Jalan Menuju Cahaya 763
Surat al-Ahzab ayat 55-58.
لَا جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي آَبَائِهِنَّ وَلَا أَبْنَائِهِنَّ وَلَا إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلَا نِسَائِهِنَّ وَلَا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا (55)
Tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (33: 55)
Pada acara sebelumnya telah disinggung hukum mengenakan hijab di hadapan non-mahram. Sementara ayat ini menjelaskan tentang kerabat yang termasuk mahram. Allah Swt di ayat ini berfirman, anggota keluarga seperti ayah dan anak laki-laki, anak perempuan dan saudara perempuan kamu adalah mahram. Di urutan berikutnya, anak-anak saudara laki-laki dan saudara perempuan adalah mahram bagi paman dan bibinya, agar anak-anak perempuan dan para perempuan yang terikat tali kekerabatan dalam keluarga, tidak mengalami tekanan dan kesulitan.
Seorang muslimah selain harus mengenakan hijab yang sesuai di hadapan laki-laki non-mahram, juga di hadapan sebagian perempuan, seperti perempuan kufar atau pembantu, karena mungkin saja apa yang dilihatnya akan disampaikan kepada suami-suami mereka atau laki-laki non-mahram lainnya. Seluruh aturan dan hukum ini diterapkan untuk menjaga perempuan dari kerusakan akhlak. Selain mengontrol perilaku kasatmata, seorang manusia juga harus memperkuat ketakwaan batinnya sehingga menutup diri dari kemungkinan tercemari dosa.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hukum Islam tidak menciptakan kesulitan bagi manusia. Anggota keluarga yang tinggal bersama adalah mahram dan hijab wajib dikenakan di hadapan non-mahram.
2. Dalam hubungan keluarga dan masyarakat, baik dalam berhubungan dengan mahram maupun non-mahram, semua harus didasari ketakwaan dan kesucian. Hukum berhijab pun ditetapkan untuk tujuan ini.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56)
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (33: 56)
Ayat ini dan dua ayat setelahnya menekankan untuk menjaga kehormatan Nabi Muhammad Saw dan Mukminin, dan orang-orang beriman diminta untuk selalu menyampaikan salam dan mentaati seluruh perintah Nabi sebagai orang yang membimbing umat manusia kepada hidayah dan kebahagiaan. Sebelum menjelaskan tentang perintah tersebut, Allah Swt berfirman, "Aku dan malaikat-malaikat-Ku juga mengirimkan salam untuk Nabi dan menghargai kerja kerasnya dalam menunaikan risalah kenabian. Rasulullah Saw tidak pernah lelah membimbing kalian kepada hidayah dan tanpa mengharap imbalan apapun, ia mengerahkan seluruh upaya dan kemampuannya di jalan ini, maka dari itu kalian pun harus mengagungkan namanya dan ketika namanya disebut, sampaikanlah salam untuknya."
Di dalam riwayat disebutkan bahwa para sahabat Rasulullah Saw bertanya kepada beliau tentang bagaimana tatacara bershalawat kepada beliau. Nabi bersabda, bershalawatlah kepadaku seperti ini,
«اللّهمّ صَلِّ على مُحمُدٍ و على آلِ مُحمّدٍ كَمَا صَلَّیتَ عَلى آلِ اِبراهیمَ اِنَّكَ حَمیدٌ مجیدٌ اللّهمّ بارِك علَى مُحَمّدٍ و على آل محمد كما باركتَ على آل ابراهیمَ اِنّكَ حمیدٌ مجیدٌ».
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Di saat Tuhan dan para malaikat mengirimkan salam untuk Nabi Muhammad Saw karena kerja keras beliau, maka kita sebagai pengikutnya, juga harus berterimakasih atas perjuangan dan pengorbanan beliau dengan mengirimkan salam secara lisan dan melaksanakan kewajiban dengan mengamalkan seluruh perintahnya.
2. Kecintaan di dalam hati, tidak cukup. Kecintaan kita pada Rasulullah Saw harus ditunjukkan dalam praktik nyata.
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)
Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (33: 57)
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (33: 58)
Pada ayat sebelumnya, orang-orang beriman dianjurkan untuk berterimakasih atas kerja keras Rasulullah Saw dan senantiasa mengirim salam untuk beliau, sementara di ayat ini Allah Swt berfirman, "Akan tetapi orang-orang yang menyakiti Allah Swt dan Rasul-Nya, perbuatan mereka akan dibalas di dunia dan akhirat, dan mereka bukan termasuk orang-orang yang mendapat kasih sayang dan rahmat Tuhan." Menyakiti Allah Swt artinya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perintah dan ridha-Nya. Perbuatan tersebut tidak mengundang rahmat Ilahi, tapi kemarahan dan laknat Allah Swt. Dalam riwayat disebutkan, menyakiti hamba Tuhan sama dengan menyakiti Tuhan.
Sementara orang-orang yang tidak menerima kebenaran dari Rasulullah Saw, mengingkari dan membantahnya, atau menghina dan berlaku tidak sopan kepada beliau, maka sesungguhnya mereka telah membuat Allah Swt murka dan menyakiti Rasul-Nya. Tidak diragukan menyakiti Ahlul Bait as juga berarti menyakiti Rasulullah Saw dan dalam hadis dijelaskan bahwa Rasulullah Saw menekankan masalah ini. Kelanjutan ayat ini menjelaskan, bukan hanya Rasulullah Saw, tapi seluruh Mukminin dan Mukminat juga harus dihormati dan tidak ada seorangpun yang berhak menghina orang lain atas dasar prasangka buruk dan tanpa bukti. Kita dilarang untuk merusak kehormatan seorang Mukmin, karena perbuatan semacam itu di sisi Tuhan adalah dosa yang balasannya sungguh berat.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Janganlah kita menyakiti hati orang lain dengan lisan dan perbuatan kita sehingga Tuhan menutup pintu kasih sayang dan rahmat-Nya untuk kita.
2. Menghina, merendahkan dan melecehkan sesama, membawa sejumlah dampak yang sebagiannya akan terjadi di dunia ini dan membuat manusia terjerumus ke dalam penderitaan.