May 08, 2018 13:33 Asia/Jakarta

Surat Saba ayat 38-41.

وَالَّذِينَ يَسْعَوْنَ فِي آَيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ (38)

Dan orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu dimasukkan ke dalam azab. (34: 38)

Ayat terakhir di pembahasan kita sebelumnya menunjukkan poin ini bahwa harta dan anak bukan faktor kebahagiaan manusia, tapi iman dan amal saleh yang membuat manusia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat serta menempatkannya di surga Ilahi.

Ayat ini mengisyaratkan kelompok non mukmin dan menyatakan, “Mereka senantiasa mengingkari kebenaran dan memeranginya ketimbang mengenal serta mengikutinya. Mereka menyangka mampu keluar dari kekuasaan Tuhan karena kekayaan da kekuatan yang dimilikinya serta lari dari azab.” Orang-orang ini harus menyadari bahwa pemikiran seperti ini batil dan mereka kelak di Hari Kiamat akan diadili dan mendapat balasan dari kekufurannya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan memanfaatkannya untuk membungkam kebenaran dan mencitrakannya lemah, maka mereka sendiri akan jatuh dan tidak akan mampu mengalahkan kekuasaan dan kehendak Allah.

2. Musuh Islam berusaha untuk melemahkan posisi al-Quran di antara masyarakat. Oleh karena itu, seluruh Muslim khususnya ulama berkewajiban untuk mencegah rencana busuk musuh.

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (39)

Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (34: 39)

Melanjutkan pembahasan ayat sebelumnya yang mencela orang-orang yang menyombongkan diri dengan anak serta kekayaan yang dimilikinya, ayat ini mengatakan, "Allah lah yang memberi rizki kepada umat manusia dan memperbanyak atau mengurangi rizki tersebut berdasarkan hikmah dan maslahat. Oleh karena itu, jangan sombong ketika mendapat rizki yang banyak dan jangan berputus asa ketika rizki kalian sedikit."

Lebih lanjut ayat ini menambahkan, Manusia harus menginfakkan sebagian rizkinya dan sesuai dengan kemampuannya kepada mereka yang membutuhkan, karena rizki berada di tangan Tuhan dan Ia berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan manusia serta rizki tidak akan berkurang dengan infak.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Perbedaan hamba Tuhan di rizki seperti perbedaan mereka di potensi dan kemampuannya, semuanya berdasarkan hikmah Ilahi.

2. Allah Swt sebagai pemberi rizki kepada manusia dan seluruh makhluk, memberi jaminan bahwa apa yang diinfakkan manusia akan diganti.

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (40) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (41)

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?.” (34: 40)

Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (34: 41)

Salah satu kepercayaan tahayul orang musyrik adalah kemampuan malaikat member syafaat di hari Kiamat. Oleh karena itu, mereka menyembah malaikat dan mengkultuskannya. Padahal malaikat sendiri tidak pernah mengakui posisi seperti ini dan juga tidak pernah mengklaimnya.

Al-Quran saat menggambarkan hari Kiamat menyatakan, para malaikat saat memberi pembelaan diri dari klaim orang musyrik mengatakan, mereka (orang musyrik) terbawa pemikiran syaitan dan mengikuti syaitan serta mereka taat kepada syaitan. Syaitan mencitrakan penyembahan berhala kepada orang musyrik sebagai perbuatan baik dan indah serta mendiktekan keyakinan dan perilaku menyimpang kepada mereka (orang musyrik). Sepertinya orang musyrik menyembah syaitan dan mentaatinya ketimbang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang musyrik mengkultuskan para malaikat. Mereka meyakini bahwa para malaikat akan memberi syafaat kepada mereka di Hari Kiamat. Oleh karena itu dengan berbagai cara, mereka menyembah malaikat dengan harapan mendapat syafaatnya.

2. Kita harus berhati-hati jangan sampai terkena tipu muslihat syaitan dan jangan menerima ajaran sesat. Jangan pula kita melakukan perbuatan buruk dan jelek yang dicitrakan sebagai perbuatan baik oleh syaitan.