Feb 28, 2018 13:44 Asia/Jakarta

Surat al-Ahzab ayat 9-12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا (9)

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (33: 9)

Ayat ini dan 16 ayat setelahnya, berkaitan dengan perang Ahzab yang terjadi pada tahun kelima Hijriah. Pada perang itu, seluruh kelompok anti-Islam bersatu untuk menghancurkan Islam dan umat Islam. Kaum Yahudi di Madinah juga bersekongkol dengan para musyrikin Mekkah dan berbagai kabilah demi membentuk sebuah pasuukan besar untuk menguasai Madinah, membunuh Nabi Muhammad Saw dan membantai orang-orang Muslim. Akan tetapi berkat kehendak Allah Swt, seluruh rencana mereka gagal dan keputusasaan serta kelemahan menimpa mereka menyusul kemenangan pasukan Islam.

Perlu disebutkan bahwa dalam peristiwa perang Ahzab, setelah Rasulullah Saw mengetahui rencana musuh untuk mnyerang Madinah, beliau mengumpulkan para sahabat di masjid dan bermusyawarah dengan mereka soal strategi perang menghadapi musuh. Akhirnya usulan Salman Al-Farisi untuk membuat parit (khandaq) mengelilingi Madinah, disetujui agar menghambat masuknya pasukan musuh. Oleh karena itu, Perang Ahzab juga disebut dengan nama Perang Khandaq.

Ayat ini adalah ayat pertama yang menyinggung Perang Ahzab dan menyeru umat Islam untuk selalu mengharapkan bantuan dari Allah Swt dalam menghadapi musuh dan agar tidak lemah atau takut. Umat Islam harus mengetahui bahwa dalam Perang Ahzab meski jumlah musuh lebih banyak berkali lipat dibanding pasukan Muslim, namun Allah Swt membantu pasukan Islam dengan menurunkan angin kencang yang memporak-porandakan pasukan musuh sehingga mereka ketakutan. Allah Swt juga mengutus para malaikat untuk meningkatkan semangat pasukan Islam agar tidak gentar menghadapi besarnya jumlah pasukan musuh.

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Keimanan kepada Allah Swt, upaya dan jihad adalah syarat utama mendapatkan pertolongan Allah Swt di berbagai sisi kehidupan.

2. Mengingat nikmat-nikmat Allah Swt di masa lalu merupakan faktor munculnya kesabaran dan ketabahan di hadapan berbagai masalah.

3. Kuasa Allah Swt selalu berpihak kepada orang-ornag yang beriman, baik itu dalam bentuk fenomena alam seperti badai atau hal-hal supranatural seperti pengutusan para malaikat.

4. Keimanan bahwa Allah Swt menyaksikan segala perbuatan kita juga akan menjadi pengontrol perilaku kita dan juga menjadi pendorong untuk terus bersemangat dan bekerja keras, karena Allah Swt menyaksikan segalanya.

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (11)

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. (33: 10)

Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (33: 11)

Ayat ini menggambarkan betapa sulitnya kondisi pada Perang Ahzab dan disebutkan bahwa jumlah pasukan musuh sedemikian banyak sehingga kota Madinah terkepung dari semua sisi dan setiap saat mereka dapat menerobos masuk ke kota itu serta melakukan pembantaian dan penjarahan.

Dalam kondisi itu, ketakutan hebat mencekam warga Madinah. Tatapan warga Madinah penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. Seakan nyawa mereka telah di ujung pedang dan sedang menanti kematian.

Mereka yang tidak beriman pada janji Allah Swt, merasa bahwa janji-janji Rasulullah Saw soal kemenangan pasukan Islam di hadapan pasukan kafir, tidak benar dan mereka akan kalah serta cahaya Islam akan padam.

Kondisi tersebut merupakan sebuah ujian dari Allah Swt untuk memperjelas siapa saja yang benar-benar beriman pada janji-janji Allah Swt dan berjuang dengan segenap jiwa dan raga mereka. Sekaligus memperjelas siapa saja yang takut, lemah dan tidak kuat keimanannya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Umat Islam harus selalu siap untuk menghadapi musuh dan selalu waspada di setiap perbatasannya guna mengantisipasi infiltrasi musuh.

2. Perang dan jihad adalah panggung ujian berat dari Allah Swt dan jika tidak berhati-hati maka akan terjebak dalam ketakutan dan kekhawatiran.

3. Mukmin sejati akan terbukti di masa-masa sulit. Karena mereka akan tetap tegar di hadapan masalah besar.

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا (12)

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya". (33: 12)

Pada ayat sebelummya, Allah Swt menyinggung goyahnya sekelompok orang dalam pasukan Islam. Ayat ini menjelaskan sumber kegoyahan iman tersebut dan menyebutkan bahwa di antara mereka ada orang-orang munafik yang mengklaim sebagai Muslim akan tetapi sejatinya mereka tidak beriman.

Kelompok lainnya adalah orang-orang yang memiliki iman lemah karena keterkaitan mereka dengan dunia dan materi. Kelompok itu kedua itu bahkan mencegah umat Islam pergi ke medan perang. Mereka bukan saja menolak berperang melainkan juga mendorong Muslim lainnya untuk tidak berperang. Mereka mengklaim bahwa Rasulullah menjanjikan kemenangan hanya untuk mengelabuhi masyarakat demi membantu beliau melawan musuh-musuhnya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kemunafikan, adalah bahaya yang selalu mengancam masyarakat Islam. Ancaman ini harus diidentifikasi dan harus dilawan.

2. Kaum munafik akan melemahkan dari dalam dan menjerat masyarakat Islam dalam keputusasaan.

3. Para sahabat Rasulullah Saw tidak semuanya sama. Sebagian di antara mereka memiliki iman yang kokoh dan sebagian lainnya terjebak dalam kemunafikan.