Jalan Menuju Cahaya 749
Surat as-Sajdah ayat 26-30.
أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ أَفَلَا يَسْمَعُونَ (26)
Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka apakah mereka tidak mendengarkan? (32: 26)
Pada pertemuan sebelumnya, telah kita bahas bahwa Allah Swt telah menjanjikan balasan terhadap kaum zalim dan durjana. Ayat ini juga ditujukan kepada mereka dan disebutkan apakah tidak cukup sebagai hidayah kalian ketika kalian menyaksikan banyak kaum durjana di masa lalu yang telah Kami binasakan dan sekarang kalian menginjakkan kaki kalian di peninggalan mereka?
Puing-puing bangunan peninggalan kaum Aad dan Tsamud berada di tengah perjalanan antara Mekah menuju Syam. Masyarakat Mekah dalam perjalan dagang mereka melintasi puing-puing tersebut. Sebuah wilayah yang di masa lalu dikuasai oleh masyarakat yang kuat dan kaya. Akan tetapi karena dosa, kezaliman dan kefasadan, mereka tertimpa bencana hingga peradaban mereka pun musnah.
Seakan puing-puing kaum tersebut berteriak dengan suara memekik agar para pelintas dan pengunjung mengambil pelajaran dari apa yang mereka saksikan. Akan tetapi tidak ada yang mendengar seruan tersebut.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Peninggalan budaya peradaban di masa lalu, sebelum menjadi lokasi syuting atau pemotretan, harus menjadi lokasi untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari nasib kaum terdahulu.
2. Masa lalu adalah pelita untuk masa depan. Dengan syarat manusia menggunakannya dengan mata dan telinga terbuka serta mau menimba pelajaran dari peristiwa di masa lalu.
3. Jika telinga dapat mendengar, maka puing-puing yang membisu itu membawa banyak pesan bagi kita.
4. Melestarikan peninggalan kuno sangat penting untuk pembelajaran generasi mendatang.
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ أَفَلَا يُبْصِرُونَ (27)
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (32: 27)
Melanjutkan ayat sebelumnya yang menjelaskan murka Allah Swt kepada kaum durjana, ayat ini menyebutkan rahmat dan kasih sayang berlimpah Allah Swt kepada hamba-Nya. Disebutkan, apakah kalian tidak menyaksikan bagaimana Allah Swt mendatangkan air ke wilayah gersang sehingga kembali menghijau sehingga menghasilkan makanan untuk manusia dan hewan-hewan?
Kenyataannya adalah bahwa mengingat perbedaan dataran tinggi dan rendah serta gelombang permukaan bumi, maka air dari laut tidak akan sampai ke banyak wilayah daratan. Selain itu air laut asin danpahit dan tidak dapat diminum.
Allah Swt menyelesaikan dua masalah tersebut dengan menciptakan matahari yang akan membuat air laut menguap, membentuk awan dan menimbulkan hujan. Kemudian awan yang telah terbentuk dihembuskan angin ke wilayah-wilayah keting dan terjadilah hujan. Melalui penguapan air laut yang asin dan getir itu, manusia di daratan dapat menikmati air tawar untuk diminum. Ini adalah sebuah nikmat besar yang diketahui oleh semua manusia akan tetapi jarang yang memperhatikan keagungan-Nya. Padahal perputaran air yang telah terprogram memiliki peran kunci dalam kelangsungan hidup di muka bumi.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Alam yang jijau dan lingkungan hidup manusia dan hewan adalah pelajaran terbaik mengenal Allah Swt, dengan syarat mereka benar-benar ingin mempelajari dan menimba makrifat.
2. Pergerakan awan dan turunnya hujan di wilayah-wilayah yang jauh dari laut atau benua, bukan kebetulan. Melainkan berdasarkan kehendak Allah Swt.
3. Mekanisme turunnya hujan dan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan adalah tanda-tanda kebesaran Allah Swt yang tidak boleh dipandang remeh.
وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْفَتْحُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (28) قُلْ يَوْمَ الْفَتْحِ لَا يَنْفَعُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِيمَانُهُمْ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ (29) فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَانْتَظِرْ إِنَّهُمْ مُنْتَظِرُونَ (30)
Dan mereka bertanya, “Bilakah kemenangan itu (datang) jika kamu memang orang-orang yang benar?” (32: 28)
Katakanlah, “Pada hari kemenangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir, iman mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh.” (32: 29)
Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tunggulah, sesungguhnya mereka (juga) menunggu. (32: 30)
Tiga ayat akhir surat as-Sajdah ini menyebutkan, kaum Kafir dan Musyrik selalu mendengar dari Nabi bahwa kebenaran akan menang di hadapan kebatilan dan Allah Swt telah memberikan janji itu kepada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, mereka mengolok Nabi dan orang-orang Mukmin seraya mengatakan, “Janji yang kalian katakan bahwa Tuhan akan membalas orang-orang jahat dan akan membinasakan mereka setelah seluruh hujjah telah tersempurnakan, kapan itu akan terjadi? Azab yang kalian janjikan akan menimpa kami, kapan akan terjadi?”
Allah Swt menjawab, hari itu akan tiba akan tetapi kalian tidak akan menyangkanya, keimanan kalian di hari itu tidak akan diterima karena kalian telah diberi waktu. Pada hari itu tidak ada lagi waktu untuk kembali dan menebus kesalahan.
Ayat terakhir surat as-Sajdah menyebutkan bahwa orang-orang yang keras kepala seperti ini, sejatinya mereka memahami kebenaran, akan tetapi mereka ingin mengoloknya, menjauhinya dan akhirnya dikatakan kepada mereka, “Tunggulah kalian sampai Allah Swt menghakimi di antara kami dan kalian.”
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Terkadang melontarkan pertanyaan bukan dalam rangka mencari tahu, akan tetapi untuk mengolok.
2. Beriman dalam kondisi bahaya, sudah tidak ada artinyalagi, karena manusia sudah dalam kondisi terpaksa.
3. Ketika argumentasi dan bimbingan sudah tidak efektif lagi, maka para penyimpang dan pendusta harus dijauhi.