May 08, 2018 13:30 Asia/Jakarta

Surat Saba ayat 34-37.

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (34) وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (35)

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (34: 34)

Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (34: 35)

Pada pembahasan sebelumnya disinggung mengenai dialog antara mustakbirin dan mustadafin. Ayat ini menjelaskan mengenai kehidupan mustakbiri yang bermewah-mewahan. Mereka mengira dirinya lebih unggul dari yang lain dengan bersandar pada harta dan keterkenalan keluarganya.

Mereka tidak memperdulikan seruan para Nabi. Sebab kebanyakan orang-orang yang lemah berada di sekitar para Nabi. Orang-orang kaya yang sombong merasa kedudukannya akan turun jika bergabung dengan orang-orang miskin dan lemah secara ekonomi maupun sosial.

Mereka secara terbuka menyatakan tidak bersedia untuk beriman kepada para Nabi dan kitab suci ilahi. Saking arogannya, mereka mengira di hari kiamat kelak tidak akan diazab oleh Allah Swt, sebab Allah mencintai mereka karena dikarunia rezeki yang melimpah.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Harta dan kekuasaan terkadang membuat manusia buta mata hatinya. Sebab, acapkali semua ini menyebabkan manusia menolak seruan para Nabi tanpa alasan yang jelas.

2. Harta yang melimpah dan kekuasaan di dunia tidak menunjukkan kedekatan manusia dengan Tuhan. Tapi karunia Allah Swt tersebut menjadi tanggung jawab bagi manusia yang mendapatkannya.

3. Kesejahteraan materi yang menyebabkan manusia sombong dan arogan justru akan menghalangi manusia menerima kebenaran.

4. Kesejahteraan materi di dunia tidak menunjukkan kebahagiaan di akhirat kelak. Sebab, banyak sekali orang yang hidup sejahtera di dunia, ternyata menghadapi kehidupan yang sebaliknya di akhirat kelak.

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (36)

Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (34: 36)

Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya mengenai klaim mustakbirin yang mengira kesejahteraan di dunia sebagai bentuk karunia Allah Swt kepada mereka di akhirat. Di ayat ini ditegaskan bahwa kelapangan rezeki atau sebaliknya tidak menunjukkan kedekatan maupun murka ilahi. Oleh karena itu, orang kaya tidak berarti dekat dengan Allah swt, atau sebaliknya.

Perbedaan dalam rezeki ditentukan oleh hikmah dan kemaslahatan yang Allah swt tetapkan di alam semesta ini. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan kemurahan maupun kemarahan Allah Swt terhadap makhluk-Nya. Tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui masalah ini. Oleh karena itu seringkali muncul penilai keliru terhadap masalah tersebut.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Memperoleh karunia ilahi ditetapkan sesuai hikmah dan kemaslahatan Allah Swt, bukan tanda kemarahan maupun kemurahan-Nya.

2. Salah satu kewajiban para Nabi adalah memperbaiki urusan manusia, termasuk mengubah pandangan keliru masyarakat yang seringkali dihubungkan dengan Tuhan. Contohnya, sebagian orang mengira melimpahnya rezeki sebagai bentuk kedekatan dengan Allah Swt.

3. Harta dan karunia lainnya seperti anak harus dilihat datang dari Allah Swt, bukan dari kita sebagai makhluk-Nya. Tapi kita juga harus mempertimbangkan kerja dan sarana untuk meraih rezeki yang datang dari Tuhan.

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آَمِنُونَ (37)

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (34: 37)

Berdasarkan surat at-Taghabun, seluruh karunia ilahi, termasuk harta dan anak-anak merupakan ujian ilahi bagi manusia. Sebab ada juga manusia yang memiliki harta, dan kekuasaan yang dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan dan membantu orang-orang yang membutuhkan.

Apabila harta maupun karunia lainnya seperti kekuasaan dipergunakan untuk perbuatan baik, maka pahala akhirat akan diraihnya.Tapi sebaliknya, jika harta dan karunia lainnya justru dipergunakan untuk keburukan, maka malapetaka akan menyertainya, dan azab akhirat akan ditimpakan kepadanya.

Demikian pula, orang-orang yang tidak memiliki kelapangan rezeki di dunia jika bersabar dalam kesusahan dan tidak melakukan kejahatan, maka akan meraih pahala di akhirat kelak. Tapi sebaliknya, orang yang menjadikan kemiskinan dan kesempitan rezeki untuk melakukan tindakan kejahatan akan mendapatkan ganjaran balasan perbuatannya di akhirat kelak.

Ayat ini menjelaskan bahwa parameter kedekatan dengan Allah swt adalah iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Allah Swt di ayat ini menyerukan supaya manusia memperhatikan amal perbuatannya di dunia ini. Apabila di dunia ini melakukan perbuatan baik dan terpuji, maka akan mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat kelak. Tapi sebaliknya, jika melakukan keburukan, baik itu kaya maupun miskin, maka akan mendapatkan ganjaran balasannya dari Allah Swt.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sebagian orang mengira harta dan anak sebagai tanda kebahagiaan dan keselamatan manusia. Padahal iman dana amal solelahh yang menjadi ukuran di hadapan Allah Swt.

2. Memiliki harta dan anak serta fasilitas melimpah di dunia tidak penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana menggunakannya. Jika seluruh fasilitas tersebut dipergunakan di jalan keimanan dan amal saleh, maka akan membawa manusia menuju kesempurnaan dan kemuliaannya.

3. Ganjaran siksaan ilahi disesuaikan dengan perbuatan dosa dan kesalahan yang dijalankan. Tapi pahala ilahi berdasarkan kemurahan Allah yang dilimpahkan sebagai balasan beberapa kali lipat atas perbuatan baik yang kita lakukan.