Jalan Menuju Cahaya 756
Surat al-Ahzab ayat 26-31.
وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا (26) وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27)
Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (33: 26)
Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (33: 27)
Narasi sejarah menunjukkan keberadaan tiga klan besar Yahudi di kota Madinah yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah.Ketiganya pernah menjalin perjanjian damai dengan umat Islam.
Dua klan pertama menjalin perjanjian dengan umat Islam di tahun kedua dan keempat Hijriah, tapi mereka kemudian melanggarnya dengan melakukan tindakan yang merugikan Muslim. Akhirnya mereka diusir dari Madinah.
Adapun Bani Quraizhah tetap berada di Madinah. Namun di tahun kelima Hijriah mereka melanggar perjanjian karena bersekutu dengan kaum Musyrik Mekah dalam perang Ahzab, dan menjalin perjanjian dengan sejumlah suku lain di sekitar Madinah. Namun dalam perang tersebut, kaum Musyrik Mekah melanggar kesepakatan yang telah dijalin dengan Bani Quraizhah, dan klain Yahudi ini akhirnya bersembunyi di benteng mereka dengan diliputi rasa takut yang besar.
Kemudian, Rasulullah Saw segera menindak tegas pelanggaran yang dilakukan oleh Bani Quraizhah. Pasukan umat Islam mengepung benteng Bani Quraizhah dan tidak berapa lama akhirnya bisa masuk ke dalam benteng itu.
Dalam peristiwa tersebut, sebagian dari orang Yahudi melawan pasukan Muslim, tapi sebagian besar meletakkan senjata dan menyerah. Setelah perang ini, orang-orang Yahudi yang melanggar perjanjian dengan Muslim dikeluarkan dari kota Madinah. Perang tersebut memberikan ghanimah yang cukup besar untuk umat Islam, termasuk tanah, kebun dan lainnya yang dibagikan secara adil kepada Muslim yang ikut berperang.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Islam menganjurkan kehidupan yang yang rukun dan harmonis dengan non-Muslim selama mereka menjaga perdamaian dan tidak bekerja sama dengan musuh.
2. Jangan pernah gentar atau lemah menghadapi peralatan dan perlengkapan militer musuh yang besar dan kuat. Sebab Allah swt akan memenangkan umat Islam dengan memunculkan rasa takut di dalam hati musuh.
3. Dalam mengelola urusan masyarakat Islam harus memasukan faktor bantuan ilahi selain kalkulasi material.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29)
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. (33: 28)
Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar. (33: 29)
Dengan berakhirnya peristiwa perang Ahzab, ayat ini kembali menyinggung tentang istri-istri Nabi. Ayat ini menegaskan bahwa para istri harus seperti Nabi sebagai teladan bagi para muslimah, bukan sebaliknya berperilaku seperti ratu yang bergelimang perhiasan mewah dan pakaian mahal.
Sejatinya, Rasulullah Saw sebagai utusan Allah Swt menjadi teladan bagi seluruh Muslim, dan beliau mengutamakan menjalankan risalah ilahi dibandingkan urusan pribadi dan keluarganya. Oleh karena itu, istri-istri Nabi sebagai pendamping hidup beliau harus berperilaku sebagai panutan Muslimah yang tercermin dalam kehidupannya yang sederhana dan tidak bermewah-mewahan.
Tapi jika tidak bersedia demikian, maka mereka bisa berpisah dari Rasullah dengan cara yang baik. Apabila istri-istri Nabi ini bersedia hidup sederhana dan menanggung kesulitan yang berat mendampingi perjuangan Rasulullah di jalan ilahi, maka Allah swt akan memberikan ganjaran berlipat ganda di akhirat kelak.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Keluarga pemimpin Islam harus hidup sederhana dan menjauhi kemewahan, sebab mereka menjadi teladan bagi umat Islam.
2. Pemimpin Muslim tidak boleh memanfaatkan kedudukan untuk kepentingan pribadi maupun keluarga dan kelompoknya. Ia juga tidak boleh dipengaruhi oleh tuntutan tidak sesuai dari keluarganya yang memanfaatkan posisi untuk kepentingan tertentu.
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31)
Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. (33: 30)
Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia. (33: 31)
Dua ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya mengenai keharusan istri Nabi berperilaku sebagai teladan orang lain. Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan maupun keburukan yang dilakukan oleh istri Nabi dilihat oleh umat Islam dan akan mempengaruhi kehidupan para muslimah. Jika berbuat baik, maka umat akan mengikuti kebaikan itu, dan sebaliknya.
Dengan demikian, Allah swt menghitung amal istri-istri Nabi tidak akan disamakan dengan orang biasa. Sebab mereka hidup di rumah wahyu dan mengenali dengan baik ajaran Islam dari sumber utamanya yaitu Rasulullah Saw. Selain itu, perilaku mereka menjadi contoh bagi muslimah lainnya.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pahala dan ganjaran ditentukan oleh tingkat pengetahuan masing-masing orang dan pengaruhnya di tengah masyarakat.
2. Ajaran Islam memandang tidak adanya hak keringanan dalam masalah pahala dan balasan berkaitan dengan hubungan keluarga dan kekerabatan, walau Nabi sekalipun terhadap keluarganya. Bahkan, keluarga Nabi yang menjadi teladan umat akan dihisab beberapa kali lipat melebihi masyarakat awam.
3. Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dengan orang biasa berbeda. Dengan kata lain, dosa kecil seorang pemimpin bisa jadi lebih besar dari dosa besar orang biasa. Oleh karena itu perhitungan balasannya pun berbeda pula.