Jalan Menuju Cahaya 768
Surat Saba ayat 6-9.
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (6) وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ نَدُلُّكُمْ عَلَى رَجُلٍ يُنَبِّئُكُمْ إِذَا مُزِّقْتُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّكُمْ لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ (7)
Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (34: 6)
Dan orang-orang kafir berkata (kepada teman-temannya), “Maukah kamu kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur sehancur-hancurnya, sesungguhnya kamu benar-benar (akan dibangkitkan kembali) dalam ciptaan yang baru?” (34: 7)
Pada ayat sebelumnya dijelaskan tentang orang-orang yang mengingkari Hari Akhir (Ma’ad) dan berusaha menyesatkan masyarakat dengan membantah ayat-ayat Ilahi. Di ayat ini Allah Swt berfirman, ...dan orang-orang kafir itu berkata, apakah kalian mau kami tunjukkan kepada kalian seorang laki-laki yang memberitakan bahwa tubuh kalian yang hancur lebur di dalam kubur akan dibangkitkan dalam ciptaan yang baru ?
Beberapa ayat sebelumnya berbicara tentang orang-orang yang mengingkari Hari Akhir dan berusaha menyesatkan masyarakat. Sementara ayat ini menerangkan, para ilmuwan dan cendekiawan selalu memikirkan dan merenungkan ayat-ayat yang diturunkan Tuhan sehingga memahami makna yang dikandungnya. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa jalan untuk mendapatkan hidayah Ilahi adalah memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat Al Quran.
Di masa Rasulullah Saw, sebagian pemuka Ahli Kitab, dengan menyingkirkan fanatisme dan prasangka buruk, menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad Saw. Sepanjang sejarah Islam, banyak ilmuwan dan cendekiawan yang mempelajari ayat-ayat Al Quran dan bersaksi atas kebenaran serta keagungannya, sehingga menuntun mereka menjadi pengikut kitab suci ini dan agama Islam.
Di sisi lain, terdapat sekelompok orang yang selalu mempersoalkan Maad untuk membantah Al Quran dan risalah kenabian Nabi Muhammad Saw. Dengan nada mengejek dan menghina, mereka berkata, orang inilah yang mengatakan bahwa tubuh manusia setelah hancur di dalam kubur, bangkit kembali dari dalam tanah dan memulai kehidupan barunya.
Karena mereka tidak bisa mengingkari sumber eksistensi alam semesta dan manusia, maka mereka mengingkari Maad. Mereka juga berusaha mencegah masyarakat agar tidak beriman kepada Nabi Muhammad Saw dan menerima ajaran agama.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Berbeda dengan orang-orang yang menganggap agama sebagai sesuatu yang lahir dari kebodohan masyarakat, sepanjang sejarah terdapat banyak ilmuwan dan cendekiawan yang menyadari kebenaran Islam dan mengakuinya.
2. Jalan yang ditunjukkan para nabi, membawa kemuliaan dan kejayaan bagi orang-orang beriman di dunia.
3. Para penentang ajaran nabi, tanpa menggunakan akal dan rasio, merusak kepribadian nabi di hadapan masyarakat supaya tak ada seorangpun yang mempercayainya.
أَفْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَمْ بِهِ جِنَّةٌ بَلِ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ فِي الْعَذَابِ وَالضَّلَالِ الْبَعِيدِ (8) أَفَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنْ نَشَأْ نَخْسِفْ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ (9)
Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?” (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh. (34: 8)
Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya). (34: 9)
Para penentang nabi mengingkari kehidupan setelah mati dan mereka berkata, ini adalah kebohongan yang disampaikan orang itu tentang Tuhan, dan dia tentu sudah gila sehingga mengeluarkan kata-kata semacam ini. Jika tidak bagaimana mungkin seorang yang berakal bisa memiliki pemikiran seperti itu.
Menjawab tuduhan orang-orang itu, Allah Swt berfirman, Nabi Muhammad Saw tidak berbohong, tidak juga gila. Tapi kalianlah yang begitu jauh tersesat sehingga tidak bersedia menerima perkataan kebenaran, dan kalian mengira akan selamat dari azab yang ia beritakan, dengan mengingkari Hari Kiamat.
Selanjutnya Allah Swt berfirman kepada orang-orang kafir keras kepala itu, apakah kalian tidak melihat langit dan bumi, dengan kekuatan apa keduanya diciptakan ? apakah Tuhan yang mampu menciptakan keagungan semacam ini di langit dan bumi, tidak mampu membangkitkan kembali kalian, manusia ? apakah benar kalian meragukan kekuatan Tuhan sehingga ingkar ? atau apakah Tuhan tidak punya kekuatan untuk membenamkan kalian semua ke dalam bumi dengan menciptakan gempa dahsyat ? ataukah Ia tidak mampu menghancurkan kalian beserta rumah dan mata pencaharian kalian dengan menjatuhkan batu-batu dari langit ?
Setiap manusia berakal menganggap hal ini mungkin terjadi dan bisa terjadi di manapun saja di muka bumi ini. Lalu bagaimana mungkin sebagian orang hanya memperhatikan hari ini dan mengingkari Hari Kiamat, dengan mengabaikan masa lalu dan masa depannya.
Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Sebagian manusia menerima Tuhan sebagai pencipta dan sumber eksistensi, akan tetapi tidak mau menerima Maad sehingga bisa terlepas dari perintah-perintah Tuhan dan tanggung jawab yang ditimbulkan perintah itu.
2. Tidak mengimani akhirat adalah sumber segala penyimpangan dan bisa sangat menyesatkan manusia.
3. Merenungkan keagungan penciptaan, selain bisa memperkuat keimanan pada sumber wujud, juga menjadi mata air keimanan dan Maad.
4. Manusia yang tak berdaya menghadapi berbagai macam bencana alam seperti gempa bumi, bagaimana mungkin bisa lari dari azab pedih Tuhan dan menyelamatkan dirinya.
5. Merenungkan ciptaan Tuhan, mendorong manusia untuk beribadah dan menghamba Tuhan, membebaskannya dari ketergantungan pada orang lain dan menjadi sumber penghambaan kepada Sang Pencipta.