Jalan Menuju Cahaya 746
Surat as-Sajdah ayat 10-14.
وَقَالُوا أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ (10) قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11)
Dan mereka berkata, “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?” Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya. (32: 10)
Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (32: 11)
Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan proses penciptaan manusia. Ayat-ayat tadi menyinggung kematian manusia dan menyebutkan bahwa para pengingkar Hari Kiama mengatakan, “Ketika manusia mati dan dipendam, semua anggota tubuhnya hancur dan tidak ada yang tersisa apapun darinya untuk dihadirkan dan dihidupkan lagi.”
Allah Swt menjawab, apa yang dipendam dan barubah menjadi bentuk lain hanyalah fisik manusia, akan tetapi jiwa manusia yang Kami berikan ketika di masa hidup, dicabut kembali oleh para malaikat. Ruh ini akan bergabung dengan tubuh yang sama ketika di dunia. Oleh karena itu, manusia yang dihidupkan kembali akan dihadirkan di Hari Kiamat kelak.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hari Kiamat bersifat jasmani (fisik). Pada hakikatnya apa yang diingkari kaum Musyrik adalah kiamat jasmani.
2. Esensi manusia adalah ruhnya bukan fisiknya. Oleh karena itu, hancurnya sebagian dari tubuh manusia seperti tangan, mata atau kaki, tidak membuat manusia merasa terkurangi esensi dan identitasnya.
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ (12)
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (32: 12)
Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan pengingkaran kaum Musyrik terhadap Hari Kiamat. Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah Saw dan orang-orang Mukmin. Disebutkan, “Seandainya kalian menyaksikan bagaimana orang-orang jahat itu di Hari Kiamat mereka merasa menyesal dan memohon untuk dikembalikan ke dunia, di saat permintaan mereka tidak dikabulkan. Mareka dengan menyaksikan sorga dan neraka serta mendengar teriakan para penghuni sorga, mereka menyebur, ‘Ya Allah sekarang kami tidak mengingkari Hari Kiamat, karena kami telah melihatnya sendiri dan meyakininya.’ Akan tetapi pengakuan terlambat mereka tidak lagi bermanfaat bagi mereka.”
Apakah mereka tidak mendengar seruan para nabi dan menyaksikan mukjizat mereka? Mengapa mereka tidak mendengar dan memperhatikannya? Apakah mereka tidak pernah memperkirakan bahwa seruan para nabi itu benar? Apakah mereka memiliki bukti untuk menafikan seruan dan logika para nabi? Atau mereka sengaja menafikan para nabi itu demi mencapai keingingan hawa nafsu dan syahwat mereka, agar mendapatkan justirikasi untuk kehidupan bebas tanpa batas mereka.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hari Kiamat adalah hari penyesalan bagi para pengingkar dan orang-orang jahat, sebagaimana mereka di dunia menghina orang-orang Mukmin dan membodohkan mereka.
2. Orang-orang Mukmin adalah manusia yang sangat jeli dan awas. Mereka telah meyakini Hari Kiamat, sorga dan neraka di dunia. Sementara orang-orang Kafir baru meyakininya di Hari Kiamat kelak. Karena Hari Kiamat adalah hari tersingkapnya hakikat dan terbukanya mata dan telinga.
3. Apa yang berguna dan bermanfaat di Hari Kiamat adalah amal saleh dan perbuatan baik.
وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (13) فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (14)
Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari pada-Ku, “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (32: 13)
Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan. (32: 14)
Ayat ini menekankan karakteristik pilihan dalam hidayah dan menjelaskan bahwa Allah Swt telah menyiapkan seluruh sarana untuk hidayah termasuk di antaranya mengutus para nabi, menurunkan kitab-kitab samawi serta menciptakan akal dan fitrah. Akan tetapi Allah Swt memberikan kebebasan kepada manusia untuk menerima atau mengingkari hidayah tersebut. Allah Swt dan para malaikatnya, tidak memaksa manusia untuk beriman. Tentunya setiap manusia yang tidak menerima hidayah Allah Swt akan mengalami kesesatan dan sejatinya mereka sedang meniti jalan yang berujung pada neraka jahanam.
Oleh karena itu, posisi para nabi seperti guru yang memberikan pelajaran secara sempurna kepada para muridnya. Namun mereka tidak pernah memaksa murid untuk belajar. Jelas bahwa murid yang malas tidak akan mendapat angka bagus di akhir tahun. Begitu juga dalam kehidupan materi, banyak yang tidak akan dapat dinikmati oleh murid yang malas di masa depan.
Sebagian orang berpendapat, bagaimana mungkin Allah Swt Yang Maha Pengasih dan Penyayang menjerumuskan hamba-hamba-Nya ke neraka? Namun dua ayat di atas dengan gamblang menafikan asumsi batil tersebut dan menegaskan bahwa rahmat Allah Swt hanya akan diterima hamba-Nya yang tidak menutup pintu hatinya sendiri dari rahmat Allah Swt. Rahmat itu akan diterima ketika hamba yang pendosa menyesali perbuatannya dan bertobat. Karena Allah Swt Maha Pengampun dan Pengasih. Namun orang-orang yang berbuat jahat dan bersikeras dalam kezaliman serta tidak bertobat atas dosa-dosa mereka, mereka tidak akan mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Swt.
Manusia-manusia durjana itu ibarat seseorang yang sudah berada di tepi jurang dan sekuat apapun orang lain menasehatinya untuk segera menjauhi tepi jurang, tidak tidak mau mendengarnya hingga pada akhirnya terjerumus dalam jurang.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Penerimaan hidayah dari Allah Swt adalah pilihan dan bukan paksaan, karena iman atas paksaan tidak ada artinya.
2. Rahmbat Allah Swt yang luas tidak mencegah murka dan azab-Nya untuk para manusia zalim dan durjana.
3. Allah Swt tidak pernah melupakan hamba-Nya, kecuali jika hamba itu sendiri yang ingin melupakan Allah Swt.
4. Melupakan Hari Kiamat adalah sumber dari semua dosa dan amal buruk, yang akan mendatangkan petaka dan azab.