Feb 22, 2018 12:23 Asia/Jakarta

Surat as-Sajdah ayat 15-19.

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآَيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (15)

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. (32: 15)

Banyak orang mengklaim beriman, akan tetapi perilaku mereka tidak sama dengan pernyataan mereka. Mengaku beriman akan tetapi perilaku mereka sama sekali tidak sesuai dengan al-Quran. Mereka mengaku beriman, akan tetapi tidak bersujud di hadapan Allah Swt serta tidak berendah hati di hadapan masyarakat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah Swt dan menyombongkan diri di hadapan masyarakat.

Ayat ini dimulai dengan kata innama, yang berarti pembatasan. Yaitu bahwa hanya dan terbatas orang-orang yang memiliki kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 15 surat as-Sajdah saja yang mukmin sejati, sementara lainnya hanya mengklaim dan bohong.

Kriteria orang-orang Mukmin sejati adalah penyerahan diri di hadapan al-Quran dan perintah Allah Swt. Sedemikian rupa sehingga setiap kali mereka mendengar seruan al-Quran, mereka akan berserah diri serta berzikir dan bertasbih. Ketika dibacakan ayat-ayat al-Quran kepada mereka, maka mereka akan menerima tanpa beralasan atau bertakabur dan sombong.

Di satu sisi mereka adalah penyukur sejati nikmat-nikmat Allah Swt dan di satu sisi mereka tidak menyalahkan Allah Swt atas segala musibah dan kesulitan yang menimpa mereka. Para mukmin sejati beriman bahwa Allah Swt telah mengatur segala sesuatu tanpa cela dan kekurangan.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sujud di hadapan Allah Swt serta bertasbih dan berzikir merupakan salah satu tanda-tanda orang mukmin sejati. Seorang muslim yang tidak menunaikan shalat, maka sejatinya dia belum sampai pada tingkat keimanan.

2. Zikir terbaik ketika sujud adalah bertasbih disertai puji syukur kepada Allah Swt, yaitu: Subhana Rabial ‘Ala wa Bihamdih.

3. Sujud yang bernilai adalah yang dilakukan tanpa bertakabur dan sombong.

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (17)

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. (32: 16)

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (32: 17)

Dalam lanjutan ayat sebelumnya yang menyinggung khudu atau kerendahan hati di hadapan kalimat Allah Swt, ayat-ayat ini kembali menyinggung karakteristik orang-orang beriman dan menyebutkan bahwa mereka yang bukan hanya menunaikan shalat wajib, melainkan ketika semua orang telah terlelap dia bangkit dari pembaringannya dan bermunajat kepada Allah Swt dan memohon ampunan dari-Nya. Pertengahan malam merupakan kesempatan baik bagi manusia untuk memohon ampunan atas segala kekhilafan yang dilakukannya. Memohon rahmat Allah Swt untuk dijauhkan dari api neraka.

Jelas bahwa hubungan dengan Allah Swt, akan mendorong hamba untuk menjalin hubungan lebih baik dengan masyarakat. Ini akan menumbuhkan semangat dalam dirinya untuk menyelesaikan berbagai masalah orang-orang sekitarnya dengan kemampuan yang dia miliki, serta berbagi dengan masyarakat atas segala nikmta yang telah diberikan Allah Swt kepadanya.

Lanjutan ayat-ayat al-Quran menjelaskan soal pahala orang-orang seperti ini dan disebutkan bahwa mereka yang menjauhkan diri dari segala riya dan kesombongan serta beribadah dengan segenap jiwa dan cinta, juga membantu menyelesaikan masalah hamba-hamba Allah Swt, maka dia akan mendapat pahala yang tidak dapat terbayangkan besarnya. Artinya tidak ada yang mengetahui besarnya pahala tersebut kecuali Allah Swt.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang mukmin sejati menilai dirinya tidak bebas dari murka Allah Swt namun tidak putus asa mengharapkan rahmat-Nya. Dia akan menjalani hidupnya di antara rasa takut dan berharap, serta tidak terjebak kesombongan dan keputusasaan.

2. Bangun dari tidur nyenyak di malam hai untuk shalat dan membaca al-Quran serta bermunajat kepada Allah Swt, adalah salah satu ciri orang-orang Mukmin.

3. Untuk mendapat pahala yang tak terkira besarnya, maka lazimnya seseorang harus bersusah payah seperti bangun di tengah malam dan menunaikan shalat.

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ (18) أَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (19)

Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. (32: 18)

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (32: 19)

Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini membandingkan antara para pengklaim keimanan dan orang-orang Mukmin sejati. Disebutkan, perhatikan nasib akhir dari dua kelompok tersebut agar kalian tahu bagaimana nasib orang-orang yang mematuhi perintah Allah Swt dan mereka yang mengklaim beriman akan tetapi pada praktiknya bertindak bertindak berlawanan dengan perintah Allah Swt. Ketahuilah bahwa sesungguhnya nasib keduanya tidak akan pernah sama di sisi Allah Swt.

Kemudian ayat berikutnya menyebutkan bahwa sorga adalah sebuah tempat dimana Allah Swt akan menjamu hamba-hamba-Nya yang saleh dan beriman dan bahwa setiap orang memiliki tempat masing-masing sebesar amal salehnya.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam menyeru masyarakat agar beriman, sebaiknya kita membandingkan perjalanan hidup orang-orang yang beriman dan orang-orang fasik sehingga masyarakat dapat melihat dengan jelas sisi positif dan negatif dari kedua kelompok tersebut.

2. Iman tidak pernah terpisah dari amal, dan sorga adalah pahala amal manusia, bukan klaimnya saja.