May 08, 2018 13:38 Asia/Jakarta

Surat Saba ayat 46-47.

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ (46)

Katakanlah, “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (34: 46)

Ayat ini dan selanjutnya merupakan perintah Allah Swt kepada nabi-Nya untuk menjelaskan metode dakwahnya sacara transparan kepada masyarakat. Sebagai poin pertama, ayat ini menyatakan, “Wahai Nabi! Katakan kepada manusia bahwa seruanku untuk memperbaiki kalian dan masyarakat, jika kalian ingin selamat dari dosa dan perbuatan buruk, serta terhindar dari azab perbuatan dosa kalian, maka kalian harus bangkit memperbaiki diri dan masyarakat kalian. Kebangkitan ini harus bermotif Ilahi dan iman, bukannya karena materi dan hal duniawi.”

Jika kalian serius dan dengan tujuan Ilahi telah siap, maka sebelum melangkah lebih lanjut, maka perbaikilah keyakinan kalian dengan ideologi dan pemikiran. Dalam hal ini berpikirlah apa tujuan Tuhan menciptakan kalian dan apa yang diharapkan dari kalian? Pikirkanlah apa tujuan Tuhan mengirim para nabi-Nya bagi kalian? Dan juga berpikirlah dengan baik nasib dan akhir kalian.

Jika sedikit saja kalian mau berpikir, maka kalian akan menyadari bahwa Tuhan mengirim para nabi untuk memberi hidayah dan menuntun manusia. Ia ingin memperingatkan manusia untuk tidak melakukan perbuatan buruk. Lantas bagaimana orang yang menyeru manusia untuk berpikir, dirinya sendiri dikatakan gila seperti yang dituding para penentang nabi? Apakah orang yang memberi peringatan kepada Saya dan kalian atas bahaya besar yang tidak kita sadari adalah orang gila? Padahal ia mengenal dengan baik bahaya tersebut.

Selama proses memberbaiki masyarakat, kita tidak boleh menunggu orang lain dan mengatakan, hanya dengan satu bunga, musim semi tidak akan muncul musim semi, atau mayoritas masyarakat melakukan kesalahan, maka apa yang bisa kita lakukan? Kita harus berusaha memberbaiki masyarakat  dan diri kita dengan berkelompok dan jika tidak bisa, setiap individu harus berusaha melakukannya. Ketidakpedulian orang lain dalam hal ini jangan sampai menghalangi kita melakukan kewajiban tersebut.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sebuah pekerjaan tidak akan tuntas dan sukses hanya dengan duduk dan berbicara. Seseorang harus bangkit dan bekerja untuk mensukseskannya, tapi dengan niat untuk Allah (ikhlas).

2. Kuantitas untuk pekerjaan demi Allah tidak berpengaruh, tapi yang terpenting adalah kualitas dan niat ikhlas.

3. Nabi Muhammad hidup di tengah masyarakat selama bertahun-tahun. Seluruh masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang jujur, berakal dan amanah serta tidak ada kekurangan dikepribadiannya. Meski demikian, ketika Nabi Muhamad memperingatkan kaum musyrik akan akibat perbuatan buruk mereka, nabi malah dituduh gila.

قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (47)

Katakanlah, “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (34: 47)

Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya terkait perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad untuk menjelaskan metode dakwahnya kepada masyarakat dan menyatakan, “Saya tidak memiliki motivasi materi dalam menyeru kalian ke jalah Tuhan dan peringatan akan datangnya Hari Kiamat. Aku juga tidak mengharapkan apapun dari kalian. Pahala saya akan diberikan Tuhan.”

Apa yang aku minta dari kalian, maka kerjakanlah. Manfaatnya milik kalian sendiri, bukan untuk Saya. Jika kalian menyangka aku meminta sesuatu kepada kalian, maka itupun demi kalian! Jika aku minta upah dari kalian, misalnya cintailah Ahlul Baitku, maka itu karena manfaatnya juga kembali kepada kalian. Mengikuti Ahlul Bait Nabi, maka kalian akan menemukan jalan yang lurus dan tidak akan tersesat.

Ini tak ubahnya seperti seorang guru yang berkata kepada muridnya, pelajarilah dengan baik apa yang telah aku ajarkan dan setelah saya, pergilah kepada murid-murid saya. Manfaat dua permintaan ini pastinya kembali kepada murid tersebut, bukan kepada guru. Seluruh nabi sepanjang sejarah seperti seorang guru yang penyayang, yang menunjukkan kehidupan yang benar kepada masyarakat serta tidak meminta upah dan pahala dari manusia.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para mubalig tidak harus mengharapkan harta dan upah dari masyarakat. Mereka juga harus menunjukkan sikapnya tersebut dan membimbing masyarakat atas dasar kewajiban yang dimilikinya.

2. Setelah memilih jalan Tuhan dan mengamalkan ajaran agama, kita jangan merasa sebagai kreditur terhadap Tuhan dan Nabi, karena apa yang kita lakukan, manfaatnya kembali kepada kita sendiri dan tidak ada faedahnya bagi Tuhan atau nabi.

3. Jika Tuhan menjadi saksi atas amal perbuatan kita, lantas mengapa kita sakit hati atas ucapan dan tudingan tak benar sejumlah orang dan mundur dari tugas kita membimbing masyarakat?