Jalan Menuju Cahaya 773
Surat Saba ayat 25-30.
قُلْ لَا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ (25) قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ (26) قُلْ أَرُونِيَ الَّذِينَ أَلْحَقْتُمْ بِهِ شُرَكَاءَ كَلَّا بَلْ هُوَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (27)
Katakanlah, “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat.” (34: 25)
Katakanlah, “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (34: 26)
Katakanlah, “Perlihatkanlah kepadaku sembah-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu-Nya, sekali-kali tidak mungkin! Sebenarnya Dialah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (34: 27)
Pada pembahasan sebelumnya telah diulas mengenai seruan Rasulullah Saw terhadap masyarakat tentang jalan kebenaran. Beliau mengajak manusia untuk berpikir dan mengenali kebenaran dengan akal mereka. Sebab setiap orang akan mempertanggung jawabkan setiap perbuatan yang dilakukannya sendiri-sendiri.
Di ayat ini, Allah swt berfirman bahwa pada hari kiamat kelak setiap orang akan ditanya dan dimintai pertanggung jawaban dari perbuatannya masing-masing. Allah swt yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya mengadili perbuatan setiap orang dengan adil.
Setiap orang di dunia ini merasa tingkah lakunya sesuai dengan jalan kebenaran. Oleh karena itu, upaya untuk mengadili manusia berdasarkan jalan yang ditempuhnya dan klaimnya yang benar maupun salah tidaklah mudah. Tapi pada Hari Kiamat kelak tidak demikian. Sebab, Allah swt dengan ilmunya menentukan hak dan batil dengan sebenar-benarnya keputusan.
Ayat selanjutnya kembali ditujukan kepada orang-orang musyrik bahwa apa yang selama ini dijadikan sebagai sekutu selain Allah hanya ilusi semata yang keliru dan salah. Semua itu tidak bisa dibuktikan dengan dalil. Sembahan-sembahan itu hanya potongan kayu maupun batu yang tidak layak untuk disandingkan dengan pencipta alam semesta ini.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pada Hari Kiamat, parameter penilaian terhadap perilaku dan tindakan adalah hak dan batil, bukan berdasarkan hubungan keluarga, bahasa maupun suku bangsa dan lainnya. Tapi berdasarkan kebenaran, bukan yang lain.
2. Ketika berdialog dengan orang-orang musyrik, mereka mengklaim dirinya bukan orang-orang yang berdosa maupun pihak yang melakukan kesalahan dan dosa. Rasullah Saw kepada orang-orang musyrik menyatakan bahwa Allah swt akan menanyai dan meminta pertanggungjawaban perbuatan dosa masing-masing.
3. Tidak satupun sembahan rekaan manusia baik berhala maupun malaikat yang mengakui dirinya sebagai sekutu Allah swt. Hanya orang-orang bodoh saja yang menghubungkan sembahan tersebut dengan Tuhan Yang Maha Esa.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (28)
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (34: 28)
Setelah membahas masalah tauhid dan syirik, ayat ini menjelaskan tentang risalah Rasullah Saw yang bersifat komprehensif dan universal. Meskipun manusia yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw adalah orang-orang Arab dan kitab suci al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, tapi pesan yang disampaikannya bersifat universal dan tidak terbatas pada periode tertentu saja.
Risalah ilahi yang disampaikan Rasulullah Saw untuk semua kalangan dan bersifat universal melampaui sekat etnis maupun periode tertentu, dan yang berlaku hingga akhir zaman. Pesan di ayat ini sama seperti yang disampaikan di awal surat al-Furqan mengenai universalitas dakwah Rasulullah Saw.
Ayat ini menjelaskan tentang metode pendidikan dalam penyampaian risalah Rasulullah saw kepada umat manusia. Ayat ini mengabarkan berita gembira tentang kebahagiaan di dunia dan akhirat kepada orang-orang yang menerima kebenaran.
Sebaliknya, ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang menolak kebenaran karena keras kepala dan sifat buruk lainnya. Tapi amat disayangkan sebagian manusia tidak mengetahui peran penting iman dan kafir dalam kehidupan untuk mencapai kebahagiaan sejati. Ayat ini memberikan berita gembira sekaligus peringatan mengenai jalan hak dan batil.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Risalah Rasulullah Saw bersifat universal. Oleh karena tidak bisa diterima alasan orang yang menolak kebenaran karena pertimbangan suku bangsanya. Misalnya, orang-orang Syam dan Palestina hanya menerima agama Kristen karena Nabi Isa dilahirkan dan menyebarkan risalahnya di sana.
2. Tugas para Nabi menyampaikan risalah ilahi, bukan memaksa manusia supaya menerima kebenaran. Oleh karena itu, metode dakwah mereka berdasarkan seruan dan ajakan, bukan paksaan.
وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (29) قُلْ لَكُمْ مِيعَادُ يَوْمٍ لَا تَسْتَأْخِرُونَ عَنْهُ سَاعَةً وَلَا تَسْتَقْدِمُونَ (30)
Dan mereka berkata, “Kapankah (datangnya) janji ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar?.” (34: 29)
Katakanlah, “Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat) yang tiada dapat kamu minta mundur daripadanya barang sesaatpun dan tidak (pula) kamu dapat meminta supaya diajukan.” (34: 30)
Setelah membahas masalah tauhid dan kenabian, kelanjutan ayat menjelaskan tentang hari kiamat. Ayat ini menegaskan bahwa adanya para pengingkar hari kiamat bukan dalil yang menunjukkan tidak adanya Hari Kiamat. Tapi hanya mengenai tidak jelasnya waktu kapan akan terjadi Hari Kiamat. Meskipun semua orang tahu akan meninggal, tapi mereka tidak pernah mengetahui kapan waktunya.
Ayat ini menegaskan kepastian terjadinya kiamat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Ketetapan itu pasti akan datang dan kita tidak bisa lari dari kenyataan tersebut. Pastinya, yang harus dipersiapkan adalah bagaimana memperbaiki perilaku di dunia supaya kita siap mempertanggungjawabkan setiap perbuatan di Hari Kiamat kelak.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Waktu terjadinya kiamat hanya Allah swt yang tahu. Bahkan para Nabi pun tidak mengetahuinya.
2. Dari pada mencari alasan mengenai waktu terjadinya kiamat, lebih baik memikirkan dan merenungkan mengenai pahala dan hukuman setiap perbuatan manusia di dunia. Hal itu akan mendorong manusia untuk memperbaiki perilakunya, sehingga tidak mamasuki Hari Kiamat dengan tangan kosong.