Feb 22, 2018 12:03 Asia/Jakarta

Surat as-Sajdah ayat 1-6.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ (3)

Alif Laam Miim. (32: 1)

Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. (32: 2)

Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, “Dia Muhammad mengada-adakannya.” Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk. (32: 3)

Surat as-Sajdah adalah salah satu di antara 29 surat yang diawali dengan huruf muqatt’ah. Sama seperti surat al-Baqarah yang dimulai dengan huruf Alif Laam Miim. Ayat berikutnya menunjukkan bahwa huruf-hufur tersebut adalah berkaitan dengan turunnya al-Quran dan menjelaskan keagungan kitab samawi ini dimana hanya dengan huruf-hufur dalam alfabet Arab itu saja, manusia tidak mampu mendatangkan ayat yang sama sepertinya.

Kitab yang bersumber dari kebenaran sejati, dan tidak ada sesuatu di dalamnya kecuali hakikat. Meski demikian para pendusta dan penentang yang tidak menerimanya, menuding para nabi merekayasa ayat-ayat tersebut dan tidak datang dari Allah Swt. Padahal tujuan para nabi adalah mengingatkan masyarakat atas dampak dari perbuatan buruk dan durhaka mereka, sersta membimbing mereka menjauhi keburukan dan kenistaan.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Meski para pengingkar berupaya menciptakan keraguan soal al-Quran, akan tetapi sesungguhnya tidak ada keraguan dalam kebenaran al-Quran, karena kitab ini datang dari Allah Swt.

2. Al-Quran adalah kitab syariat, sumbernya adalah Dia yang menciptakan alam semesta.

3. Kekhawatiran dan peringatan kepada masyarakat untuk menjauhi penyimpangan dan kesesatan merupakan tujuan utama pengutusan para nabi.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (4)

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (32: 4)

Ayat sebelumnya menjelaskan tentang turunnya al-Quran dari sisi Allah Swt, akan tetapi ayat ini menyinggung penciptaan semesta oleh Allah Swt. Sebagaimana dalam penurunan al-Quran, tidak ada sekutu bagi Allah Swt dan seluruh ayatnya adalah dari sisi-Nya, begitu pula dengan penciptaan alam semesta. Seluruh bagian dan aspek di alam semesta tercipta atas kehendak Allah Swt.

Sama seperti penurunan ayat-ayat al-Quran yang diturunkan selama 23 tahun pada masa risalah Rasulullah Saw, alam semesta juga diciptakan Allah Swt secara gradual dalam enam tahap dan ada kemungkinan satu tahapnya menelan waktu sangat panjang.

Sayangnya banyak orang yang tidak memperhatikan kekuatan Mutlak Allah Swt dan mereka justru terfokus pada makhluk-Nya, menyembahkan dan menilai mereka sebagai penyelamat. Padahal selain para auliya Allah dan tanpa izin-Nya, tidak ada sesuau atau siapa pun yang dapat menjadi penyelamat dan syafaat bagi orang lain.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Manajemen dan pengelolaan urusan alam semesta ada di tangan yang menciptakannya. Karena sang pencipta tidak menyerahkan ciptaannya begitu saja kepada para makhluk.

2. Manusia memerlukan hidayah dan peringatan atas nikmat-nikmat Allah Swt, karena jika tidak dia akan tersesat dan terjerumus.

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (5) ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (6)

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (32: 5)

Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (32: 6)

Melanjutkan ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang pengelolaan alam semesta di tangan Allah Swt, ayat-ayat ini juga menegaskan kembali bahwa seluruh ciptaan mulai dari langit hingga bumi berada dalam manajemen Allah swt. Bukan hanya segala urusan duniawi saja, bahkan seluruh urusan dan perilaku umat manusia juga akan kembali kepada-Nya di Hari Kiamat kelak dan tidak ada yang keluar dari kekuasaan dan ilmu Allah Swt.

Makna sehari bagi manusia adalah seperti 1000 tahun adalah Hari Kiamat. Apa saja yang terjadi di dunia, akan dihakimi di hari itu, dan Allah Swt yang mengetahui segala sesuatu baik yang tampak atau tersembunyi akan mengadili segala urusan berdasarkan kemuliaan dan rahmat-Nya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pencipta, pemilik dan penguasa alam semesta hanya satu yaitu Allah Swt dan bahwa ketauhidan yang sejati adalah kembalinya segala urusan kepada Allah Swt. Sebagaimana dalam penciptaan, maka segala sesuatu juga akan kembali kepada Allah Swt.

2. Pengelolaan urusan alam dan seluruh ketentuan yang berlaku di dunia, berdasarkan ilmu tanpa batas Allah Swt.

3. Ilmu Allah Swt meliputi segala sesuatu yang tampak dan terselubung.