Jul 02, 2018 12:19 Asia/Jakarta

Surat Fatir Ayat 1-2

Dengan berkhirnya pembahasan surat Saba, kita sampai pada surat Fatir. Surat ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 45 ayat. Di ayat pertama Allah Swt disebut sebagai Fatir yakni sang Pencipta. Dengan demikian surat ini dikenal dengan nama surat Fatir.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1)

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (35: 1)

Surat ini seperti surat-surat lainnya di al-Quran seperti surat al-Fatihah didahului dengan puja pujian kepada Allah Swt. Pujian ini karena seluruh alam wujud dengan seluruh keagungannya di langit dan bumi, semuanya diciptakan oleh-Nya. Namun begitu pengaturannya ditangani melalui para malaikat yang juga ciptaan Allah Swt.

Mengingat setiap malaikat memiliki tugas dan kemampuan serta kekuatan mereka beragam, maka al-Quran menyebutkan mereka memiliki dua sayap, tiga sayap,dan empat sayap. Sepertinya hal ini untuk menjelaskan kapasitas dan derajat para malaikat.

Jelas bahwa malaikat bukan makhluk materi, sehingga kepemilikan sayap tidak ada maknanya bagi mereka. Namun begitu, sayap yang dimiliki oleh malaikat adalah penjelasan untuk mendekatkan pemahaman manusia akan eksistensi dan kedudukan para malaikat, sama seperti kata arsy dan kursi yang ada di al-Quran.

Ayat ini setelah mengisyaratkan malaikat, menekankan poin bahwa jangan dianggap Tuhan setelah menciptakan alam semesta kemudian melepaskannya dan tidak mengurusnya. Tapi hal ini akan terus berlangsung dan kapan saja Ia ingin menciptakan sesuatu maka hal itu akan terjadi serta penciptaan Allah tidak akan berakhir, karena kekusaan-Nya senantiasa kekal.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Allah Swt meletakkan sistem penciptaan berdasarkan sebab akibat. Meskipun kekuasaan-Nya mutlak, namun pengurusan alam semesta diserahkan kepada para malaikat.

2. Pintu penciptaan Allah terbuka dan alam semesta terus berkembang.

3. Tugas dan misi para malaikat berbeda. Mereka juga memiliki misi menyebarkan ajaran Ilahi dan memberikan bimbingan maknawi, begitu juga dengan risalah takwini.

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (2)

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (35: 2)

Ayat sebelumnya berbicara tentang penciptaan Allah Swt, sementara ayat ini membicarakan rahmat Ilahi. Rahmat yang menjadi asas penciptaan dan setelah penciptaan pun, setiap makhluk membutuhkan rahmat tersebut. Kehidupan dan rizki yang menjadi keharusan dari eksisnya setiap makhluk akan diberikan berdasarkan rahmat-Nya. Ketika rahmat ini dicabut dari seseorang, tidak ada yang mampu menggantinya.

Rahmat tidak hanya berarti kasih sayang yang merupakan konsep emosional. Tapi seluruh anugerah dan nikmat Ilahi juga termasuk rahmat. Apa saja yang diperoleh manusia adalah rahmat Ilahi, baik itu sesuatu yang bersifat materi atau maknawi, takwini atau tasyri'i.

Akhir dari ayat ini berbicara mengenai dua sifat Ilahi. Pertama kekuasaan mutlak  dan kedua hikmah Ilahi yang luas. Hal ini karena seluruh perbuatan Ilahi berdasarkan kekuasaan serta dalam koridor hikmah dan maslahat. Kapanpun dan di manapun, ketika ada maslahat, maka Allah Swt dengan kekuasaan-Nya akan menciptakan dan jika sebaliknya serta meski seluruh dunia menginginkannya, maka hal itu tidak akan terjadi.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Rahmat Ilahi lebih dahulu dari kemarahan-Nya. Prinsip utama adalah rahmat, kecuali manusia sendiri yang menutup pintu rahmat bagi dirinya.

2. Kekuasaan dan kehendak Allah sesuai dengan rahmat-Nya. Jika Allah tidak mengerjakan sesuatu, maka hal ini bukan berarti Ia lemah dan tidak mampu, tapi karena hikmah-Nya tidak menuntut hal itu.