May 08, 2018 13:02 Asia/Jakarta

Surat Saba ayat 1-5.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآَخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (1) يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ (2)

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (34: 1)

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. (34: 2)

Ketika kita melihat sebuah lukisan indah, seperti lukisan gunung, laut, awan, hutan dan beragam spesies hewan, secara tak sadar kita akan memuji seniman yang melukis pemandangan tersebut. Apakah pencipta langit, bumi dan pemandangan indah yang menjadi inspirasi para pelukis, tidak layak untuk kita puji?

Ada lima surat al-Quran yang diawali dengan pujian kepada Tuhan. Yang paling pendek adalah surat al-Fatihah yang kita baca ketika menunaikan shalat. Surat lain adalah surat Saba yang kita bahas kali ini. Surat ini dimulai dengan pujian kepada Tuhan karena menciptakan alam semesta yang indah.

Ia yang menciptakan alam semesta dan Maha Mengetahui segala sesuatu serta tidak ada yang tersembunyai dihadapan-Nya. Ia mengatur dunia berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya.

Sementara itu, para penghuni surga juga memuji-Nya, karena Ia menyikapi hamba-Nya dengan keadilan dan kemurahan-Nya serta memberi pahala bagi hamba-hamba yang berbuat baik.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pujian sejati hanya milik Tuhan dan mereka yang memiliki kesempurnaan serta mendapat pujian, sejatinya pujian tersebut ditujukan kepada penciptanya.

2. Ilmu dan pengetahuan Tuhan terkait dunia dan manusia bukan pengetahuan universal, tapi Ia Maha Mengetahui setiap perincian alam dan perbuatan setiap makhluk hidup di alam semesta.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (3)

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (34: 3)

Mereka yang mengingkari Tuhan dan menolak mengakui-Nya, wajar jika mereka juga mengingkari hari Kiamat serta menolak mengakui kehidupan setelah kematian dan pengadilan di hari pembalasan. Namun nabi secara transparan menjelaskan, “Ini adalah perkiraan, keinginan serta angan-angan orang kafir bahwa tidak ada hari pembalasan setelah kematian dan mereka dengan seenaknya dan tanpa batasan berbuat segala sesuatu di dunia.”

Namun berdasarkan wahyu Ilahi yang diterima langsung nabi, seluruh umat manusia baik itu kafir atau mukmin akan dihadapkan pada pengadilan Ilahi di hari kiamat dan mereka harus menjawab setiap amal perbuatannya. Pengadilan ini digelar berdasarkan catatan para malaikat di dunia yang mencatat setiap amal perbuatan manusia. Pengadilan ini digelar secara adil dan setiap perbuatan baik kecil atau besar tidak luput dari catatan tersebut.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pengingkar Hari Kiamat (Ma’ad) tidak memiliki alasan ketika mereka menolak dan pengingkaran mereka hanya didasari pengetahuan yang terbatas dan prasangka.

2. Manusia sejatinya berhadapan dengan Tuhan yang Maha Mengetahui, yang mengetahui batin serta zahir manusia dan tidak ada sesuatu yang tersembunyi dihadapan Tuhan.

3. Di sistem materialis, kwantitas perbuatan sangat penting dan berpengaruh, namun di akhirat kwantitas tidak memainkan peran utama. Yang terpenting di hari Kiamat adalah kwalitas perbuatan serta motivasinya.

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4) وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آَيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ (5)

Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia. (34: 4)

Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu (jenis) azab yang pedih. (34: 5)

Ayat ini menindaklanjuti ayat sebelumnya terkait pengadilan hari Kiamat. Ayat ini mengisyaratkan nasib manusia dan menyatakan, “Manusia di hari Kiamat terbagi menjadi dua kolompok. Satu kelompok penghuni surga yang meraih rizki Ilahi di akhirat melalui amal perbuatannya selama di dunia. Sementara kelompok lain adalah penghuni neraka yang senantiasa berusaha mengingkari ayat-ayat al-Quran dan ajarannya. Mereka menyangka dapat lari dari kekuasaan Allah dan melemahkan-Nya.”

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Hanya keimanan dan amal saleh satu-satunya jalan untuk mendapat pahala Ilahi di Hari Kiamat.

2. Yang dapat memberi pahala sempurna dan sejati dari amal dan perbuatan manusia adalah yang memahami dengan jelas seluruh perbuatan manusia beserta niat dan motivasinya.

3. Kita jangan sampai lengah atas konspirasi dan upaya musuh untuk melemahkan al-Quran dan ajaran Islam. Mereka berusaha menjauhkan manusia dari ajaran al-Quran.