga pergantian musim; dari musim semi, musim panas, musim gugur hingga musim dingin.
Semua itu menunjukkan bumai dan alam raya ini berada dalam kekuasaan Allah Swt. Perubahan yang terjadi secara akurat dan sistematis tersebut saat ini bisa dianalisis melalui sains, dan semua itu menunjukkan keagungan kuasa ilahi.
Ayat ini menyebutkan kekuasaan Allah Swt bukan hanya di bumi saja, tapi juga matahari dan bulan, bahkan seluruh tata surya di jagat raya yang mempengaruhi kehidupan manusia di bumi. Allah Swt menciptakan semua itu tersusun secara rapi di tempatnya masing-masing, sehingga makhluk hidup di bumi, baik manusia, hewan maupun tumbuhan bisa melanjutkan kehidupannya. Kondisi tersebut akan terus berlanjut selama Allah Swt menghendakinya hingga tibanya Hari Kiamat.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jalan mengenal Tuhan adalah dengan mengkaji alam semesta ini, dan menyingkap rahasianya. Al-Quran menegaskan metode tersebut di dalam berbagai ayatnya.
2. Alam semesta ini memiliki waktu dan batasan tertentu. Dunia diciptakan dan akan berakhir di satu titik sesuai ketentuan dan ketetapan dalam ilmu Tuhan.
3. Allah Swt adalah hakikat yang kekal dan tidak akan pernah berubah. Selain Tuhan, seperti alam semesta akan fana dan binasa.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ آَيَاتِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (31) وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ (32)
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (31: 31)
Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (31: 32)
Melanjutkan ayat sebelumnya, dua ayat ini menyinggung tanda-tanda keberadaan Tuhan di alam semesta sebagai pelajaran bagi manusia. Ayat ini menjelaskan tentang gerak kapal laut yang berlayar di laut dengan membawa penumpang baik manusia maupun barang sebagai salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.
Dewasa ini, meskipun terdapat berbagai alat transportasi seperti mobil, kereta api dan pesawat terbang, tapi tetap saja penggunaan sarana angkutan laut seperti kapal laut masih dipergunakan untuk memindahkan manusia maupun barang. Saat ini, laut merupakan jalur transportasi terbesar yang menghubungkan antarbangsa dan negara dari tempat yang jauh dan dekat. Laut laksana permadani lembut yang terhampar untuk melayani kebutuhan manusia.
Al-Quran menyinggung laut sebagai karunia ilahi. Peristiwa yang terjadi di laut merupakan tanda-tanda keberadaan Allah Swt, sekaligus pelajaran bagi umat manusia. Ketika laut diterpa topan, gelombang laut mengombang-ambing kapal. Orang yang berada di kapal merasakandirinya berada dalam ancaman bahaya. Di saat kritis itulah mereka memohon pertolongan Allah Swt, karena tidak ada yang bisa menolongnya.
Tapi sebagian manusia tidak bersyukur. Sebab setelah selamat dari mara bahaya hingga sampai di darat, mereka kembali melupakan Tuhan yang telah menolongnya. Tapi sebagian lain setelah mengalami peristiwa ini tersadarkan dan menempuh jalan yang lurus.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jangan melihat alam semesta ini dengan pandangan sempit. Laut, samudera dan fenomena alam lainnya yang berkaitan dengan laut seluruhnya merupakan ayat ilahi dan jalan untuk mengenal Tuhan.
2. Manusia secara fitrahnya adalah mengenal Tuhan. Tapi fitrah tersebut ditutupi oleh berbagai faktor seperti masalah materi. Ketika terjadi musibah dan tidak ada yang bisa menolongnya, fitrah ini muncul dalam diri manusia dalam bentuk permohonan yang tulus kepada Tuhan.
3. Keimanan sebagian manusia permanen, tapi sebagian lainnya terputus dan musiman.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (33) إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (34)
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (31: 33)
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (31: 34)
Ayat ini merupakan akhir dari surat Luqman yang berisi seruan kepada manusia supaya bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memperhatikan kehidupan di akhirat kelak. Sebab di Hari Kiamat berbeda dengan kehidupan dunia, tidak ada yang bisa menolong, bahkan sesama anggota keluarga pun.
Di akhirat, tidak ada yang menanggung perbutan orang lain, karena masing-masing mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, dalam kehidupan di dunia ini jangan berbangga dengan materi maupun anggota keluarga. Sebab tanpa amal saleh tidak akan mendapatkan rahmat Allah Swt.
Semua manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia kepada Allah Swt. Sebab Allah Maha Kuasa dan Maha Tahu termasuk mengetahui Hari Kiamat, tibanya kematian, dan kondisi janin di rahim ibu. Ilmu Tuhan tidak hanya berkaitan dengan penentuan jenis kelamin laki-laki atau perempuan saja, tapi juga seluruhnya seperti potensi, fisik, mental dan lainnya. Semua itu hanya Allah Swt yang mengetahuinya. Oleh karena itu, manusia jangan mengira bisa menyembunyikan perbuatannya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Harta dan keturunan tidak bermanfaat di Hari Kiamat kelak. Ketika itu, anak dan ayah tidak saling membantu, karena masing-masing mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.
2. Kiamat pasti terjadi. Meskipun kita tidak tahu kapan waktunya, sebagaimana setiap manusia tidak mengetahui kapan kematian menjemputnya, tapi pasti akan datang.
3. Keindahan dunia yang fana seringkali menipu manusia dan melupakan kehidupan akhirat yang abadi.