Jalan Menuju Cahaya 760
Surat al-Ahzab ayat 43-48.
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43) تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا (44)
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (33: 43)
Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (33: 44)
Di ayat sebelumnya, al-Quran menjelaskan tentang orang-orang yang beriman senantiasa berzikir kepada Allah Swt dalam keadaan apapun. Pada ayat ini, al-Quran menegaskan bahwa ketika kita mengingat Allah Swt, maka Dia akan mengingat dan menganugerahkan rahmatnya. Sebagaimana dijelaskan di ayat 152 surat al-Baqarah, Fadzkuruuni Adzkurkum, maka ingatlah Aku supaya kalian kuingat.
Malaikat memohon rahmat dan ampunan kepada Allah Swt untuk dilimpahkan kepada orang-orang Mukmin. Dengan rahmat dan maghfirah ilahi, manusia bisa keluar dari dosa serta kegelapan, dan membawanya menuju jalan cahaya dan kesucian.
Sejatinya, manusia yang senantiasa berzikir kepada Allah Swt dikaruniai rahmat ilahi, termasuk di dalamnya petunjuk khusus yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Petunjuk atau hidayah ini akan membimbing manusia keluar dari kebuntuan yang dialaminya dalam hidup ini, dan tidak akan membiarkan manusia terkapar diterpa badai keras kehidupan. Di Hari Kiamat kelak, orang-orang yang diidolakan oleh malaikat dalam keadaan tenang dan damai.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Akal dan ilmu pengetahuan saja tidak memadai untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dalam kehidupan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan bantuan ilahi yang akan menyelamatkannya dari kegelapan menuju cahaya. Berzikir menjadi sarana menuju jalan cahaya ilahi.
2. Iman sejati adalah kunci dari rahmat Allah Swt. Rahmat yang menghadiahkan cahaya ilahi bagi manusia.
3. Ucapan sapaan antara sesama penghuni surga adalah salam. Di dunia ini, sesama mukmin dianjurkan untuk menggunakan kalimat yang inah dan penuh makna.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (46)
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan. (33: 45)
Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (33: 46)
Beberapa ayat 40 surat al-Ahzab sebelumnya telah dipaparkan mengenai risalah dan posisi Nabi Muhammad Saw sebagai penutup para Nabi. Di ayat ini, Allah Swt menjelaskan kedudukan Rasulullah Saw sebagai teladan sempurna bagiu matnya. Beliau hidup bersama umat dan membimbing mereka menuju jalan yang benar.
Rasulullah Saw mengajak untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip tauhid yang diserukan Rasulullah Saw menegaskan bahwa hanya Allah Swt yang berhak disembah. Oleh karena itu, Rasulullah Saw tidak mengajak manusia untuk menjadikan umat sebagai hamba beliau, tapi menjadi hamba Allah Swt. Selain itu, Rasulullah Saw mengajak manusia meninggalkan berhala dan thagut yang menyebabkan mereka terbebas dari belenggu penghambaan selain Allah Swt.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Rasulullah Saw mengajak umat manusia menuju penghambaan kepada Allah Swt tidak hanya dengan lisan, tapi juga dengan perbuatan. Oleh karena itu, beliau menjadi teladan terbaik di tengah masyarakat.
2. Rasulullah Saw menjadi saksi dari perbuatan umatnya, maka kita sebagai umat beliau harus selalu menjaga perbuatan dalam kehidupan ini.
3. Dalam masalah pendidikan dan petunjuk bagi manusia, kabar gembira dan peringatan saling melengkapi. Tanpa kehadiran salah satunya akan menyebabkan manusia arogan maupun putus asa.
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا (47) وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (48)
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (33: 47)
Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (33: 48)
Di ayat sebelumnya dijelaskan dua terma kabar gembira dan peringatan sebagai metode pendidikan Rasulullah Saw. Ayat ini menjelaskan contohnya. Kabar gembira untuk Mukmin yang menjalankan perintah ilahi serta menjauhi larangannya. Merekalah yang masuk dalam kategori orang-orang yang diberi karunia khusus oleh Allah Swt. Mereka menerima pahala yang sangat bernilai dari perbuatan yang dilakukannya.
Tapi balasan atau ganjaran akan diberikan kepada orang-orang Kafir dan Munafik. Bukan hanya mereka saja yang menerima siksaan akibat perbuatannya, tapi orang-orang yang mengikutinya pun terkena akibatnya. Oleh karena itu, Allah Swt menyampaikan kepada Rasulullah Saw dan orang-orang Mukmin supaya bersabar atas tindakan buruk yang dilakukan oleh orang-orang Kafir dan Munafik. Allah Swt mengingatkan jangan sampai manusia mengikuti jalan orang-orang Kafir dan Munafik, dan bertawakallah kepada Allah Swt dalam perjuangan membela kebenaran.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pemimpin dunia Islam harus mengingatkan orang-orang yang bersih dan baik untuk mewaspadai tipu daya musuh dan bahaya berdamai dengan musuh-musuh Islam.
2. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah Swt tidak akan mematuhi permintaan tidak tepat orang-orang Kafir dan Munafik.
3. Orang-orang Munafik meskipun hidup di tengah masyarakat Islam dan dari luar tampak berada di barisan muslim, tapi kita harus memisahkan diri dari jalur kafir dan pihak-pihak yang sejalan dengan mereka. Oleh karena itu, kita harus mengenalinya dan menjaga diri dari jebakan bahaya plot mereka.