Jalan Menuju Cahaya 770
Surat Saba ayat 14-17
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ (14)
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (34: 14)
Dalam pertemuan terdahulu, disinggung sejumlah contoh kemajuan yang dicapai umat manusia di masa Nabi Sulaiman as dan peradaban di era tersebut. Di ayat ini, Allah Swt berfirman, Sulaiman dengan segala kejayaan dan keagungannya, nyawanya dicabut oleh malaikat Allah Swt saat sedang berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya. Untuk sekian lama, Nabi Sulaiman as berdiri dengan tongkatnya sampai rayap-rayap memakan habis bagian bawah tongkatnya sehingga ia terjatuh. Saat itu barulah masyarakat menyadari bahwa Nabi Sulaiman as telah meninggal dunia.
Para jin yang bekerja untuk Nabi Sulaiman as, sebagaimana manusia bekerja, juga tidak mengetahui hal ini. Mereka baru menyadari Nabi Sulaiman sudah meninggal ketika tubuh beliau jatuh. Karena jika para jin itu memiliki ilmu gaib dan dengan cepat menyadari kejadian tersebut, maka mereka akan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan berat, sulit dan menguras tenaga yang dibebankan kepadanya.
Imam Ali bin Abi Thalib as dalam Khutbah 182 di kitab Nahjul Balaghah berkata, jika ada seorang manusia yang bisa lari dari mati dan hidup abadi di dunia, maka seharusnya ia adalah Nabi Sulaiman yang mampu menguasai jin dan manusia, sekaligus memiliki derajat kenabian dan kedekatan dengan Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Sekalipun manusia sampai pada derajat kenabian dan kekuasaan di dunia, ia tetap akan meninggal dunia. Oleh karena itu tidak ada kedudukan dan posisi atau harta dan kekayaan yang patut kita banggakan di dunia ini, karena suatu hari pasti akan kita tinggalkan dan kita meninggalkan dunia ini sendirian.
2. Nabi Sulaiman dengan segala kejayaan dan keagungannya, jatuh oleh rayap dan hingga saat itu pasukannya tidak menyadari kematian beliau.
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آَيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (15)
Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (34: 15)
Pada pertemuan sebelumnya disinggung tentang kisah dua orang nabi Allah Swt, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman as yang berada di puncak kekuasaan dan kekuatan, namun tetap menjadi hamba paling bersyukur dan menggunakan seluruh nikmat yang diberikan Allah Swt untuk melayani masyarakat dan menjaga keamanan mereka.
Akan tetapi ayat 15 Surat Saba dan ayat-ayat berikutnya membahas kisah kaum Saba yang tenggelam dalam nikmat Ilahi namun mereka tidak bersyukur, sehingga menjadi pelajaran bagi manusia yang lain.
Kaum Saba hidup di sebuah daerah yang subur dan sejuk di Yaman sekarang. Dengan membangun bendungan yang kokoh dan kuat, mereka berhasil menyimpan cadangan air. Oleh karena itu dari sisi pertanian dan peternakan, mereka maju dan memiliki negara yang sejahtera.
Sungai yang luas dan panjang mengaliri daerah itu sepanjang tahun melalui bendungan yang dibangun warga. Di kedua sisi sungai terdapat kebun-kebun yang memberikan beraneka ragam hasil berlimpah setiap tahunnya. Sebuah daerah yang subur dengan udara bersih dan pepohonan berbuah banyak yang menjadi bukti kasih sayang Allah Swt kepada kaum Saba.
Lebih dari nikmat-nikmat itu, rahmat dan ampunan Allah Swt juga selalu menaungi mereka. Allah Swt mengampuni dosa-dosa mereka dan tidak mengurangi sedikitpun rezekinya.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Alam yang indah, pemandangan menakjubkan dan pepohonan serta hasilnya yang beraneka ragam, seluruhnya adalah tanda keagungan Ilahi.
2. Menyuburkan tanah untuk pertanian dapat membawa kasih sayang dan rahmat Ilahi, dan sama sekali tidak bertentangan dengan spiritualitas.
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (16) ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ (17)
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (34: 16)
Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (34: 17)
Manusia dalam menyikapi nikmat-nikmat Allah Swt terbagi dalam dua golongan. Satu golongan mensyukurinya, sementara golongan yang lain tidak mensyukurinya. Sebagian manusia ketika mendapatkan nikmat, langsung ingat kepada Tuhan dan menggunakan nikmat itu di jalan-Nya.
Namun sebagian yang lain lupa pada Tuhan dan nikmat itu hanya digunakan untuk memuaskan nafsu pribadi. Mereka menjadikan keinginannya sebagai standar dan ukuran atas segala urusan. Mereka lebih mendahulukan nafsunya ketimbang keinginan Tuhan dan melupakan akhirat.
Mereka mengingkari nikmat Ilahi dan tidak mensyukurinya. Orang-orang kaya membanggakan dirinya di hadapan kaum fakir miskin dan mencampakkan mereka. Kebanyakan manusia begitu terikat pada kehidupan dunia dan lalai terhadap akhirat dan Sang Pencipta. Mereka lupa bahwa semua yang dimilikinya berasal dari Allah Swt dan sesungguhnya mereka adalah hamba-Nya.
Kufur nikmat ini akan mendapat balasan yang pedih dari Tuhan. Banjir besar telah menyapu kota, kebun dan lahan pertanian kaum Saba. Tanah yang subur itu seketika musnah karena banjir, pohon-pohon mati dan tidak bisa berbuah lagi, hingga akhirnya tidak tersisa satupun, dan sebagai gantinya tumbuh pepohonan yang tidak menghasilkan buah atau berbuah pahit dan tidak bisa dimakan.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tidak bersyukur secara lisan dan kufur nikmat, akan mendatangkan bencana di dunia, dan ini adalah bagian dari sistem azab dan pahala Ilahi.
2. Nasib setiap manusia dan kaum berada di tangan mereka sendiri, dan masa lalu juga masa depan merupakan sunatullah.
3. Tenggelam dalam dosa dan terus melakukannya, akan menurunkan azab Ilahi, namun jika manusia tidak bersikeras melakukan dosa dan melanjutkannya, Allah Swt akan memberikan pengampunan.