Jalan Menuju Cahaya 772
Surat Saba ayat 22-24.
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ (22) وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (23)
Katakanlah, “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (34: 22)
Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (34: 23)
Ayat tersebut ditujukan kepada kaum musyrik dan penyembah berhala Mekkah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan rasional untuk mematahkan kepercayaan batil mereka. Mereka menganggap Tuhan memiliki sekutu dan sebagian urusan diatur oleh sekutu-sekutu itu. Jika demikian, al-Quran menyeru kaum musyrik dan penyembah berhala untuk meminta bantuan kepada para sekutu Tuhan dalam mengatasi semua persoalan.
Jika Tuhan punya sekutu seperti yang diyakini kaum musyrik dan penyembah berhala, maka para sekutu itu tentu memiliki hak dalam pengaturan sebagian dari langit dan bumi, atau bersekutu dengan Tuhan dalam penciptaan dan pengaturan semesta, atau paling tidak menjadi pembantu Tuhan dalam pekerjaannya, namun faktanya mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun.
Salah satu keyakinan kaum muslim adalah para nabi dapat memberi syafaat di hari kiamat kelak. Lalu, apa perbedaan antara berhala dan pemberi syafaat? Jawabannya adalah para nabi dan auliya Allah sama seperti makhluk lain, tidak memiliki kekuasaan dari dirinya sama sekali. Akan tetapi, Allah mengizinkan mereka untuk memberi syafaat kepada sebagian orang.
Semua mengetahui bahwa Allah mengutus para nabi sebagai perantara (wasilah) untuk membimbing masyarakat dan membekali mereka dengan wahyu, dan mereka juga mengajarkan ajaran tersebut kepada masyarakat. Dalam masalah syafaat, sebagian orang mukmin yang memiliki kealpaan dalam melaksanakan perintah Allah, mendatangi para nabi dan meminta mereka untuk menjadi perantara antara dirinya dan Allah sehingga Dia menerima taubat hambanya.
Dengan kata lain, taubat adalah jalan untuk kembali kepada Allah, golongan mukmin ini mendatangi para nabi untuk meminta keridhaan mereka sehingga terbuka pintu keridhaan Tuhan.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Membayangkan ada pencipta dan pemilik lain selain Allah Swt yang bisa disembah oleh manusia, adalah sebuah kepercayaan yang batil dan sesat.
2. Kebodohan dan kelemahan menuntut manusia untuk memiliki sekutu yang bisa membantu tugas-tugasnya. Namun, Allah maha mengetahui dan maha kuasa sehingga Dia sama sekali tidak membutuhkan sekutu.
3. Syafaat bukan berarti para pemberi syafaat itu lebih penyayang dari Allah, karena wewenang syafaat itu merupakan pemberian Allah kepada para nabi.
4. Orang-orang kafir dan pendosa pada suatu hari nanti akan mengakui kebenaran misi para nabi dan wahyu, namun sudah tidak ada gunanya lagi.
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24)
Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (34: 24)
Setelah menyinggung masalah penciptaan pada ayat sebelumnya, ayat 24 surat Saba' berbicara tentang pemberian rezeki. Siapakah yang memberi rezeki kepadamu? Siapa yang mengirim awan dan angin pembawa hujan sehingga tanah gersang siap ditanami? Siapa yang menumbuhkan benin-benih tumbuhan sehingga ia memberi berbagai hasil kepada manusia? Siapa yang memerintahkan matahari untuk memberi kehangatan dan cahaya kepada manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan? Siapakah pemberi perintah kepada langit dan bumi sehingga manusia bisa hidup nyaman?
Kalian menganggap Allah memiliki sekutu dalam semua pekerjaan itu. Padahal, semua karunia ini berasal dari sisi Tuhan Yang Maha Esa dan tiada sekutu baginya. Jelas, kedua keyakinan ini benar-benar bertentangan. Pikirkanlah baik-baik, jika ucapan Kami benar, maka ikutilah dan jika batil, tolaklah ia.
Sebenarnya, para nabi tidak berkata bahwa kami berada atas kebenaran, sedangkan kalian pada kesesatan, tapi mereka berkata bahwa sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Kita harus mengkaji dengan akal sehat dan melihat siapakah golongan yang berada di jalan petunjuk dan siapa di jalan kesesatan.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Di bidang pendidikan dan pengajaran, kita harus banyak melemparkan pertanyaan ketimbang penyampaian satu arah, sehingga para audiens terbuka mata hatinya untuk mencari jawabannya.
2. Meski manusia memproduksi berbagai produk dengan usaha dan kerja kerasnya, namun semua sarananya telah disediakan oleh Allah Swt. Air, tanah, dan cuaca adalah unsur-unsur yang berperan penting di sektor pertanian, dan ini merupakan karunia Allah kepada manusia.
3. Rezeki dari langit adalah cahaya, mentari, awan, angin dan hujan. Sedangkan rezeki dari bumi adalah hasil pertanian dan keberkahan.
4. Kita harus bersikap adil ketika terlibat diskusi dengan lawan, bukannya malah berkata, “Kami adalah pihak yang benar, sedangkan kalian batil.”