Jalan Menuju Cahaya 753
Surat al-Ahzab ayat 13-17.
وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا (13)
Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata, “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (33: 13)
Pada pembahasan sebelumnya telah kita bahas bersama dimulainya Perang Ahzab atau Perang Khandaq. Juga telah kita sebutkan bahwa kaum munafikin berusaha melemahkan semangat umat Islam dan mengklaim bahwa Rasulullah Saw telah menipu para pengikutnya dengan janji-janji kemenangan agar mereka membantu beliau melawan musuh-musuhnya.
Ayat ini menjelaskan bahwa kelompok lain di antara kaum munafikin tersebut mengatakan kepada mereka akan berangkat berperang menghadapi musuh, "Di sini bukan tempat kalian dan kalian tidak dapat melakukan apapun, kembalilah kalianke rumah kalian masing-maisng menjaga anak dan istri kalian." Adapun sebagian kelompok lainnya meminta ijin dari Rasulullah Saw untuk kembali ke rumah padahal niat mereka adalah lari dari perang.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Penyebaran isu dan pelemahan semangat umat Islam merupakan rencana kelompok munafikin. Orang-orang yang beriman harus mewaspadai kelompok masyarakat seperti itu dan juga mengawasi perilaku menyimpang mereka dalam masyarakat.
2. Rasulullah Saw di medan perang memimpin langsung pasukan Islam dan dalam kondisi bahaya, beliau tidak meninggalkan para sahabatnya.
وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا الْفِتْنَةَ لَآَتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا بِهَا إِلَّا يَسِيرًا (14) وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ الْأَدْبَارَ وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولًا (15)
Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. (33: 14)
Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur).” Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (33: 15)
Selanjutnya, disebutkan bahwa mereka yang lari dari medan pertempuran dan enggan menghadapi bahaya, dikarenakan iman mereka lemah. Seandainya pasukan musuh menerobos kota Madinah dan meminta mereka kembali pada kekufuran dan kemusyrikan, maka kelompok munafikin tersebut akan menerima dan meninggalkan keimanan mereka kepada Allah Swt.
Perilaku tersebut dapat terprediksi mengingat sebelumnya ketika mereka berbaiat dengan Rasulullah Saw, mereka telah berjanji akan membantu Rasulullah Saw dan umat Islam di hadapan musuh. Akan tetapi janji tersebut tidak mereka penuhi dan dilanggar meski mereka tahu pada akhirnya harus memberikan jawaban kelak untuk aksi mereka.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Terdapat sekelompok orang yang memiliki iman lemah dalam masyarakat Islam dan mereka dengan mudah meninggalkan kebenaran dan menyambut musuh. Mereka lebih memilih berada di bawah kekuasaan musuh ketimbang membantu pemimpin umat dalam menghadapi musuh.
2. Iman adalah sejenis janji dan sumpah yang diikat dengan Allah Swt. Berdasarkan janji itu, mereka seharunya menghadapi musuh dengan segenap jiwa dan raga. Pelanggaran terhadap janji tersebut membuktikan ketidakimanan mereka.
قُلْ لَنْ يَنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِنْ فَرَرْتُمْ مِنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًا لَا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا (16) قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (17)
Katakanlah, “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (33: 16)
Katakanlah, “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (33: 17)
Pada ayat ini, Allah Swt berfiman kepada sekelompok Muslim yang lari dari medan pertempuran agar jangan sampai mereka mengira bahwa dengan melarikan diri dari medan perang dan takut akan kematian akan memberikan mereka manfaat. Karena hanya berapa hari mereka akan tinggal di bumi ini sementara di sisi lain mereka telah membeli tempat di neraka yang abadi dan akan merasakan murka Allah Swt.
Selain itu, kematian bukan hanya di medan perang. Setiap hari orang meninggal dunia dan tidak ada jaminan jika mereka lari dari perang mereka akan selamat dari kematian akibat banyak faktor lainnya. Apakah Allah Swt tidak dapat mencabut nyawa mereka selain di medan perang? Apakah mereka memiliki tempat berlindung di hadapan kehendak Allah Swt atau mampu keluar dari lingkup kehendak-Nya? Atau apakah mereka memiliki pihak lain yang dapat diandalkan di hadapan Allah Swt?
Oleh karena itu alih-alih lari dari medan pertempuran dengan musuh, lebih baik mati di jalan Allah dengan penuh kehormatan dan kebanggaan karena dengan kesyahidan maka itu berarti terbuka pintu menuju Sang Haq.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kematian adalah akhir dari perjalanan semua manusia dn tidak ada jalan lai untuk menghindarinya. Cepat atau lambat kematian akan datang dan alangkah baiknya jika kematian itu disambut di jalan Allah Swt dan dalam melaksanakan perintah-Nya.
2. Kita semua harus berhati-hati agar jangan sampai menukar kebahagiaan abadi kita dengan kebahagiaan sementara di dunia.
3. Seluruh alam semesta berada di bawah kekuasaan dan kehendak Allah Swt. Kegetiran dan kebahagiaan serta kemenangan dan kekalahan, semuanya adalah hikmah Allah. Adapun kebagiaan manusia telah terjamin dalam pengamalan perintah Allah Swt.