Feb 28, 2018 13:51 Asia/Jakarta

Surat al-ahzab ayat 18-21.

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا (18) أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (19)

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Marilah kepada kami.” Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (33: 18)

Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (33: 19)

Pada program pertemuan sebelumnya, kita telah menyinggung peran kaum munafikin Madinah dalam memperlemah semangat umat Islam dalam perang Ahzab. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa sekelompok orang munafikin berupaya mencegah umat Islam berperang menghadapi musuh. Orang munafikin mengatakan, "Sama seperti kami yang menolak perang, kalian juga jangan berperang dan bergabunglah dengan kami.” Mereka bukan hanya  menolak memberikan nyawa di medan perang, bahkan menolak merelakan harta mereka untuk membantu para pejuang dalam perang.

Mereka lemah dalam iman kepada Allah Swt dan ketika menhadapi bahaya mereka ketakutan dan bergetar seakan sudah harus menyerahkan nyawa mereka sebelum musuh mencabutnya. Akan tetap jika pasukan Islam menang, mereka ingin diikutsertakan dalam kemenangan tersebut agar menerima pembagian rampasan perang. Mereka bertingkah seolah sedang menagih utang ketika meminta bagian mereka dari rampasan perang tersebut.

Apa yang disebutkan Al-Quran terkait karakteristik orang-orang munafik di masa Rasulullah Saw, tidak hanya pada masa itu saja. Di setiap masa dan tempat, orang-orang seperti itu selalu ada di antara umat Islam, ketika menghadapi bahaya mereka lari dan dalam suasana tenang, mereka hanya mengejar harta dan kekuasaan serta menganggap diri mereka lebih unggul dari lainnya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam menghadapi musuh, kita harus mewaspadai orang-orang yang lemah iman mereka, karena bukan hanya akan lari dari medan pertempuran, melainkan juga menebar keputusasaan dan juga mencegah orang lain pergi ke medan perang.

2. Orang-orang munafik ketika dihadapkan pada kesulitan dan bahaya mereka menolak membantu para pejuang atau terjun ke medan perang. Akan tetapi setelah bahaya teratasi, mereka sangat tamak dalam mengumpulkan harta rampasan perang. Ini adalah tanda-tanda kaum munafik.

3. Lemah dan takut di hadapan musuh pasa masa perang di satu sisi, namun keras dan kasar di hadapan tetangga atau saudara seagamanya pada masa tenang, merupakan ciri-ciri kaum munafik.

يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا (20)

Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (33: 20)

Ayat ini menjelaskan puncak kelemahan kaum munafik, bahwa ketika pasukan musuh telah bercerai-berai dan tidak ada lagi bahaya yang mengancam kota Madinah, namun kaum munafik beranggapan musuh masih berkeliaran di sekitar kota Madinah. Oleh karena itu mereka tetap merasa terancam dan setiap kali mereka mendengar suara kuda atau onta, mereka mengira musuh sedang menuju mereka.

Ketakutan telah sedemikian rupa mencekam hati mereka sehingga mereka rela untuk berada di tengah padang pasir dan hidup bersama kaum nomaden sampai bahaya benar-benar tidak mengancam mereka. Ketika itu mereka akan selalu bertanya dari musafir yang melintas dan setelah benar-benar aman, barulah mereka bersedia kembali ke kota Madinah. 

Lanjutan ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin bahwa seandainya mereka tetap berada di dalam kota, orang-orang munafik ini tidak akan pernah membantu. Oleh karena itu, tidak perlu mengharapkan bantuan dari mereka, serta jangan mengkhawatirkan ketidakikutsertaan mereka dan jangan bergembira atas keberadaan mereka di dalam kota.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kaum munafik dan mereka yang memiliki iman yang lemah, mereka selalu beranggapan bahwa musuh selalu lebih kuat dari umat Muslim. Mereka beranggapan bahwa hasi pasti segala bentuk konfrontasi adalah kemenangan musuh dan kekalahan umat Islam, dan mereka akan merencanakan segala langkah sesuai dengan perspektif tersebut.

2. Ketakutan serta merasa kalah dan kecil di hadapan musuh, membuat mereka lari sementara akal dan syariat menegaskan untuk menunjukkan kekuatan di hadapan musuh.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (33: 21)

Pada ayat ini orang-orang mukmin diimbau untuk tidak memperhatikan perkataan orang-orang munafik yang menolak melaksanakan tugas mereka, serta lebih memperhatikan sirah dan ucapan nabi. Orang-orang mukmin bersama-sama dengan Rasulullah Saw, tegar dan kokoh di hadapan musuh serta bergeming dalam mempertahankan kota Madinah dan warganya.

Berdasarkan banyak riwayat, Rasulullah menginstruksikan penggalian parit (khandaq) di seluruh titik di kota Madinah yang berpotensi menjadi celah masuknya pasukan musuh. Dalam hal ini, Rasulullah Saw juga bersama-sama dengan masyarakat menggali parit seraya memastikan kepada umat Islam soal janji kemenangan yang diberikan Allah Swt.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Rasulullah Saw dalam kondisi perang dan jihad, mengenakan baju perang serta mengomando pasukan di medan pertempuran. Agama tidak pernah lepas dari pemeritahan. Beliau selalu mengharapkan kebahagiaan dan keamanan duniawi masyarakat, juga kebahagiaan abadi mereka di akhirat.

2. Rasulullah Saw juga sama seperti masyarakat yang memiliki kehidupan sehari-hari yang normal, oleh karena itu beliau dapat menjadi suri teladan orang-orang mukmin. Dia adalah seorang manusia sehingga dapat menjadi teladan bagi manusia lainnya. Di medan perang, beliau tidak bersikap berdasarkan ilmu atau pengetahuan ghaib dan beliau memperhatikan segala prinsip dalam perang.

3. Jika umat Islam dunia menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan mereka, maka sekarang ini mereka tidak akan lemah di hadapan musuh serta tidak akan membiarkan musuh menguasai mereka.