May 08, 2018 13:41 Asia/Jakarta

Surat Saba ayat 48-54.

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (48) قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ (49)

Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.” (34: 48)

Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (34: 49)

Dalam lanjutan ayat-ayat sebelumnya disebutkan soal kebenaran misi Nabi Muhammad Saw, dan ayat-ayat ini menyebutkan, “Tuhan Yang Maha Mengetahui kondisi batin semua orang dan siapa yang berhak menerima wahyu ilahi.” Oleh karena itu, Dia telah memilih Nabi sebagai utusannya, dan mengirimkan ayat-ayat ilahi yang semuanya berdasarkan kebenaran, ke dalam hatinya untuk disampaikan kepada masyarakat.

Dengan datangnya nabi dan penyampaian misi, kebenaran telah disampaikan kepada masyarakat dan menjadi jelas bahwa selain seruan kepada Allah Swt adalah batil dan bahwa siapapun dan apapun yang diperkenalkan kepada masyarakat menggantikan Allah Swt, sesungguhnya tidak punya kekuatan untuk menciptakan sesuatu dan mengembalikan apa yang telah sirna. Kekufuran dan kemusyrikan adalah jalan batil yang berada di hadapan kebenaran, serta tidak memiliki kekuatan bertahan dan kelanggengan. Tentu saja selama kebenaran tidak disampaikan kepada masyarakat, kebatilan akan berkuasa dan berusaha mengesankan dirinya kuat dan abadi. Akan tetapi usia kebatilan itu pendek, dan lebih cepat sirna dari yang dibayangkan.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Tuhan adalah kebenaran dan apapun yang ada pada-Nya adalah benar. Parameter kebenaran dan kebatilan adalah janji dan tindakan Allah Swt.

2. Kebenaran akan mengalahkan kebatilan dan secara keseluruhan kebatilan tidak dapat berbuat apapun.

3. Dimulainya dan bergeraknya dunia ada di tangan Tuhan, dan selama itu, kebatilan memiliki pergerakan, namun tetap dengan mudah lenyap seperti air yang menguap di atas lantai.

قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ (50)

Katakanlah, “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (34: 50)

Pada ayat ini, Tuhan memerintahkan Nabi untuk menyampaikan kepada masyarakat, bahkan jika dia adalah Nabi Allah, dia telah menerima petunjuk melalui wahyu ilahi, dan jika tidak ada wahyu ilahi, dia juga sesat seperti orang lain.

Jelas bahwa logika merupakan hujjah Allah Swt bagi kita. Tapi jika tidak ada petunjuk wahyu, maka akal juga bisa salah memilih banyak jalan, dalam membedakan antara yang benar dan salah.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Efek dan konsekuensi kesesatan atau hidayah manusia, kembali kepada manusia sendiri sebelum berdampak kepada orang lain.

2. Allah Swt, yang menciptakan manusia, mengetahui berbagai keadaan dan kebutuhannya, dan tidak ada jarak antara Dia dan makhluk-Nya.

وَلَوْ تَرَى إِذْ فَزِعُوا فَلَا فَوْتَ وَأُخِذُوا مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ (51) وَقَالُوا آَمَنَّا بِهِ وَأَنَّى لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ (52)

Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka). (34: 51)

Dan (di waktu itu) mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah,” bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. (34: 52)

Dalam ayat-ayat ini, dan ayat-ayat terakhir surat al-Saba', Allah Swt memberitahu Nabi-Nya dan orang-orang beriman bahwa mereka yang tidak meyakini al-Quran dan Hari Kebangkitan serta menolak menerima kebenaran, pada satu hari kelak mereka akan berteriak keras, merengek dan menangis, akan tetapi tidak berguna lagi. Mereka pada hari itu menyatakan beriman, akan tetapi iman tanpa amal tiada artinya. Karena iman itu dikemukakan setelah menyaksikan azab hari kiamat. Karena iman harus didapat dengan ikhtiar dan kesadaran, bukan karena rasa takut dan paksaan.

Di dunia dan akhirat, tidak ada pelaku kejahatan yang mampu melepaskan diri dari kekuasaan Tuhan; sama seperti Allah Swt dekat dengan semua manusia, kasih dan murka-Nya juga dekat untuk hamba-hamba saleh dan munkar, baik itu dari sisi tempat atau waktu.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Taubat dan berpaling dari pikiran dan perbuatan menyimpang dapat dilakukan di dunia, namun di akhirat, tidak ada lagi jalan untuk kembali.

2. Tentu, setiap orang kafir akan beriman dengan menyaksikan azab dan merasakan bahaya, tapi iman yang mulia dan bernilai adalah yang dicapai dengan kesadaran, bukan karena ketakutan dan paksaan.

3. Kasih sayang dan kemurkaan Allah Swt tidak jauh, kapan pun Allah Swt berkehendak dapat terwujud di setiap tempat dan waktu.

وَقَدْ كَفَرُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ (53) وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُرِيبٍ (54)

Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. (34: 53)

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam. (34: 54)

Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya, dua ayat ini menyebutkan, mereka yang sekarang percaya akan azab Ilahi, ketika mereka hidup di dunia, menolak kebenaran al-Quran dan pesan Nabi. Mereka melepaskan anak panah dalam kegelapan, dan menolak alam ghaib yang tidak kasat mata, termasuk asal penciptaan dan Hari Kiamat. Nabi juga dituduh bertindak gila atau melakukan sihir serta menolak untuk merenungkan kata-kata dan perilakunya.

Para pendusta Hari Kiamat selalu memikirkan kesenangan dan hawa nafsu mereka dan karena itu menolak mengikuti seruan para nabi. Tapi ini tidak akan berlangsung selamanya, dan kematian akan memisahkan mereka dan keinginan mereka, sama seperti orang-orang kafir dan munkar sebelum mereka yang banyak gagal mencapai keinginan mereka dan mati.

Di ayat terakhir surat al-Saba' ini disebutkan, akar penyebab semua masalah ini adalah keraguan yang tidak pada tempatnya. Keraguan adalah hal alami bagi semua manusia di semua bidang, namun harus ditangani dengan penelitian dan perenungan hingga mencapai kepastian. Hanya karena ragu apakah orang ini adalah Nabi Allah dan ucapannya adalah wahyu, tidak dapat diterima dalam berdalih di hadapan Tuhan. Karena manusia dapat menyelesaikannya dengan pemikiran, pencarian dan perenungan.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kekufuran dan penafian awal penciptaan dan hari kiamat tidak memiliki dasar ilmiah dan rasional, namun keraguan yang tidak berdasar, seperti melepaskan anak panah dalam kegelapan.

2. Kelezatan dan hawa nafsu dunia adalah fana, kita harus memikirkan kenikmatan abadi di akhirat.

3. Sekali untuk selamanya, kita harus mengklarifikasi kewajiban kita di hadapan kebenaran al-Quran dan Hari Kiamat, sehingga sampai akhir hayat, kita tidak terombang-ambing oleh keraguan.