Jul 02, 2018 12:23 Asia/Jakarta

Surat Fatir ayat 3-6

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (3) وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ (4)

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (35: 3)

Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan) maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (35: 4)

Pada pertemuan sebelumnya disinggung tentang rahmat Ilahi, sementara kedua ayat di atas menjelaskan tentang keesaan Tuhan dalam penciptaan dan pemberian rezeki. Allah Swt berfirman, seluruh nikmat materi dan non-materi yang diberikan kepadamu baik dari langit maupun bumi, berasal dari Tuhan yang Esa.

Tuhanlah yang menciptakanmu dan Dia juga yang memberimu rezeki. Penciptaan tidak dilakukan oleh satu Tuhan dan pemberian rezeki oleh Tuhan yang lain atau wujud lain yang merupakan makhluk-Nya. Kecuali Dia, tidak ada pencipta yang lain, tidak ada pemberi rezeki yang lain. Oleh karena itu barangsiapa yang berharap mendapatkan rezeki selain dari-Nya, maka ia sudah tersesat.

Dalam kelanjutan ayat ini Nabi Muhammad Saw dan Muslimin diingatkan, jika orang-orang kafir dan musyrikin mendustakan ajaran Islam dan tidak mau menerima kebenaran, maka janganlah engkau ragu atas kebenaran jalanmu. Teguh dan berdiri tegaklah di jalan kalian, ketahuilah hanya kepada Allah Swt dikembalikan segala urusan. Ia akan membalas kekufuran dan pengingkaran mereka, sebagaimana juga memberikan pahala atas keimanan dan kesabaran kalian.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Memperhatikan nikmat Ilahi adalah jalan untuk mengenal Tuhan dan menjauhi kekufuran serta syirik.

2. Sekalipun Allah Swt adalah maha pemberi rezeki, namun Ia memberikan rezeki kepada manusia melalui perantara sebab-sebab alami yang diciptakan-Nya sendiri.

3. Mempelajari pengalaman orang-orang terdahulu, dapat memperteguh sikap dan kesabaran manusia di jalan kebenaran, dan membuatnya tidak gentar menghadapi kekuatan batil yang tampak secara lahir.

4. Memusatkan perhatian pada Hari Akhir atau Maad membuat manusia kuat dan bertahan dalam menghadapi berbagai kesulitan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5)

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (35: 5)

Ayat 3 dan 4 Surat Fatir menjelaskan tentang keesaan Tuhan dalam penciptaan dan pemberian rezeki, juga menyinggung tentang kenabian. Pada ayat berikutnya, diterangkan tentang janji-janji Allah Swt tentang hari kiamat. Allah Swt berfirman, apa yang telah dijanjikan tentang perhitungan di pengadilan hari kiamat, begitu juga tentang surga dan neraka bagi orang-orang yang beramal baik dan buruk, semuanya adalah kebenaran dan hakikat. Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai kenikmatan dunia melalaikanmu dari akhirat dan jangan sampai godaan setan tentang  rahmat, kemurahan dan maha pengampunnya Tuhan, mendorong kamu melakukan dosa.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Salah satu tipu daya setan terhadap manusia untuk melakukan dosa adalah menghembuskan harapan kepadanya tentang pengampunan Ilahi, padahal syarat pengampunan Tuhan adalah pertobatan dan penyesalan atas dosa, bukan mendekati dosa.

2. Jika setan menipu orang-orang kafir dengan kenikmatan dan kesenangan dunia, ia menggoda orang Mukmin dengan harapan dan pengampunan dosa dari Tuhan.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (6)

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (35: 6)

Kelanjutan dari ayat sebelumnya, ayat ke-6 Surat Fatir memperingatkan seluruh manusia terutama orang-orang Mukmin bahwa setan sejak awal penciptaan sudah memusuhi manusia dan tidak mau bersujud kepadanya. Setan yang terusir dari sisi Tuhan karena membangkang, bersumpah akan menyesatkan manusia hingga akhir zaman. Karena itu, kalianpun harus menganggapnya sebagai musuh dan mengabaikan godaannya.

Kelanjutan ayat ini menjelaskan, setan tidak bisa menguasaimu dan memaksamu melakukan dosa, setan hanya bisa mempengaruhi orang-orang yang memang ingin mengikutinya dan bersedia masuk dalam barisannya. Jelas bahwa akibat bagi orang-orang semacam ini adalah neraka dan ia akan dilemparkan ke neraka jahanam bersama setan.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Jangan hanya memperhatikan musuh-musuh kekayaan, nyawa dan kehormatan tanah air kita saja, meski masalah ini penting, tapi kita juga harus memikirkan musuh keimanan dan akhlak kita. Pasalnya, jika lalai, setan akan menjerumuskan kita dalam dosa dan kesesatan.

2. Jika kita keluar dari makna Hizbullah dalam arti luas yang meliputi seluruh Mukmin hakiki, maka kita akan masuk ke dalam Hizbu Syaithan dan berada di jalan yang sulit untuk keluar dan ujungnya adalah azab Tuhan.