Feb 22, 2018 12:17 Asia/Jakarta

Surat as-Sajdah ayat 7-9.

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ (7) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (8)

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (32: 7)

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (32: 8)

Sebelum ini, al-Quran berbicara tentang penciptaan langit dan bumi serta pengaturan urusan mereka oleh Allah Yang Maha Tahu. Namun ayat 7-8 as-Sajdah menekankan dua poin penting yaitu; pertama, semua ciptaan Allah Swt, mulai dari hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia dan benda mati, diciptakan dengan bentuk yang paling baik dan sama sekali tidak ada kecacatan dan kekurangan dalam ciptaan-Nya.

Kedua, ayat itu menyebut manusia secara terpisah dari semua makhluk lain, karena Allah Swt menjadikan manusia pertama dari tanah liat dan air dan kemudian menetapkan kelangsungan generasinya dari air mani dan produksi keturunan.

Air mani manusia meskipun hina dan tidak bernilai secara lahiriah, namun ia sangat menakjubkan dan penuh kerumitan dari segi struktur dan sel-sel hidup dalam sperma. Ini adalah salah satu dari tanda-tanda keagungan, kekuasaan dan ilmu Tuhan yang tidak terbatas.

Berbeda dengan teori evolusi Darwin yang menyebut aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah dan beragam melainkan berasal dari nenek moyang yang sama, al-Quran mengatakan Adam as diciptakan langsung dari tanah atas kehendak Allah dan untuk itu, ada perbedaan antara dia dan keturunannya. Nabi Adam as dibuat dari tanah, sementara keturunannya diciptakan dari mani. Sementara teori evolusi Darwin menjelaskan bahwa manusia pertama adalah kera. Nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia modern seperti sekarang ini.

Tidak hanya ayat 7 surat as-Sajdah, tapi ayat-ayat lain al-Quran juga menegaskan Adam as tidak memiliki ayah dan ibu. Dalam surat Ali Imran ayat 59, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia, maka jadilah dia.”

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sistem di alam semesta adalah sistem terbaik, karena dibangung atas dasar ilmu, kebijaksanaan dan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Juga tidak ditemukan petunjuk yang mengarah pada kecacatan dan masalah dalam sistem itu.

2. Allah menciptakan Adam dari segumpal tanah dan anak keturunannya dari mani.

3. Manusia tidak seharusnya sombong, egois dan congkak, karena ia diciptakan dari air mani yang hina.

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (9)

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (32: 9)

Ayat ini menjelaskan fase penciptaan Adam as dan keturunannya. Allah menciptakan organ-organ tubuh manusia secara seimbang dan memberikan tubuh yang tegak kepadanya. Lalu memberikan nyawa, pendengaran, penglihatan dan hari hati, yang membuat mereka istimewa dari makhluk lain. Adam diciptakan dari tanah liat dan kemudian diberi bentuk, dan selanjutnya ditiupkan roh atas kehendak Tuhan. Generasi manusia terus berkembang sampai hari ini dan mereka terbentuk dari air mani serta proses pembuahan di dalam rahim.

Maksud roh di sini adalah pemberian kehidupan khusus kepada manusia. Makhluk lain juga memiliki roh, tapi roh yang ditiupkan ke manusia membuat mereka lebih unggul dari makhluk-makhluk lain, karena selain memiliki panca indera, mereka juga dibekali akal dan pemahaman. Dengan bekal ini, manusia bisa menganalisa apa yang mereka lihat dan dengar serta menyingkap hukum alam.

Manusia telah menuangkan hukum-hukum alam dalam ilmu fisika, kimia, biologi dan cabang-cabang ilmu lain. Mereka akhirnya mampu melakukan berbagai inovasi dan penemuan dan terus mencapai kemajuan. Sementara makhluk-makhluk lain hanya menjelani kehidupan monoton dan tidak ada perubahan dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh, lebah hari ini dan lebah seribu tahun lalu memiliki bentuk sarng yang sama dan memproduksi jenis madu yang sama.

Ayat tersebut menyinggung sarana pengetahuan manusia yaitu penglihatan, pendengaran dan akal. Pengetahuan empiris diperoleh melalui pengamatan dan pendengaran, sementara pengetahuan umum dan argumentatif dihasilkan lewat akal dan penalaran.

Nikmat-nikmat besar ini patut disyukuri dan dihargai. Tapi kebanyakan manusia telah melupakan sang pemberi nikmat. Mereka tidak mensyukuri nikmat Allah Swt, sementara orang-orang yang mensyukurinya juga tidak melakukannya secara proporsional.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Di antara tanda-tanda kemuliaan dan wibawa manusia adalah ditiupkannya roh Tuhan di dalam dirinya dan diberikannya kehidupan khusus kepada mereka.

2. Mukadimah bersyukur adalah mengenal diri sendiri dan Tuhan secara benar. Orang yang tidak mengenal dirinya, berarti tidak mengenal Tuhannya, dan ketika ia tidak mengenal Tuhannya, ia tidak akan bersyukur kepada-Nya.

3. Manusia adalah makhluk dua dimensi; material dan spiritual. Orang mulia dan besar akan menggunakan dimensi material untuk mengembangkan dimensi spiritualnya, tapi orang yang hina akan meninggalkan dimensi spiritual dan hanya fokus memenuhi kebutuhan-kebutuhan materialnya.