May 08, 2018 13:36 Asia/Jakarta

Surat Saba ayat 42-45.

فَالْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ (42)

Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu.” (34: 42)

Pada pertemuan sebelumnya, Allah Swt berkata kepada orang-orang musyrik: kalian mengklaim bahwa kalian menyembah malaikat dan meminta syafaat, sementara malaikat sendiri menolak hal itu di hari Kiamat dan mengatakan bahwa kalian mengikuti iblis dan kalian mengharapkan pertolongan dari setan.

Ayat ini menyebutkan, pada Hari kiamat, kecuali Allah Swt dan orang-orang yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang bisa menguntungkan atau merugikan orang lain, misalnya seseorang yang penghuni neraka dijadikan sebagai penghuni sorga dan sebaliknya. Pemilik hari itu hanya Allah Swt . Oleh karena itu, para penyembah berhala yang melakukan penindasan terbesar atas hak mereka sendiri dan agama Allah Swt, akan disiksa pada hari itu, di mana di dunia mereka menolak dan mengingkarinya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kondisi di Hari Kiamat berbeda dengan dunia. Di dunia, orang bisa mendapatkan keuntungan atau merugikan orang lain. Tapi di Hari Kiamat, tidak ada yang memiliki urusannya sendiri, apalagi ingin menyakiti atau menguntungkan orang lain.

2. Menuju ke selain Allah Swt adalah menzalimi diri sendiri kecuali jika Allah Swt telah menentukan seseorang atau sekelompok orang sebagai perantara, seperti para nabi.

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آَبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَذَا إِلَّا إِفْكٌ مُفْتَرًى وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (43)

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata, "Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu," dan mereka berkata, "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja." Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." (34: 43)

Menyusul ayat-ayat sebelumnya mengenai pengingkaran Hari Kiamat oleh orang-orang kafir, ayat-ayat ini menunjukkan pengingkaran ayat-ayat al-Quran di dunia, dan menyebutkan: karena terpengaruh fanatisme terhadap kepercayaan nenek moyang mereka, mereka tidak hanya peduli dengan logika al-Quran dan ajaran Nabi, dan karena ajaran al-Quran bertentangan dengan ajaran nenek moyang mereka, mereka menolak al-Quran dan tidak menerimanya.

Klaim kedua oleh orang-orang musyrik tentang al-Quran adalah bahwa ayat-ayat ini bukanlah firman Allah Swt, namun ucapan manusia yang dengan bohong menisbatkannya kepada Tuhan.

Fitnah ketiga para penyembah berhala adalah bahwa jika orang-orang tertarik pada al-Quran dan menerima ucapan sang nabi, itu dikarenakan kekuatan sihir kata-kata dan penjelasannya, dan tidak datang dari Tuhan.

Wajar bahwa ketiga tuduhan oleh kaum musyrik dan kafir yang dijelaskan al-Quran ini adalah ungkapan para penyembah berhala dan orang-orang kafir sepanjang sejarah, terkadang hanya satu di antaranya atau dua, dan bahkan ketiganya dilontarkan menentang para nabi.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Melestarikan warisan nenek moyang berhubungan dengan peninggalan sejarah kuno, bukan dalam rangka melestarikan dan mempromosikan keyakinan dan perilaku keliru mereka atau meniru buta adat nenek moyang mereka, serta terhambat dari kemajuan, pertumbuhan dan kemakmuran masyarakat.

2. Para nabi di antara manusia benar-benar jujur dan benar, dan mereka tidak pernah berbohong dan tidak berkata buruk kepada orang lain, apalagi menulis sebuah kitab kemudian dengan bohong menisbatkannya kepada Tuhan.

3. Sihir, membutuhkan pelatihan dari para guru yang berpengalaman dan tentunya dapat dibatalkan oleh penyihir lain yang lebih berpengalaman. Sementara para nabi tidak belajar sihir dari penyihir mana pun. Mereka ditugaskan oleh Allah Swt untuk mengarahkan umat manusia ke jalan yang benar dan hanya menyampaikan kebenaran firman Allah Swt.

وَمَا آَتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ (44) وَكَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوا مِعْشَارَ مَا آَتَيْنَاهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِي فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ (45)

Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun. (34: 44)

Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan sedang orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu lalu mereka mendustakan rasul-rasul-Ku. Maka alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku. (34: 45)

Sebagai tanggapan terhadap fitnah orang-orang kafir terhadap nabi dan kitab al-Quran disebutkan, sebelum itu, tidak ada nabi yang datang kepada orang-orang Quraish, juga tidak ada kitab samawi yang diturunkan kepada mereka, sehingga mereka dapat bersandar kepadanya untuk menolak al-Quran, serta menuding nabi sebagai penyihir dan pembohong.

Jika sebelumnya telah diturunkan Nabi yang membawa kitab dan kalian melihat ajaran Nabi Islam dan kitabnya bertentangan dengan ajaran para nabi sebelumnya dan kitab sucinya, kalian akan menilainya batil. Tapi kalian tidak tidak mengenal wahyu ilahi, atas dasar apa kalian menuding ayat-ayat al-Quran sebagai ucapan Nabi dan menuduhnya?

Ayat itu selanjutnya menyebutkan, “Bagaimana orang-orang musyrik Mekah melawan Nabi Muhammad Saw, sementara kekuatan mereka tidak mencapai sepersepuluh dari kekuatan kaum-kaum yang telah kami binasakan.”

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Penafian dan pembukti urusan agama harus didokumentasikan dalam teks dan sunnah para nabi, dan tidak dapat dinilai berdasarkan ilmu dan akal manusia serta ditolak dengan bersandarkan pada ilmu pengetahuan manusia.

2. Kekayaan dan kekuatan musuh-musuh agama sangat sepele dalam menghadapi kekuatan ilahi. Maka kekuatan mereka tidak perlu dikhawatirkan, melainkan harus berdiri tegas dan teguh dengan bertawakal kepada Allah Swt.

3. Sejarah nenek moyang adalah cermin bagi masyarakat masa kini dan masa depan agar tidak bangga dengan kekuatan mereka dan tidak melawan agama Allah. Betapa banyak kaum dan peradaban besar yang hancur karena mengingkari kebenaran.