May 08, 2018 13:28 Asia/Jakarta

Surat Saba ayat 31-33.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ نُؤْمِنَ بِهَذَا الْقُرْآَنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ (31)

Dan orang-orang kafir berkata, “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya.” Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.” (34: 31)

Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai kedudukan orang-orang mukmin dan kafir pada Hari Kiamat kelak, ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir mengingkari kandungan kitab suci al-Quran mengenai tauhid dan hari akhir.

Mereka tidak mau menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu datang kepadanya. Posisi mereka seperti orang yang pura-pura tertidur dan tidak mau mendengar suara apapun yang akan membangunkannya.

Allah swt di ayat ini berfirman bahwa orang-orang kafir yang menolak kebenaran ketika berada di dunia disebabkan fanatisme buta, keras kepala dan arogansinya. Tapi pada Hari Kiamat mereka mencari alasan untuk menjustifikasi sepak terjangnya di dunia, termasuk dengan menyalahkan orang lain. Akhirnya terjadi saling menyalahkan antarsesama orang kafir pada Hari Kiamat kelak.

Dari ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sikap keras kepala menyebabkan manusia menjadi kufur dan mengingkari kebenaran.

2. Semua kitab suci agama samawi memiliki satu tujuan yang sama. Oleh karena itu, orang-orang kafir tidak mengimani kandungan kitab suci agama seperti tauhid dan kehidupan akhirat.

3. Kafir dan syirik merupakan kezaliman besar terhadap kebenaran dan para Nabi dan Rasul.

4. Dalam budaya agama, berbuat lalim terhadap diri sendiri termasuk contoh dari  perbuatan zalim.

5. Pada Hari Kiamat kelak, iman menjadi faktor penyelamat manusia.

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ (32) وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (33)

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.” (34: 32)

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (34: 33)

Di ayat ini beberapa kali disebutkan kata mustadafin yang berarti yang yang lemah, dan kata mustakbirin atau orang yang menyombongkan diri maupun penindas. Tampaknya, maksud dari mustadafin di ayat ini adalah orang-orang yang mengikuti pihak lain dengan mata serta telinga tertutup, dan tidak menggunakan akal maupun pikirannya. Sedangkan maksud dari mustakbirin adalah orang-orang yang menggunakan kekuasaan dan hartanya untuk memaksa orang lain yang berada dalam pengaruhnya.

Mustakbirin dengan kekuatan harta dan kekuasaannya memaksa orang lain, terutama orang-orang lemah supaya mengikuti kehendaknya. Dengan berbagai propaganda dan agitasinya, mereka menyebarkan pemikiran kufur, sehingga sebagian orang meninggalkan ajaran Rasulullah Saw dan kitab suci.

Mustakbirin menggunakan kecenderungan hawa nafsu untuk diarahkan demi kepentingan mereka. Sebab tujuan mereka menjauhkan dari kebenaran dan mengarahkan orang lain supaya menolak kebenaran.

Ayat ini menceritakan dua kelompok di hari kiamat yang menunjukkan bahwa setiap orang berupaya untuk menyelamatkan dirinya. Mustakbirin yang menipu orang lain dengan harta dan kekuasaannya berupaya menjustifikasi sepak terjangnya di dunia.

Setiap orang yang terbuka hati nuraninya, meskipun tidak memiliki pendidikan tinggi, tidak akan mengikuti hawa nafsunya, dan bersedia menerima kebenaran yang dibawa para Nabi dan Rasul serta kitab suci sebagai fitrah yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia.

Di akhirat kelak, mustakbirin akan diganjar dengan hukuman sesuai perbuatan kufur dan perannya dalam menyelewengkan masyarakat dari jalan kebenaran. Demikian juga dengan orang-orang yang tertipu oleh propaganda mereka juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang menolak kebenaran.

Dari dua tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Setiap kerusakan dalam masyarakat berpengaruh terhadap setiap orang yang berada di dalamnya. Tapi mereka tidak dipaksa untuk melakukan kerusakan. Oleh karena itu mereka tidak bisa berlepas diri dan melepaskan tanggung jawabnya dengan menyalahkan keadaan ataupun orang lain.

2. Pada hari kiamat kelak setiap orang akan mempertanggungjawabkan  setiap perbuatannya masing-masing. Dengan kata lain, tidak bisa melimpahkan dosa seseorang kepada orang lain ataupun masyarakat.

3. Setiap orang yang mendengar seruan para Nabi dan isi kitab suci, meskipun tidak bersedia untuk menerimanya, maka ia harus mempertanggungjawabkan kepada Allah swt di hari kiamat kelak.

4. Orang-orang sombong dan penindas menggunakan harta maupun kekuasaannya untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat dengan propagandanya demi menjauhkan masyarakat dari kebenaran dan jalan ilahi yang benar.

5. Orang-orang yang tersesat berupaya untuk mempengaruhi orang lain untuk mengikuti jalan sesat yang ditempuhnya, sehingga masyarakat berada dalam kerusakan dan penyimpangan.