Jalan Menuju Cahaya 748
Surat as-Sajdah ayat 20-25.
وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (20) وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (21)
Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (32: 20)
Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (32: 21)
Dalam pembahasan sebelumnya Allah Swt berfirman, orang-orang Mukmin dan Fasik tidak sama di sisi-Ku. Mukminin karena amal-amalnya, layak mendapatkan sorga dan di sana mereka tinggal. Sementara orang-orang yang mengaku beriman namun dalam amal, tidak mematuhi perintah ilahi dan selalu menentang perintah-Nya, mereka akan dimasukkan ke dalam negara dan tidak ada jalan untuk melarikan diri.
Akan tetapi mereka juga mendapat hukuman didunia dengan berbagai macam cara, sehingga mungkin saja mereka mau bertobat dan berhenti melakukan perbuatan-perbuatan buruk, serta terlepas dari siksa di akhirat kelak.
Menurut sejumlah hadis, beberapa perbuatan maksia, akan mengakibatkan munculnya penyakit dan penderitaan bagi manusia di dunia ini. Hal itu adalah bentuk teguran Tuhan untuk mengingatkan manusia sekaligus untuk menghukumny sehingga ia sadar dan tidak mengulangi perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Tuhan.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Perbuatan buruk dan dosa, terkadang memenjara manusia, dan Tuhan menghukum sejumlah manusia di dunia ini.
2. Hukuman-hukuman Tuhan tidak hanya diberikan di akhirat. Di dunia pun Tuhan menghukum sebagian manusia. Hal ini juga sebenarnya merupakan nikmat, karena manusia berdosa diberi peluang untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
3. Murka Tuhan adalah untuk mendidik manusia dan bersumber dari rahmat ilahi.
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآَيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ (22)
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (32: 22)
Di ayat ini, Allah Swt menyebut orang yang mengenal hakikat, namun menolak dan mengingkari ayat-ayat dan perintah-Nya sebagai orang-orang zalim dan pantas menerima hukuman. Di dalam terminologi al-Quran, zalim kepada diri sendiri dan terjerumus ke dalam kekufuran dan kejahatan, jauh lebih buruk dari zalim kepada orang lain. Karena, ini adalah sumber kezaliman terhadap orang lain. Seorang mukmin tidak akan pernah menzalimi orang lain, namun orang yang menutupi kebenaran dan melangkah di jalan kekufuran, dengan mudah dapat melanggar hak-hak orang lain dan menzalimi mereka.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kedengkian dan keras kepala menyebabkan seorang manusia ketika diperingatkan akan kesalahannya, ia malah bersikeras melanjutkan perbuatan buruknya dan semakin terjerumus ke dalam dosa.
2. Dalam menghadapi para pendosa, terkadang selain mengingatkan dan memperingatkan, juga diperlukan hukuman dan tindakan keras.
وَلَقَدْ آَتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (23) وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ (24) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (25)
Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. (32: 23)
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (32: 24)
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. (32: 25)
Di awal ayat tersebut pertama-tama disinggung tentang pengangkatan Nabi Muhammad Saw dan diturunkannya kitab-kitab Tuhan sepanjang sejarah umat manusia, dan Allah Swt berfirman, tidak ada keraguan sedikitpun, Kamilah yang memberikan kitab kepada Musa untuk membimbing Bani Israil ke jalan yang benar dan membebaskan mereka dari cengkeraman Firaun. Di tengah kaum Bani Israil juga ada sekelompok orang yang mengikuti Musa dan bersabar serta konsisten dalam melawan kezaliman Firaun. Mereka meyakini janji-janji Tuhan dan Tauran dan berhasil mengalahkan musuh serta menjadi pemimpin bagi masyarakatnya. Orang-orang semacam ini memerintah masyarakat berdsarkan kitab Tuhan dan perintah-perintah Nabi-Nya. Mereka menjalankan perintah Tuhan di muka bumi.
Orang-orang mukmin sejati ini, memegang kekuasaan di bawah naungan keimanan dan kesabaran. Mereka tidak tunduk pada keinginan-keinginan pribadinya atau hawa nafsu, tapi patuh kepada perintah Tuhan dan sumbe seluruh tindakannya adalah perintah ilahi. Mereka lebih mengutamakan hukum Tuhan ketimbang pendapat dan pandangannya sendiri, dan memerintah berdasarkan aturan ilahi daripada menuruti hawa nafsunya.
Namun Bani Israil juga dilanda perselisihan yang menyebabkan perpecahan di antara mereka dan sumber perselisihan tersebut adalah jauhnya mereka dari kebenaran dan lebih mementingkan hawa nafsu. Oleh karena itu, Allah Swt dengan nada ancaman berfirman, kelompok orang yang menjadi penyebab perpecahan dalam agama masyarakat, mereka harus tahu bahwa mereka akan diazab oleh Tuhan di akhirat nanti dan Dia akan memperlakukan mereka dengan keadilan-Nya.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pengangkatan Nabi merupakan peristiwa berkelanjutan dalam sejarah umat manusia. Peristiwa-peristiwa serupa juga terjadi sebelum Nabi Muhammad Saw dan kita tidak boleh meragukan sedikitpun para pemimpin utusan Tuhan itu.
2. Keimanan dan keyakinan serta kesabaran di jalan Tuhan, merupakan syarat yang diperlukan untuk kepemimpinan ini. Manusia harus meyakini tujuannya dan hingga akhir terus berjuang sampai berhasil meraih kompetensi yang diperlukan untuk menjadi pemimpin masyarakat.
3. Para pemimpin agama sampai kapanpun tidak boleh berputus asa dalam pekerjaannya membimbing masyarakat, karena perselisihan dan pertikaian selamanya ada.