Feb 28, 2018 13:55 Asia/Jakarta

Surat al-Ahzab ayat 22-25.

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22)

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (33: 22)

Pada pertemuan sebelumnya, kita sudah membahas tentang perilaku orang-orang munafik dalam perang Ahzab. Ayat 22 Surat Al Ahzab menjelaskan, akan tetapi orang-orang Mukmin sejati yang beriman kepada Allah Swt, Rasulullah Saw dan perkataan mereka, ketika berhadapan dengan pasukan musuh mengatakan, sebelumnya Tuhan telah mengabarkan kepada kami dalam ayat-ayat-Nya bahwa kalian sama seperti umat-umat terdahulu akan menghadapi peristiwa-peristiwa sulit dan serangan musuh.

Rasulullah Saw pernah bersabda, suku-suku Arab dan musuh mereka bersatu untuk menghancurkan kalian. Maka dari itu, ketika Mukminin sejati berada dalam situasi seperti ini, mereka tegar berdiri di hadapan musuh dan tidak lari layaknya orang-orang Munafik. Mereka menunjukkan bahwa mereka adalah umat yang berserah diri kepada Tuhan dan Rasul-Nya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Mukmin tahu bahwa musuh yang zalim tidak akan pernah melepaskan mereka, oleh karena itu mereka selalu menjaga kesiapan untuk berhadapan dengan musuh.

2. Orang-orang kafir, di tengah semua perselisihan di antara mereka sendiri, bersatu untuk menghancurkan Islam dan Muslimin. Untuk mencapai tujuannya, mereka mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya.

3. Mukminin sekalipun jumlah mereka sedikit, akan berdiri melawan musuh, meski jumlahnya sangat banyak, dan mereka akan berserah diri kepada Tuhan, bukan kepada musuh.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا (23)

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). (33: 23)

Melanjutkan ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang kesabaran dan ketegaran Mukminin sejati, di ayat ini Allah Swt berfirman, orang-orang beriman sudah mengikat janji dengan Tuhan bahwa mereka tidak akan berpaling dari menolong agama-Nya hingga ajal tiba.

Oleh karena itu, beberapa dari Mukmin sejati gugur syahid di perang Badar dan Uhud. Sebagian lainnya menunggu tibanya waktu untuk menunaikan janji dan mengorbankan jiwa mereka di jalan Tuhan. Dalam menunaikan janji ini, tidak tampak kelemahan dan kemalasan dalam diri mereka. Berbeda dengan orang-orang lemah iman yang sekalipun ikut berperang, namun keluar dalam keadaan selamat dan bergembira. Jika terjadi lagi perang, orang-orang ini tidak akan mau ikut serta.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Muslimin, dari sisi iman tidak sama dan masing-masing memiliki tingkatan iman yang berbeda. Sebagian dari mereka mengejar kehidupan yang tenang dan sejahtera, sementara sebagian yang lain menanti syahadah di jalan Tuhan.

2. Kesiapan untuk menjaga agama sampai titik darah penghabisan adalah tanda kebenaran dalam iman dan bentuk penunaian janji Ilahi.

3. Mukmin sejati ketika melihat sahabat dan kerabatnya mati syahid, tidak akan mundur dan lari dari medan jihad. Sebaliknya mereka menanti syahadah.

لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (24) وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا (25)

Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (33: 24)

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (33: 25)

Kedua ayat ini menggambarkan hasil perang Ahzab sebagai berikut, orang-orang Mukmin sejati yang mengenakan baju perang untuk menghadapi musuh dan  mengorbankan diri untuk Islam, serta siap mendampingi Rasulullah Saw, akan menerima pahala dari Tuhan, meski perang di antara dua kelompok tidak terjadi dan atau mereka berperang tapi tidak gugur syahid.

Akan tetapi orang-orang Munafik yang tidak punya ketetapan hati dan menjadi penyebab goyahnya hati orang lain, pantas menerima hukuman Tuhan, kecuali Tuhan mengampuni mereka dan dosa-dosanya karena taubat atau karena kebaikan-Nya. Kaum Musyrik dan orang-orang kafir yang mengira bisa menghancurkan Islam dengan upayanya, dan menumpas Nabi serta Muslimin, akhirnya kembali dengan tangan kosong tanpa kemenangan atau harta rampasan.

Dalam peristiwa tersebut, Allah Swt mengajarkan kepada Muslimin agar jangan pernah takut pada musuh dan musuh pun harus tahu bahwa tipu daya mereka di hadapan kebijaksanaan Tuhan, tidak berguna dan mereka tidak mampu mengalahkan kekuatan Tuhan. Oleh karena itu, musuh yang bersatu untuk menghancurkan Islam dan datang ke medan perang, kembali ke tempat tinggalnya dengan marah dan bersedih karena gagal meraih harapannya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kejujuran tidak hanya sebatas dalam lisan, tapi juga dalam amal, dan kita harus jujur atas janji kita kepada Tuhan, serta tidak boleh lemah dan lalai dalam membela agama Tuhan.

2. Kasih sayang Tuhan meliputi semua orang, bahkan orang-orang Munafik yang kerap melanggar janji sekalipun, diharapkan, dengan taubat atau kehendak bijaksana Tuhan, bisa mendapat ampunan.

3. Dalam berbagai urusan kehidupan, kita tidak cukup hanya bersandar pada perhitungan materi, dan hendaknya tidak lalai dari bantuan-bantuan non-materi, maknawi serta di luar perhitungan materi.