Jalan Menuju Cahaya 771
Surat Saba ayat 18-21.
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آَمِنِينَ (18) فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (19)
Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman. (34: 18)
Maka mereka berkata, “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. (34: 19)
Pada pertemuan sebelumnya diulas secara umum tentang kisah kaum Saba yang hidup di wilayah Yaman sekarang. Ayat 18-19 Surat Saba pertama menjelaskan, Allah Swt melimpahkan nikmat yang begitu banyak kepada kaum Saba sehingga di seluruh wilayah mereka, berdiri desa-desa yang makmur dengan jarak yang saling berdekatan.
Tanahnya begitu subur dan ditumbuhi bunga dan berbagai jenis pohon serta dijadikan lahan pertanian sehingga jalanan desa tampak pendek dan desa satu dengan yang lainnya saling terhubung. Selain nikmat-nikmat tersebut, wilayah itu juga dianugerahi nikmat keamanan dan secara umum merupakan wilayah yang makmur untuk ditinggali. Semua penduduknya bekerja dan memperoleh nikmat yang melimpah.
Namun kondisi ini tidak berlangsung lama. Kelalaian, kesombongan dan kebiasaan selalu berfoya-foya sebagian besar warga kaum Saba menyebabkan mereka melupakan Allah Swt. Mereka takabur dan menganggap diri sebagai kaum terbaik dan hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Seolah-olah mereka sudah kenyang dan bosan dengan segala kemakmuran itu dan berkata, kami ingin berganti suasana, kami tidak mesti sedekat ini lagi dan harus ada jarak.
Para pengingkar nikmat Tuhan itu ingin menukarkan nikmatnya dengan bencana. Oleh karena itu bendungan yang selama ini menjadi sumber kesuburan dan kemakmuran wilayah tersebut akhirnya hancur. Tak disangka, beberapa faktor menyebabkan dinding bendungan yang terbuat dari tanah itu lapuk di dalam dan ketika diterjang air bah, seketika runtuh sehingga menimbulkan banjir besar.
Kejadian ini telah mengubah wilayah kaum Saba yang sebelumnya merupakan wilayah subur dan makmur, menjadi wilayah yang penuh lumpur dan bekas reruntuhan. Nasib sebuah kaum yang menjadi pelajaran itu, selama bertahun-tahun selalu diperbincangkan oleh masyarakat. Mereka mengatakan, bagaimana mungkin wilayah yang begitu subur itu seketika berubah menjadi kering dan dipenuhi tanaman berduri.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tidak mensyukuri nikmat Ilahi menyebabkan hilangnya nikmat tersebut atau mengubah nikmat itu menjadi bencana dan menimbulkan berbagai macam masalah.
2. Balasan sebagian perbuatan dosa termasuk tidak bersyukur akan diterima manusia di dunia ini dan berdampak pada kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakatnya.
3. Al Quran menasihati kita agar membaca pengalaman kaum-kaum terdahulu untuk dijadikan pelajaran dalam kehidupan.
وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (20) وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآَخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ (21)
Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. (34: 20)
Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (34: 21)
Setelah berusaha menyesatkan Nabi Adam dan Hawa, Iblis diusir dari surga. Namun ia bersumpah akan menyesatkan anak-anak Adam hingga akhir masa dan ia mengira akan berhasil melakukannya. Ayat 20-21 Surat Saba menjelaskan, setan menganggap dirinya telah berhasil memperdaya kaum Saba, karena sebagian besar penduduknya menuruti bujukannya dan hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman menolak menuruti bujukan setan.
Dalam kedua ayat di atas Allah Swt berfirman, jangan mengira bahwa setan bisa menguasai manusia dan memaksa mereka melakukan dosa dan pembangkangan. Sama sekali tidak demikian, pekerjaan setan hanya menggoda dan membujuk, dan jika Allah Swt membiarkan dan mengizinkan iblis melakukan pekerjaan ini, sesungguhnya itu hanya untuk menguji manusia.
Allah Swt ingin membedakan siapa yang beriman kepada akhirat dan tidak terpengaruh godaan setan, dan siapa yang ragu-ragu dan mudah tersesat hanya dengan sedikit godaan. Lazimnya orang-orang yang lemah iman, mereka dengan cepat dapat dipengaruhi oleh keinginan-keinginan nafsu atau godaan-godaan dari luar, dan tidak punya kemampuan melawan.
Tidak diragukan, Allah Swt menyaksikan seluruh amal perbuatan hamba-hamba-Nya, akan tetapi Ia tidak menghukum atau mengganjar sesuai ilmu-Nya. Selama seseorang belum melakukan perbuatan apapun, Allah Swt tidak akan menjatuhkan hukuman atau ganjaran kepadanya.
Tepat seperti seorang guru yang mengetahui muridnya yang cerdas dan rajin belajar, selama murid itu belum diuji, sekalipun mengetahui kecerdasan murid itu, ia belum akan meluluskannya. Jelas bahwa ilmu seorang guru tidak memenuhi syarat untuk memberikan ganjaran kepada murid-muridnya. Mereka terlebih dulu harus menunjukkan pengetahuan dan kemampuan ilmiahnya dalam praktik.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu kesempatan yang terbuka bagi setan untuk menyesatkan manusia adalah tidak mensyukuri nikmat Ilahi. Kaum Saba karena mereka mengingkari nikmat Ilahi, maka setan berhasil menyesatkannya.
2. Allah Swt dari satu sisi memberikan ikhtiar kepada manusia dan di sisi lain, menunjukkan jalan yang benar dan menyimpang kepadanya lewat akal dan wahyu. Para nabi dan wali Allah Swt menyeru manusia kepada kebaikan, sementara setan mengajak manusia kepada keburukan. Oleh karena itu, manusia harus memilih jalannya sendiri dengan bantuan kehendak bebas dan ikhtiarnya.