Jul 02, 2018 12:28 Asia/Jakarta

Surat Fatir ayat 7-8

الَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ (7)

Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (35: 7)

Di pembahasan sebelumnya kita telah mengkaji bersama permusuhan syaitan kepada manusia dan bahaya bagi manusia yang bergabung dengan kelompok syaitan. Ayat ini menyatakan, kekufuran dan penginkaran terhadap kebenaran membuka peluang bagi hegemoni syaitan terhadap manusia serta menciptakan akhir buruk bagi manusia. Namun jika manusia beriman dan beramal saleh, bahkan jika mereka tergelincir bujukan syaitan dan berbuat kesalahan, Allah Swt akan mengampuni dosanya.

Jelas bahwa iman tanpa amal bukan sebuah keimanan sejati serta tidak akan menciptakan efek pahala. Tapi kekufuran dengan sendirinya mendorong manusia jauh dari surga, karena ketika manusia meniti jalan yang salah, maka ia tidak akan pernah sampai pada tujuan. Bahkan jika ia menggunakan kendaraan paling mewah dan terbaik.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Berpikir akan dampak sebuah perbuatan, sangat berpengaruh bagi  kebahagiaan seseorang, karena perbuatan manusia tidak berakhir hanya dengan kematian. Manusia yang berakal senantiasa memikirkan masa depan.

2. Selama dosa manusia belum terampuni, maka peluang untuk masuk ke surga dan mendapat pahala tidak akan terbuka. Manusia tidak akan masuk ke surga, jika masih bergelimang dengan dosa, karena surga bukan tempat orang-orang yang berlumuran dosa.

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (8)

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (35: 8)

Melanjutkan ayat sebelumnya yang menjelaskan akibat dua kelompok, mukmin dan kafir, ayat ini menyatakan, semangat kekufuran dan pengingkaran mendorong manusia melihat perbuatan buruk sebagal hal yang indah dan mereka tidak dapat memahami realita. Selain tidak bersedia memperbaiki pola pikirnya, manusia seperti ini juga menolak segala bentuk nasihat.

Orang-orang kafir karena menolak keberadaan Tuhan, maka ia mengukur segala sesuatu dengan dirinya dan wajar jika hawa nafsu manusia mencitrakan sejumlah pekerjaan buruk seolah-olah indah demi meraih kelezatan dan syahwat yang cepat berlalu. Sementara orang mukmin menjadikan ajaran Ilahi sebagai tolok ukur perbuatannya dan menahan hawa nafsunya.

Wajar jika kekufuran dan mengikuti hawa nafsu membuat manusia menolak hidayah Ilahi dan membuatnya tidak taat. Sementara iman kepada Tuhan membuka peluang hidayah bagi manusia dan membawa manusia ke jalan yang lurus.

Akhir ayat ini merekomendasikan Nabi serta seluruh umat Muslim untuk tidak sedih dan menyesalkan kondisi mereka yang menolak ucapan kebenaran, apalagi menerimanya. Hal ini karena Tuhan yang akan mengurus mereka serta Tuhan mengetahui batin dan zahir mereka.

Sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw sangat penyayang dalam memberi hidayah kepada manusia. Al-Quran saat mensifati Rasulullah menyatakan, Ia sangat bersemangat memberi hidayah manusia dan penyayang terhadap mukminin. Oleh karena itu, maksud dari ayat ini bukan berarti janganlah kamu menyesalkan kesesatan manusia dan jangan sedih, tapi penyesalan dan kesedihan tidak akan mencegah upaya kita dan kita tidak akan putus asa serta jangan anggap dakwah kita tidak berpengaruh.

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Salah satu bahaya hawa nafsu adalah menghiasi hal-hal buruk menjadi indah dan menjustifikasi kesalahan manusia. Artinya manusia pertama-tama menjustifikasi perbuatan dosa dan kemudian melakukannya.

2. Kebaikan dan keburukan harus diukur dengan tolok ukur yang kuat akal serta wahyu, bukan keinginan hati.

3. Allah Swt menjadikan perbuatan dosa sebagai faktor kesesatan. Kesesatan dan penyimpangan ini akibat dari perbuatan manusia sendiri. Orang kafir memilih jalan sesat atas dasar kesombongan dan keras kepala dah hasilnya adalah kesesatan yang semakin dalam.

4. Kita harus semangat dan rakus dalam memberi hidayah manusia dan menyesalkan penyimpangan mereka. Namun begitu penyesalan ini harus ada batasnya.